Senin, 13 Juni 2011

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Filsafat ialah satu disiplin ilmiah yang mengusahakan kebenaran yang bersifat umum dan mendasar. Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani “philosophia”, yang berarti love of wisdom atau mencintai kebenaran. Empat hal yang melahirkan filsafat yaitu ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya dan keraguan. Ketakjuban terhadap segala sesuatu (terlihat/tidak) dan dapat diamati (dengan mata dan akal budi) serta ketidakpuasan akan penjelasan berdasarkan mitos membuat manusia mencari penjelasan yang lebih meyakinkan dan berpikir rasional. Hasrat bertanya membuat manusia terus mempertanyakan segalanya, tentang wujud sesuatu serta dasar dan hakikatnya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk memperoleh penjelasan yang lebih pasti menunjukkan adanya keraguan (ketidakpastian) dan kebingungan pada manusia yang bertanya.
Ciri berpikir secara filsafati adalah radikal (berpikir tuntas, atau mendalam sampai ke akar masalah); sistematis (berfikir logis dan terarah, setahap demi setahap); dan universal (berpikir umum dan menyeluruh, tidak terbatas pada bagian-bagian tertentu, tetapi melihat masalah secara utuh) dan ranah makna (memikirkan makna terdalam berupa nilai kebenaran, keindahan dan kebaikan). Dalam filsafat, digunakan nalar dan pernyataan-pernyataan untuk menemukan kebenaran dan pengetahuan akan fakta. Ketika menyelesaikan masalah secara falsafah, seseorang tidak harus merujuk pada sumber lain tapi hendaknya bisa menjawab masalah yang dipikirkannya menggunakan akal budinya, dengan pikiran yang bebas. Jika seseorang berfikir sangat dalam ketika menghadapi suatu masalah dalam hubungannya dengan kebenaran, maka orang itu dapat dikatakan telah berpikir secara filsafati dan kajian yang tersusun oleh pemikirannya itu disebut falsafah.
Objek material dari suatu kajian filsafat adalah segala yang ada mencakup apa yang tampak (dunia empiris) dan apa yang tidak tampak (dunia metafisik) sementara objek formalnya adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal dan rasional tentang segala yang ada (objek material). Suatu masalah akan menjadi masalah falsafah jika masalah tersebut tidak bisa diselesaikan dengan kaidah pengamatan atau kaidah sains.
Masalah falsafah biasanya melibatkan masalah tentang konsep, ideologi, dan masalah-masalah lain yang bersifat abstrak, contohnya apakah kebenaran? Apakah ilmu pengetahuan? Berpikir filsafati biasanya bertujuan untuk mencari jawaban atas masalah yang sifatnya baik dan bisa memajukan umat manusia. Sains berarti ilmu, yaitu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu dan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan. Cakupan objek filsafat lebih luas dibandingkan ilmu. Jika ilmu terbatas hanya pada persoalan empiris, maka filsafat mencakup masalah diluar empiris.
Secara historis, ilmu berasal dari kajian filsafat karena pada awalnya filsafatlah yang melakukan pembahasan tentang segala yang ada secara sistematis, rasional dan logis. Filsafat merupakan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Perkembangan kajian terkait dengan masalah empiris menimbulkan spesi-alisasi keilmuan dan menghasilkan kegunaan praktis. Sehingga, filsafat sains me-rupakan disiplin ilmu yang digunakan sebagai kerangka dasar/landasan berpikir bagi proses keilmuan. Seorang ilmuwan yang mampu berfikir filsafati, diharapkan bisa mendalami unsur-unsur pokok dari ilmu yang ditekuninya secara menyeluruh sehingga bisa memahami sumber, hakikat dan tujuan dari ilmu yang dikembang-kannya, termasuk manfaatnya bagi pengembangan masyarakatnya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas didapatkan rumusan masalahnya adalah:
1. Apa itu pengertian filsafat pendidikan?
2. Siapa saja subjek/ Obyek Filsafat Pendidikan?
3. Bagaimana ruang Lingkup Filsafat?
4. Bagaimana pentingnya filsafat bagi manusia?





C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan penulisan dari pada makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian filsafat pendidikan
2. Mengetahui apa saja subjek/ Obyek Filsafat Pendidikan
3. Mengetahui ruang Lingkup Filsafat?
4. Sebagai sumbangan bagi pendidikan, baik untuk pendidik maupun peserta didik
5. Sebagai pelengkap tugas akhir mata kuliah Filsafat Pendidikan























BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Filsafat Pendidikan
Pandangan filsafat pendidikan sama dengan perananya merupakan landasan filosofis yang menjiwai seluruk kebijaksanaan pelaksanaan pendidikan. Dimana landasan filsofis merupakan landasan yang berdasarkan atas filsafat. Landasan filsafat menalaah sesuatu secara radikal, menyeluruh, dan konseptual tentang religi dan etika yang bertumpu pada penalaran. Oleh karena itu antara filsafat dengan pendidikan sangat erat kaitannya, dimana filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarkaat sedangkan pendidikan berusahan mewujudkan citra tersebut.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
Filsafat mengadakan tinjauan yang luas mengani realita, maka dikupaslan antara lain pandangan dunia dan pandangan hidup. Konsep-konsep mengenai ini dapat menjadi landasan penyusunan konsep tujuan dan metodologi pendidik. Disamping itu, pengalaman pendidik dalam menuntut pertumbuhan danperkembangan anak akan berhubungan dan berkenalan dengan realita. Semuanya itu dapat disampaikan kepada flsafat untuk dijadikan bahan-bahan pertimbangan dan tinjauan untuk memperkembangkan diri. Hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Filsafat mempuyai objek lebih luas, sifatnya universal. Sedangkan filsafat pendidikan objeknya terbatas dalam dunia filsafat pendidikan saja
2. Filsafat hendak memberikan pengetahuan/ pendiidkan atau pemahaman yang lebih mendalam dan menunjukkan sebab-sebab, tetapi yang tak begitu mendalam
3. Filsafat memberikan sintesis kepada filsafat pendidikan yang khusus, mempersatukan dan mengkoordinasikannya
4. Lapangan filsafat mungkin sama dengan lapangan filsafat pendidikan tetapi sudut pandangannya berlainan
Dalam menerapkan filsafat pendidikan, seorang guru sebagai pendidik mengharapkan dan mempunyai hak bahwa ahli-ahli filsafat pendidikan menunjukkan dirinya pada masalah pendidikan pada umumnya serta bagaimana masalah itu mengganggu persekolahan yang menyangkut masalah perumusan tujuan, kurkulum, organisasi sekolah dan sebagainya. Dan para pendidik juga mengaharapkan dari ahli filsafat pendidikan suatu klasifikasi dari uraian lebih lanjut dari konsep, argumen dirinya literatur pendidikan terutama dalam kotraversi pendidikan sistem-sistem, pengjuian kopetensi minimal dan kesamaan kesepakatan pendidikan.
Brubacher (1950) mengemukakan tentang hubungan antara filsafat dengan filsafat pendidikan, dalam hal ini pendidikan : bahwa filsafat tidak hanya melahirkan sains atau pengetahuan baru, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Filsafat merupakan kegiatan berpikir manusia yang berusaha untuk mencapai kebijakan dankearifan. Sedangkan filsafat pendidikan merupakan ilmu ayng pad ahakekantya jawab dari pertanyaa-pertanyaan yagn timbul dalam lapangan pendidkan. Oleh karen aberisfat filosofis, dengan sendirinya filsafat pendidikan ini hakekatnya adalah penerapan dari suatu analisa filosofis terhadap lapangan pendidikan.

B. Subjek/ Obyek Filsafat Pendidikan
Subjek filsfat adalah seseroang yang berfikir/ memikirkan hakekat sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Seperti halnya pengetahuan, Maka filsafatpun (sudut pandangannya) ada beberapa objek yang dikaji oleh filsafat
a). Obyek material yaitu segala sesuatu yang realitas
1. Ada yang harus ada, disebut dengan absoluth/ mutlak yaitu Tuhan Pencipta
2. Ada yang tidak harus ada, disebut dengan yang tidak mutlak, ada yang relatif (nisby), bersifat tidak kekal yaitu ada yang diciptakan oleh ada yang mutlak (Tuhan Pencipta alam semesta)
b). Obyek Formal/ Sudut pandangan
Filsafat itu dapat dikatakan bersifat non-pragmentaris, karena filsafat mencari pengertian realitas secara luas dan mendalam. Sebagai konsekuensi pemikiran ini, maka seluruh pengalaman-pengalaman manusia dalam semua instansi yaitu etika, estetika, teknik, ekonomi, sosial, budaya, religius dan lain-lain haruslah dibawa kepada filsafat dalam pengertian realita.
 Menurut Prof Dr. M. J. Langeveld : “……bahwa hakikat filsafat itu berpangkal pada pemikiran keseluruhan sarwa sekalian scara radikan dan menurut sistem”.
1. Maka keseluruhan sarwa sekalian itu ada. Ia adalah pokok dari yang dipikirkan orang dalam filsafat
2. Ada pula pikiran itu sendiri yang terhadap dalam filsafat sebagai alat untuk memikirkan pokoknya
3. Pemikiran itupun adalah bahagian daripada keseluruhan, jadi dua kali ia teradapat dalam filsafat, sebagai alat dan sebagai keseluruhan sarwa sekalian
 Menurut Mr. D. C Mulder menulis sebagai berikut :
“Tiap-tiap manusia yang mulai berpikir tentang diri sendiri dan tentang tempatnya dalam dunia, akan mengahdapi beberapa persoalan yang begitu penting sehingga persoalan-persoalan itu boleh diberi nama persoalan-persolan pokok”.
 Louis Kattsoff mengatakan lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu apa saja yang ingin diketahui manusia.
 Dr. A. C Ewing mengatakan bahwa kebenaran, materi, budi, hubungan materi dan budi, ruang dan waktu, sebab, kemerdekaan, monisme lawan fluarlisme dan tuhan adalah termasuk pertanyaan-pertanyaan pokok filsafat

C. Ruang Lingkup Filsafat
Para ahli mengatakan bahwa ruang lingkup dari ilmu filsafat yaitu :
 Tentang hal mengerti, syarat-syaratnya dan metode-metodenya.
 Tentang ada dan tidak ada.
 Tentang alam, dunia dan seisinya.
 Menentukan apa yang baik dan apa yang buruk.
 Hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama makhluk lainnya.
 Tuhan tidak dikecualikan.
Filsafat itu erat hubungannya dengan pengetahuan biasa, tetapi mengatasinya karena dilakukan dengan cara ilmiah dan mempertanggungjawabkan jawaban-jawaban yang diberikannya.
Filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai sifat-sifat ilmu pengetahuan tapi. Akan tetapi jelaslah bahwa filsafat tidak termasuk ruangan ilmu pengetahuan yang khusus. Filsafat boleh dikatakan suatu ilmu pengetahuan, tetapi obyeknya tidak terbatas, jadi mengatasi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya merupakan bentuk ilmu pengetahuan yang tersendiri, tingkatan pengetahuan tersendiri.
Para ahli mengatakan bahwa ruang lingkup dari ilmu filsafat yaitu :
a. Tentang hal mengerti, syarat-syaratnya dan metode-metodenya.
b. Tentang ada dan tidak ada.
c. Tentang alam, dunia dan seisinya.
d. Menentukan apa yang baik dan apa yang buruk.
e. Hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama makhluk lainnya.
f. Tuhan tidak dikecualikan.
Ruang lingkup dari filsafat yaitu :
1. Tentang pengetahuan : logika yang memuat :
a). Logika formil
Yang mempelajari asas-asas atau hukum-hukun berpikir yang harus ditaati agar kita dapat berpikit dengan benar dan mencapai kebenaran. jadi bagaimana orang harus berpikir dengan baik dan aturan-aturan untuk itu. Hukum-hukum logika berlaku dan penting bagi semua ilmu pengetahuan lainnya pula, bagi filsafat merupakan alat yang harus dikuasai lebih dahulu.
b). Logika materiil kritik (epistimologi)
Yang memandang ilmu pengetahuan (materil) dan bagaimana isi ini dapat dipertanggungjawabkan. Jadi mempelajari perihal :
1. Sumber dan asal pengetahuan
2. Alat-alat pengetahuan
3. Proses terjadinya pengetahuan
4. Kemungkinan dan batas pengetahuan
5. Kebenaran dan kekeliruan
6. Metode ilmu pengetahuan dan lain-lain.
2. Tentang “ada” : metafisika atau ontology
Hal ini mengupas tentang :
1. Apakah arti ada itu?
2. Apakah kesempurnaannya ada itu?
3. Apakah tujuannya ada itu?
4. Apakah sebab dan akibat?
5. Apakah yang merupakan dasar yang terdalam dari setiap barang yang ada itu?
3. Tentang dunia material : kosmologi
Hal ini membicarakan tentang asal mula atau sumber dan susunan atau struktur dari alam semesta.
4. Tentang manusia : filsafat tentang manusia.
Orang mengetahui tentang “ada” itu dari adanya sendiri.
5. Tentang kesusilaan : etika
Manusia itu yakin dan wajib berbuat baik dan menghindarkan yang tidak baik itu menimbulkan berbagai soal, yaitu :
1. Apakah yang disebut baik itu?
2. Apakah yang buruk itu?
3. Apakah ukuran baik atau buruk itu?
4. Apakah suara batin itu?
5. Apakah kehendak bebas?
6. Apakah artinya kepribadian itu?
6. Tentang Tuhan : Theodyca
Hal inilah yang merupakan konsekuensi terakhir dari seluruh pandangan filsafat. Renungan tentang pengetahuan kita itu membuktikan bahwa manusia itu bukan sumber sari segala-segalanya, bukan sumber daripada segala pengetahuan. Singkatnya bahwa ia bukan yang mutlak, sebab itu harus dicari sumber yang terdalam dan sebab yang terakhir, yang mengatasi manusia sendiri dan dunia.


D. Pentingnya Filsafat Bagi Manusia
Filsafat mencoba memadukan hasil-hasil dari berbagai sains yang berbeda ke dalam suatu pandangan dunia yang konsisten. Filosof cenderung untuk tidak menjadi spesialis, seperti ilmuwan. Ia menganalisis benda-benda atau masalah dengan suatu pandangan yang menyeluruh. Filsafat tertarik terahdap aspek-aspek kualitatif segala sesuatu, terutama berkaitan dengan makna dan nilai-nilainya. Filsafat menolak untuk mengabaikan setiap aspek yang otentik dari pengalaman manusia.
Kita sangat memerlukan suatu ilmu yang sifatnya memberikan pengarahan/ ilmu pengarahan. Dengan ilmu tersebut, manusia akan dibekali suatu kebijaksanaan yang di dalamnya memuat nilai-nilai kehidupan yang sangat diperlukan oleh umat manusia. Hanya ilmu filsafatlah yang dapat diharapkan mampu memberi manusia suatu integrasi dalam membantu mendekatkan manusia pada nilai-nilai kehidupan untuk mengenai mana yan gpantas kita tolak, man ayang pantas kita tujui, mana yang pantas kita ambil sehinga dapat memberikan makna kehidupan. Ada beberapa pentingnya filsafat bagi manusia yaitu :
1. Dengan belajar filsafat diharapkan akan dapatmenambah ilmu pengetahuan, karena dengan bertambahnya ilmu akan bertambah pula cakrawala pemikiran dan pangangan yang semakin luas
2. Dasar semua tindakan. Sesungguhnya filsafat di dalamnya memuat ide-ide itulah yang akan membawa mansuia ke arah suatu kemampuan utnuk merentang kesadarannya dalam segala tindakannya sehingga manusia kaan dapat lebih hidup, lebih tanggap terhadap diri dan lingkungan, lebih sadar terhadap diri dan lingkungan
3. Dengan adanya perkembangan ilmu pengethauan dan teknologi kita semakin ditentang dengan kemajuan teknologi beserta dampak negatifnya, perubahan demikian cepatnya, pergeseran tata nilai, dan akhirnya kita akan semakin jauh dari tata nilai dan moral




BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Objek filsafat, objek itu dapat berwujud suatu barang atau dapat juga subjek itu sendiri contohnya si aku berfikir tentang diriku sendiri maka objeknya adalah subjek itu sendiri. Objek filsafat dapat dibedakan atas 2 hal :
1. Objek material adalah segala sesuatu atau realita, ada yang harus ada dan ada yang tidak harus ada
2. Objek formal adalah bersifat mengasaskan atau berprinsi dan oleh karena mengasas, maka filsafat itu mengkonstatis prinsip-prinsip kebenaran dan tidak kebenaran
Para ahli mengatakan bahwa ruang lingkup dari ilmu filsafat yaitu :
1. Tentang hal mengerti, syarat-syaratnya dan metode-metodenya.
2. Tentang ada dan tidak ada.
3. Tentang alam, dunia dan seisinya.
4. Menentukan apa yang baik dan apa yang buruk.
5. Hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama makhluk lainnya.
6. Tuhan tidak dikecualikan.

B. Saran
Saran yang bisa penulis berikan pada makalah ini adalah sebaiknya sebelum kita belajar filsafat pendidikan ada baiknya kita mengerti apa itu filsafat pendidikan, subjek filsafat pendidikan serta ruang lingkup filsafat itu sendiri. Agar tidak terjadi kesalahfahaman antara pendidik dan peserta didik di kemudian hari.

DAFTAR BACAAN
Bakry, Hasbullah, Sitematik Filsafat (Widjaya, Yogyakarta, 1970).
Idris, H. Sahara dan Jamal, H Lisman, Pengantar Pendidikan (Grasindo, 1992)
Sumitro, Dkk, Pengantar Ilmu Pendidikan, IKIP Yogyakarta
Murtiningsih, Siti, Pendidikan Alat Perlawanan, Resist Book, 2004
Sadullah, Uyah. Drs, Pengantar Filsafat Pendidikan (Alfabet, Yogyakarta 2004)

LAPORAN OBSEVASI DIKLAT

LAPORAN OBSERVASI
PENGELOLAAN PENDIDIKAN DAN LATIHAN









OLEH
SHERLY 01286/2008
NOVA ERNI 01297/2008
MELKI HARKONI 90877/2007
SUPARTO 90864/2007




PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmatnya kepada kita semua, sehingga penulisan Laporan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Laporan ini dibuat untuk memenuhi salah satu persyaratan dari mata kuliah Pengelolaan Pendidikan Dan Latihan
Materi dalam laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis berharap kepada pembaca agar dapat dapat memberi masukan yang berupa saran dan kritikan yang membangun demi kesempurnaan penulisan makalah berikutnya di masa yang akan datang.
Akhir kata penulis berharap, melalui naskah ini pembaca dapat mengambil manfaat dan menerapkannya dalam dunia pendidikan khususnya Pengelolaan Pendidikan Dan Latihan. Hingga pada akhirnya tujuan pendidikan dapat terwujud demi terciptanya masyarakat adil dan makmur



Padang, Juni 2010




Penulis









BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan dibutuhkan pendidik yang berkualitas. Pada kenyataanya saat ini, masih banyak pendidik yang tidak memberikan pembelajaran sehingga tujuan pendidikan tidak tercapai dengan maksimal. Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidik, maka pendidik diberikan pendidikan dan pelatihan (diklat).
Pendidikan dan pelatihan (diklat), yang diberikan kepada pendidik, pendidikan dan pelatihan terbagi atas dua yaitu, pendidikan dan pelatihan pra jabatan dan pendidikan dan pelatihan dalam jabatan. Maksudnya adalah diklat ini diberikan kepada pendidik yang belum menjadi PNS (honorer) dan pendidikan yang diberikan kepada pendidik yang sudah PNS.
Tujuan pendidikan dan pelatihan merupakan pedoman untuk mencapai apa yang diharapkan, perubahan yang akan terjadi dari peserta diklat seperti yang dikehendaki organisasi atau oaring tersebut.sepertinya halnya diklat keagamaan di Jl. Batang kapur Padang, lembaga ini mengadakan diklat pra jabatan dan diklat dalam jabatan. Tjuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas secara professional dengan dilandasi kepribadian dan etika Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan kebutuhan instansinya/

B. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan dari pada laporan observasi ini adalah
1. Untuk mengetahui perencanaan pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan di lembaga diklat keagamaan di jalan Jl. Batang kapur, Padang.
2. Untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan di lembaga diklat keagamaan di jalan Jl. Batang kapur, Padang

















BAB II
ORIENTASI LEMBAGA
A. NAMA LEMBAGA
Nama lembaga yang kami observasi adalah Balai Diklat Keagamaan Padang Sumatera Barat.

B. LANDASAN HUKUM
Landasan hukum daripada diklat keagamaan ini adalah
1) Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan Dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri.
2) Keputusan Menteri Agama No. 1 Tahun 2003 tentang Pedoman Pendidikan dan Pelatihan Pegawai di Lingkungan Dep. Agama.
3) Peraturan Menteri Agama No. 3 Tahun 2006 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dep. Agama.

C. LOKASI
Lokasi Balai Diklat Keagamaan Padang Sumatera Barat adalah di Jalan Batang Kapur No 7 Padang Baru Utara Padang Sumatera Barat.

D. SASARAN
Sasaran Diklat Keagamaan Padang ini adalah:
1. Pegawai Negeri Sipil
2. Calon pegawai negeri sipil.

E. SARANA DAN PRASARANA
1. Akomodasi (asrama)
• Peserta : diasramakan
• Kamar tidur : memadai
2. Ruang belajar (kelas)
• Luas
• Tata meja belajar : model huruf U
• Alat bantu latihan dalam ruang kelas
1) Papan tulis : 2 buah
2) OHP : 1 buah
3) Flip chart : 2 buah
4) Tape recorder : 1 buah
5) Sound system : 1 buah
6) Wireless : 1 buah

3. Ruang makan
Luas ruang makan : 120 M2
4. Ruang diskusi
Ruang diskusi : ada
Luas ruang diskusi :120 M2
5. Sarana olah raga : ada

F. KEGIATAN ATAU PROGRAM
Kegiatan atau Program Diklat Tenaga Administrasi di Balai Diklat Keagamaan Padang tahun 2010adalah sebagai berikut:
No Jenis Diklat Akt Jumlah Tanggal Pelaksanaan
Pst Hari Jam
1 Diklat Administrasi keuangan Tk MA 30 10 90 10 s.d 19 Jan 2010
2 Diklat Administrasi keuangan Tk MTs 30 10 90 sda
3 Diklat Tata Usaha Tk. MA 30 10 90 sda
4 Diklat Tata Persuratan bagi Staf KUA I 30 10 90 sda

5 Diklat Administrasi keuangan Tk MA 30 10 90 20 s.d 29 Jan 2010
6 Diklat Administrasi keuangan Tk MTs 30 10 90 sda
7 Diklat Tata Usaha Tk. MA 30 10 90 sda
8 Diklat Tata Persuratan bagi Staf KUA II 30 10 90 sda

9 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 1 40 24 216 23 Feb s.d 18 Mar 2010
10 sda 2 40 24 216 sda
11 sda 3 40 24 216 sda
12 sda 4 40 24 216 24 Feb s.d 19 Mar 2010
13 sda 5 40 24 216 sda

14 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 6 40 24 216 19 Mar s.d 11 April 2010
15 sda 7 40 24 216 sda
16 sda 8 40 24 216 sda
17 sda 9 40 24 216 20 Mar s.d 12 April 2010
18 sda 10 40 24 216 sda

19 Diklat Prajabatan Gol II Tenaga Honorer 1 40 19 174 12 April s.d 30 April 2010
20 sda 2 40 19 174 sda
21 sda 3 40 19 174 sda
22 sda 4 40 19 174 13 April s.d 01 Mei 2010
23 sda 5 40 19 174 sda

24 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 11 40 24 216 01 Mei s.d 24 Mei 2010
25 sda 12 40 24 216 sda
26 sda 13 40 24 216 sda
27 sda 14 40 24 216 02 Mei s.d 25 Mei 2010
28 sda 15 40 24 216 sda

29 Diklat Prajabatan Gol II Tenaga Honorer 6 40 19 174 25 Mei s.d 12 Juni 2010
30 sda 7 40 19 174 sda
31 sda 8 40 19 174 sda
32 sda 9 40 19 174 26 Mei s.d 13 Juni 2010
33 sda 10 40 19 174 sda

34 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 16 40 24 216 13 Juni s.d 06 Juli 2010
35 sda 17 40 24 216 sda
36 sda 18 40 24 216 sda
37 Diklat Prajabatan Gol II Tenaga Honorer 19 40 19 174 14 Juni s.d 02 Juli 2010
38 sda 20 40 19 174 sda

39 Diklat PIM XIII 30 37 285 03 Juli s.d 08 Agust 2010
40 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 19 40 24 216 07 Juli s.d 04 Agust 2010
41 Diklat Teknis 30 10 90 07 Juli s.d 16 Juli 2010
42 Diklat Teknis 30 10 90 18 Juli s.d 27 Juli 2010

43 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 20 40 24 216 12 Agust s.d 04 Sept 2010
44 sda 21 40 24 216 Sda
45 sda 22 40 24 216 Sda
46 sda 23 40 24 216 13 Agust s.d 05 Sept 2010
47 sda 24 40 24 216 sda

48 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 25 40 24 216 17 Sept s.d 10 Okt 2010
49 sda 26 40 24 216 sda
50 sda 27 40 24 216 sda
51 Diklat PIM IV XIV 30 37 285 03 Okt s.d 07 Nov 2010

52 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 28 40 24 216 11 Okt s.d 03 Nov 2010
53 sda 29 40 24 216 sda
54 sda 30 40 24 216 sda

55 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 31 40 24 216 04 Nov s.d 27 Nov 2010
56 sda 32 40 24 216 sda
57 sda 33 40 24 216 sda

58 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 34 40 24 216 08 Nov s.d 01 Des 2010
59 sda 35 40 24 216 sda

60 Diklat Prajabatan Gol II Reguler 1 40 10 90 03 Des s.d 12 Des 2010
61 sda 2 40 10 90 sda

G. PERMASALAHAN DAN PENANGGULANGANNYA
• Masalah yang dihadapi adalah ada sebagian dari sarana yang kurang memadai seperti, ruangan belajar yang sempit.
• Penanggulangannya dapat di atasi dengan cara merenofasi kembali( memperbaiki) ruangan yang kurang luas tersebut.


H. ANALISIS
Dari berbagai pelatihan yang dijalankan oleh lembaga keagamaan ini maka mulai dari awal perencanaan, pelaksanaan, sampai pada tahap akhir berjalan dengan baik dan sehingga mencetak peserta diklat yang berkualitas.




BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pendidikan dan pelatihan (diklat), yang diberikan kepada pendidik, pendidikan dan pelatihan terbagi atas dua yaitu, pendidikan dan pelatihan pra jabatan dan pendidikan dan pelatihan dalam jabatan. Maksudnya adalah diklat ini diberikan kepada pendidik yang belum menjadi PNS (honorer) dan pendidikan yang diberikan kepada pendidik yang sudah PNS.
Tujuan pendidikan dan pelatihan merupakan pedoman untuk mencapai apa yang diharapkan, perubahan yang akan terjadi dari peserta diklat seperti yang dikehendaki organisasi .

B. SARAN
Dari kegiatan diklat yang di lakukan oleh lembaga Diklat Keagamaan dapat di simpulkan bahwa kegiatan diklat harus di lakukan secara terstruktur dan sistematis agar tercapai tujuan yang di maksudkan pada awal pelaksanaan diklat.

MAKALAH DIKLAT

BAB I
PENDAHULUAN


1. LATAR BELAKANG MASALAH
Era Globalisasi, yang ditandai antara lain dengan adanya percepatan arus informasi menuntut adanya sumber daya manusia yang mampu menganalisa informasi dan mengambil keputusan dengan cepat dan akurat. Kemampuan tersebut dapat diperoleh dari sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, serta sikap yang sesuai dengan tuntutan tugasnya. Sumber daya manusia dengan karakteristik tersebut akan memberi dukungan yang optimal terhadap keberhasilan sebuah organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Tuntutan masyarakat terhadap penyelenggara kepemerintahan yang baik (good governance), telah menjadi fenomena tersendiri yang harus dipenuhi oleh organisasi pemerintah. UNDP menentukan bahwa karakteristik atau prinsip-prinsip yang harus dianut dan dikembangkan dalam praktik penyelenggara kepemerintahan yang baik meliputi partisipasi (participation), aturan hukum (rule of law), transparansi (transparency), daya tanggap (responsiveness), memiliki orientasi pada concensus (concensus orientation), berkeadilan (equity), efektifitas dan efisiensi (effectiveness and efficiency), akuntabilitas (accountability), bervisi strategi (stategy vision), serta adanya saling keterkaitan (interrelated). Tuntutan masyarakat tersebut hanya dapat diwujudkan dangan adanya dukungan dari sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi.
Sejalan dengan pernyataan di atas, Dinas Pendidikan mempunyai tugas dan fungsi dalam melaksanakan sebagian tugas pokok pemerintahan dan pembangunan dalam bidang pendidikan. Untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsi tersebut, maka Dinas Pendidikan harus memiliki tenaga ahli di bidang administrasi, keuangan, perencanaan program, tata kearsipan dan lain-lain. Fungsi penyuluhan pendidikan, pelayanan pendidikan dan bantuan pendidikan menuntut tersedianya tenaga-tenaga penyuluh pendidikan yang handal, pegawai yang mengerti tentang pembangunan pendidikan serta pegawai yang memiliki keahlian penyusunan program-program pembangunan pendidikan, hak kekayaan intelektual dan lain-lain. Fungsi pelayanan kemasyarakatan hanya dapat dilaksanakan dengan optimal apabila pada Dinas Pendidikan tersedia pegawai yang ahli dalam perawatan, pembinaan dan pembimbingan tenaga pendidikan dan ahli dalam mengelola program-program pendidikan.
Sebagai sebuah organisasi yang mempunyai tugas memberikan pelayanan terhadap masyarakat, dinas pendidikan haruslah mampu mengelola sumber daya manusia agar dapat memberikan hasil terbaik dalam hal memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat. Akan tetapi kondisi Pegawai Dinas Pendidikan pada saat ini ternyata masih memiliki kekurangan dan kelemahan, antara lain:
1. Kuantitas dan kualitas pegawai belum memadai apabila dilihat dari tugas pokok dan fungsi yang menjadi tanggung jawab pegawai;
2. Masih belum meratanya tingkat kualitas pegawai;
3. Masih minimnya tenaga ahli, seperti, penyuluh pendidikan, pemahaman tentang Hak Kekayaan Intelektual dan lain-lain.
Dengan kondisi sumber daya manusia seperti disebutkan di atas, secara tidak langsung akan dapat berpengaruh terhadap kinerja dinas pendidikan. Oleh karenanya perlu ada upaya agar Pegawai Dinas Pendidikan Kota Padang dapat dan mampu berfikir kreatif dengan keterbatasan yang ada, menemukan hal-hal yang baru (inovatif), tidak hanya menunggu pekerjaan (proaktif), bekerja sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang ditetapkan (sistematik), berdaya guna dan berhasil guna (efektif dan efisien) serta dapat bekerja dengan cepat, tepat, ekonomis dan hasil yang maksimal sepeti dikemukakan oleh Kasim (1998:54): “harus senantiasa melakukan penyeusaian dan harus ada inovasi sesuai kecenderungan perubahan sifat dan hakekat pekerjaan”.
Para pakar pengembang sumber daya manusia dapat berpendapat bahwa manusia dalam organisasi merupakan harta (asset) yang utama sehingga diperlukan pembinaan dan pengembangan untuk menggali potensi yang dimilikinya. Kemampuan organisasi dalam mendayagunakan kompetensi sumber daya manusia yang dimilikinya akan sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan organisasi. Soeling (2003:19) mengutip pendapat Chummings dan Schwab yang menyatakan kompetensi merupakan isu sentral berkenaan dengan aptitudes dan abilities orang dalam pekerjaan. Aptitude adalah kapabilitas seseorang untuk belajar sesuatu, sedangkan abilities mencerminkan kapasitas yang sudah dimiliki seseorang untuk melakukan berbagai tugas yang dibutuhkan pekerjaan tertentu serta mencakup keahlian dan pengetahuan yang relevan.
Peningkatan kompetensi pegawai pada sebuah organisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu diantaranya adalah melalui partisipasi dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan. Pendidikan pegawai adalah sebuah proses pengembangan sumber daya manusia yang bertujuan untuk memperbaiki kinerja. Dalam pendidikan diberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap, sedangkan dalam kegiatan pelatihan bertujuan untuk memperoleh keterampilan agar seorangpegawai mampu meningkatkan kinerjanya dalam organisasi.

2. RUMUSAN MASALAH
Dengan melihat kondisi sumber daya manusia yang telah dipaparkan di atas dan sejalan dengan tuntutan untuk mengadakan perbaikan serta perubahan yang berlangsung cepat, dibutuhkan pegawai yang berpengetahuan, berpendidikan tinggi, mampu menyesuaikan diri (adaptasi) dengan perubahan dan bidang pekerjaan yang makin kompleks dan berkembang seiring dinamika yang ada, untuk itu penulis mengemukakan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Apakah ada hubungan antara pendidikan terhadap kompetensi Pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat?
2. Apakah ada hubungan antara pelatihan terhadap kompetensi Pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat?
3. Apakah ada hubungan antara pendidikan dan pelatihan terhadap kompetensi Pegawai pada Dinas Pendidikan Barat dalam pelaksanaan terhadap masyarakat?

3. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dilakukannya penulisan ini adalah:
1. Mengetahui apakah ada hubungan antara pendidikan dengan kompetensi pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat.
2. Mengetahui apakah ada hubungan antara pelatihan dengan kompetensi pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat.
3. Mengetahui apakah ada hubungan antara pendidikan dan pelatihan dengan kompetensi pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat.

4. MANFAAT PENULISAN
Manfaat dilakukannya penulisan ini adalah:
1. Secara akademis sebagai bahan masukan yang didapat dari kajian literatur ilmiah bagi instansi terkait tentang pentingnya peningkatan kompetensi Pegawai Dinas Pendidikan melalui pendidikan dan pelatihan.
2. Sebagai bahan masukan yang dapat dimanfaatkan oleh penulis selanjutnya untuk dikembangkan dalam penulisan makalah.
3. Menambah wawasan penulis dalam mengembangkan sumber daya manusia.





















BAB II
PEMBAHASAN

1. TEORI-TEORI YANG DIGUNAKAN
Dalam mengembangkan kemampuan, kecekatan dan keahlian para pegawai dinas, diperlukan pemberian pendidikan dan pelatihan / diklat yang disuaikan dengan bidang kerjanya. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa cara atau metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan pegawai dinas :
1. Magang / Apprenticeship Training
Magang adalah suatu pembekalan pegawai baru dengan cara belajar langsung dengan senior dan diawasi oleh para pakar atau ahlinya. Untuk mendapatkan skill yang sama dengan masternya dibutuhkan waktu yang relatif cukup lama.
2. Learning By Doing / On The Job Training / Bekerja Sambil Belajar
On the job training adalah suatu bentuk pembekalan yang dapat mempercepat proses pemindahan pengetahuan dan pengalaman kerja / transfer knowledge dan para karyawan senior ke junior. Pelatihan ini langsung menerjunkan pegawai dinas bekerja sesuai dengan job description / jobdesc masing-masing di bawah supervisi / pengawasan penyelia atau pegawai senior.
3. Vestibule Training
Vestibule training adalah memberikan pelatihan semacam kursus yang dijalankan di luar lingkungan kerja. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan pada kursus tersebut tidak jauh berbeda dengan pekerjaan yang nantinya akan digeluti oleh para peserta.

2. PRINSIP-PRINSIP
Dalam arah reformasi birokrasi PNS dalam mewujudkan Good Governance perlu dimulai dari CPNS sebelum menjadi pegawai negeri penuh 100 %. Negara memang mengharapkan potensi PNS yang diinginkan dalam Good Governance dalam prinsip dan karakteristiknya. Posisi Diklat disini sangat strategis untuk menciptakan PNS yang diharapkan oleh negara sedangkan saat ini banyak rintangan menjadikan PNS tersebut sebagai seorang yang profesional seperti masalah budaya lama birokrasi yang merupakan peninggalan masa lalu.
Proses untuk membangun PNS yang berprofesional memang sedang berlangsung saat ini, terutama pada lembaga-lembaga seperti Badan Diklat selalu menyusun program pembelajaran dengan materi-materi baru yang merupakan pengetahuan dan wawasan
Selain dilembaga diklat, maka dilembaga struktural seperti Dinas/instansi juga harus menyikapi hal yang sama dalam pembinaan kepegawaian dalam kedinasan dilapangan. Masalahnya bila terjadi dilingkungan kerja, kegiatan PNS yang tidak menjurus kepada hal-hal yang bertentangan dengan upaya mewujudkan Good Governance yang merupakan budaya kerja lama yang harus dirobah/direformasi, terutama oleh CPNS yang akan menjadi PNS melalui pendidikan dan pelatihan prajabatan seperti sekarang ini.
Prinsip-prinsip Good Governance yang perlu diikuti oleh setiap PNS adalah antara lain; partisipasi, supremasi hukum, transparansi, tepat tanggap (responsible), konsensus, kesederajatan (equity), efektif dan efisien, akuntabiliti dan visi kedepan.
Kompetensi diklat secara umum mencakup 3 (tiga) ranah dasar, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap dan prilaku) dan Psikomotorik (keterampilan). Salah satu kompetensi diklat terletak pada kata kunci menerapkan, atau aplikasi yang mengindikasikan tingkat pengetahuan, alternatif strategi ke dalam tugas dan pekerjaan. Oleh karena itu proses belajar dalam agenda kegiatan diklat tidak hanya berupa penyajian informasi tetapi selalu dipadukan dengan kegiatan diskusi, penulisan kertas kerja, studi kasus dan pengenalan kondisi internal maupun eksternal lingkungan kerja serta kesadaran untuk melakukan perubahan sikap. Khusus mengenai strategi pembelajaran, tetap menganut prinsip-prinsip bahwa Diklat dirancang untuk tujuan tertentu, dapat diukur, dapat dicapai, sesuai kebutuhan dan sesuai dengan alokasi waktu dan dana yang tersedia.

3. LANGKAH LANGKAH PEMECAHAN MASALAH
Dalam mewujudkan pegawai yang profesional dibutuhkan banyak unsur yang memungkinkan seperti; lingkungan kerja, organisasi kerja (team work), lembaga diklat dengan perencanaan dan kurikulum suatu kompetensi widyaiswara. Keberadaan widyaiswara memang diperlukan pembentukan aparatur PNS yang profesional sesuai dengan tuntutan negara. Kepada widyisawara memang dituntut kualitas penyelenggaraan dikat sesuai dengan kompetensi Widyaiswara karena sekarang jabatan fungsional widyaiswara sudah semakin baik dalam jabatan fungsional lainnya. Widyaiswara sebagai unsur pendidik, pelatih dan pengajar aparatur juga dituntut sebagai fasilitator, imanisator, motivator, peneliti, konsultan, manager kelas yang profesional.
Untuk memperoleh profesional tersebut widyaiswara juga harus mampu belajar dan bekerja keras dalam berbidang-bidang keilmuan dan pengetahuan serta mengikuti pendidikan dan pelatihan secara khusus (TOT/Training of Trainer) sesuai dengan pembentukan pola teknis PNS yang diharapkan oleh negara.
Adapun langkah-langkah yang di ambil untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan pelatihan seperti berikut:
A. Bidang Diklat Struktural
1) Diklat Kepemimpinan
Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan para pejabat struktural, target group yaitu pejabat atau calon pejabat struktural berdasarkan strata manajemen yang dipangkunya.
Diklat kepemimpinan meliputi :
• Diklat Kepemimpinan Tingkat IV;
• Diklat Kepemimpinan Tingkat III;
• Diklat Kepemimpinan Tingkat II;
• Diklat Kepemimpinan Tingkat I.
2) Diklat Prajabatan :
Bertujuan untuk mengisi kompetensi dasar dalam rangka pembentukan wawasan, sikap dan kepribadian CPNS, serta merupakan salah satu syarat bagi CPNS untuk diangkat menjadi PNS.
Grade untuk diklat Prajabatan ini adalah :
• Diklat Prajabatan Golongan I;
• Diklat Prajabatan Golongan II;
• Diklat Prajabatan Golongan III.
B. Bidang Diklat Fungsional
Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan para pejabat fungsional dalam melaksanakan tugasnya secara professional dan dapat menjadi persyaratan bagi Pegawai Negeri Sipil yang akan dan telah menduduki Jabatan fungsional.
C. Bidang Diklat Teknis
Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan teknis penyelenggaraan kegiatan dalam mengelola urusan-urusan pemerintahan yang bersifat teknis, baik teknis administratif maupun teknis substantif. Diklat Teknis dikembangkan berdasarkan kebutuhan masing-masing Daerah Otonom.
D. Bidang Diklat Manajemen Pemerintahan
Kegiatan Diklat Manajemen Pemerintahan dimaksudkan untuk pembentukan kemampuan mengelola kegiatan dan urusan pemeritahan bagi para Pejabat Eksekutif, Pejabat Negara dan Unsur Legislatif. Termasuk dalam rumpun ini adalah pembentukan kader pemerintahan melalui IPDN/IIP serta kerjasama dengan Perguruan Tinggi Negeri dalam hal tugas belajar dan ijin belajar.

















BAB III
PENUTUP


1. KESIMPULAN
Dengan kondisi sumber daya manusia seperti saat ini, secara tidak langsung akan dapat berpengaruh terhadap kinerja dinas pendidikan. Oleh karenanya perlu ada upaya agar Pegawai Dinas Pendidikan Kota Padang dapat dan mampu berfikir kreatif dengan keterbatasan yang ada, menemukan hal-hal yang baru (inovatif), tidak hanya menunggu pekerjaan (proaktif), bekerja sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang ditetapkan (sistematik), berdaya guna dan berhasil guna (efektif dan efisien) serta dapat bekerja dengan cepat, tepat, ekonomis dan hasil yang maksimal sepeti dikemukakan oleh Kasim (1998:54): “harus senantiasa melakukan penyeusaian dan harus ada inovasi sesuai kecenderungan perubahan sifat dan hakekat pekerjaan”.

2. SARAN
Dengan di adakan pendidikan dan latihan pada pegawai dinas yang baru di harapkan dapat meningkatkan kompetensi kerja para pegawai sehingga pegawai dapat berkerja sebagaimana mestinya dan dapat embawa perubahan yang baik bagi segenap masyarakat.











DAFTAR PUSTAKA

Atmodiwiro. Soebagio. 2002. Manajemen Pelatihan. Ardadizya jaya. Jakarta.
Notoatmodjo. Soekidjo. 2003. Pengembangan Sumber Daya Manusia. PT. Rineka Cipta .Jakarta.
http://docstoc.asterpix.com/cy/2422251/?q=Prinsip-Prinsip+Diklat (diakses tanggal 11 juni 2010)
http://www.google.com.pendidikan dan pelatihan pegawai dinas.html.org ( diakses tanggal 15 juni 2010)
http://www.google.com.Strategi_Pendidikan_dan_pelatihan_Nasional_berorientasi_Masa_Depan.wiki.org. ( diakses tanggal 15 juni 2010)

PROPOSAL PENGELOLAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN Tentang Pendidikan dan Pelatihan Pamong Belajar dalam Usaha Mengurangi Anak Putus Sekolah

PROPOSAL
PENGELOLAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Tentang
Pendidikan dan Pelatihan Pamong Belajar dalam Usaha Mengurangi Anak Putus Sekolah







Oleh :
SHERLY
01286/2008



PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2010
A. Latar Belakang
Pencanangan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun oleh pemerintah sejak tahun 1994 belum menunjukkan keberhasilan jika dilihat dari angka siswa yang putus sekolah di semua tingkatan. Keterbatasan kemampuan sebagian masyarakat mengelola pendidikan tampak dari masih relatif tingginya angka putus sekolah. Di tingkat pendidikan dasar, putus sekolah masih menjadi ”momok” upaya penuntasan wajib belajar sembilan tahun.
Angka putus sekolah seluruh jenjang pendidikan di Indonesia empat tahun terakhir masih di atas satu juta siswa per tahun. Dari jumlah itu, sebagian besar (80 persen) adalah mereka yang masih duduk di jenjang pendidikan dasar (SD-SMP).
Hasil studi tentang pekerja anak yang dilakukan di lima wilayah Indonesia yaitu Sulawesi Selatan, NTT, Maluku, dan Papua Barat menunjukkan bahwa anak-anak usia 9-15 tahun terlibat berbagai jenis pekerjaan yang berakibat buruk terhadap kesehatan fisik, mental, dan seksual. Awalnya pekerja anak tersebut hanya untuk membantu perekonomian orangtua, tetapi lama kelamaan banyak anak yang terjebak sebagai pekerja permanen. Mereka akhirnya menikmati hasil pendapatan dan berakibat anak lebih sering bolos sekolah dan kemudian drop out.
Selain itu, krisis ekonomi yang berkepanjangan menjadikan orangtua mengutamakan anak laki-laki dari pada anak perempuan untuk bersekolah. Akibatnya, memperbanyak anak perempuan tidak bersekolah, buta huruf atau drop out di pendidikan dasar. Selanjutnya mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga, buruh tani dan kebun, buruh serabutan dan ada yang terlibat prostitusi.
Hal tersebut membuat anak bekerja dalam berbagai pekerjaan mulai dari pemulung, penjual koran, petugas parkir liar, pemilah sampah TPA, buruh petani dan perkebunan, pengemis, pembantu rumah tangga, pelayan toko dan restoran, pendorong gerobak di pelabuhan dan pasar, penjual platik di pasar, kuli angkut, penyelam mutiara dan ikan teripang di laut tanpa peralatan, kernet, nelayan, buruh bangunan, penjual sayur, dan menyemir.

Berdasarkan temuan tersebut, PGRI mendesak agar pemerintah, pemda, dan departemen terkait untuk melakukan tindakan nyata agar anak-anak dilindungi dan diwajibkan untuk sekolah. Selama ini wajib belajar hanya imbauan dan tidak diwajibkan.
Selain itu, pemerintah mengalokasikan 20 persen APBN dan APBD untuk pendidikan serta mengentaskan wajib belajar 12 tahun secara merata dan bermutu. Kalangan pengusaha, pengrajin, dan orangtua untuk tidak mempekerjakan anak berusia di bawah 15 tahun.
Orang tua, lanjutnya, harus memberikan kesempatan yang sama dan tidak membeda-bedakan antara hak anak laki-laki dan perempuan dalam memperoleh akses pendidikan. Selain itu, para pengambil keputusan bidang pendidikan, kepala sekolah, pengawas, dan para guru untuk menekankan pentingnya pembelajaran yang menarik, menyenangkan, inspiratif.
Selanjutnya pemerintah telah membagi jalur pendidikan menjadi tiga, Pendidikan Non Formal, Pendidikan Formal dan Pendidikan Informal, jika ada anak yang tidak bisa meneruskan pendidikannya di pendidikan formal, maka orang-orang yang bertanggung jawab di dunia Pendidikan Non Formal pun memiliki andil untuk dapat terus memotivasi serta membelajarkan warga belajar agar mau tetap belajar, hal ini menjadi tanggung jawab pamong belajar selaku motivator dalam pendidikan non formal
Untuk itu, rasanya tidak terlalu muluk, jika diadakan pendidikan dan pelatihan untuk para pamong belajar, agar dapat terus meningkatkan kualitasnya sebagai motivator, fasilitator di dunia luar sekolah.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di paparkan di atas dapat di simpulkan rumusan masalah yaitu
a. Masih banyaknya anak-anak usia sekolah yang mengalami putus sekolah sehingga membuat mereka harus bekerja di usia muda.
b. Masih banyak anak-anak usia sekolah yang belum bisa menyelesaikan sekolahnya
sampai perguruan tinggi.
c. Menanggulangi anak-anak yang putus sekolah juga merupakan tugas dan tanggung jawab semua pihak.

C. Tujuan
Adapun tujuan dari pada diklat ini adalah untuk mempersiapkan pamong belajar yang cakap dalam memotivasi dan membelajarkan warga belajar sehingga anak-anak usia sekolah yang putus sekolah dapat kembali mengecap pendidikan, sehingga secara tidak langsung dapat mengatasi masalah yang telah menjadi momok dan PR pemerintah dalam hal menangani masalah putus sekolah.

D. Organisasi Penyelenggaraan Diklat
1. Kegiatan Diklat
Nama Diklat : Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pamong Belajar Pendidikan Luar Sekolah
Jenis Diklat : Diklat Administrasi dan Diklat Teknis

2. Kepanitiaan Diklat
Penanggung jawab : Drs. Refaldi, MM
: Drs. Erwin M. M.Ed
Ketua Pelaksana : Dra. Sherly, M.Pd
Sekretaris : Drs. Retno Pratama, M.Pd
Koor Bidang adminidtrasi : Anggiarici Oktaria, S.Pd
Anggota : Kurniawan Prima, S.Ag
: Vera Permana Sari, S.Pd
Koor Bidang Perlengkapan : Fadly Ramadhan, S.E
Anggota : Dinda Salsabila, A.Md
: Vina Meisiana, S.E

3. Alamat pelaksana : Jln. Pahlawan No 14 Bukittinggi Sumatera barat
4. Sasaran : Pamong Belajar Kab Agam
5. Pelaksanaan
a. Tanggal : 5 – 19 Juli 2010
b. Lama : 14 Hari
c. Tempat : Balai Diklat Agam
d. Persiapan/Pengarahan : - Juklis/Pedoman
: - Tata Tertib
: - Perlengkapan Peserta
6. Peserta
a. Jumlah : 17 Orang
b. Jenis Kelamin : Pr : 7 Orang
: Lk : 10 Orang
c. Usia/Umur : Tertinggi : 45 Thn
: Terendah : 23 Thn
: Rata-rata : 30 Thn
d. Pendidikan : SMU/MA: -
: D3 : 2 Orang
: S1 : 15 Orang
7. Kurikulum
a. Jumlah Jam Pel 1 hari : 8 jampel
b. Jumlah Jam Pel Keseluruhan : 14 x 8 = 112 Jampel
c. Waktu Belajar : Pagi – Sore
d. Metode pembelajaran : Diskusi
: Ceramah
: Observasi Lapangan
: Praktek
8. Tenaga Kependidikan
a. Widyaiswara : 2 Orang
b. Widyaiswara Luar Biasa : -
c. Pengelola Lembaga : 3 Orang
d. Tenaga Professional Diklat : 5 Orang
9. Ujian
a. Frekuensi Ujian : 1 Kali
b. Pre Test : Ada
c. Post Test : Ada
10. Sarana dan prasarana
1. Akomodasi (asrama)
• Peserta : diasramakan
• Kamar tidur : memadai
2. Ruang belajar (kelas)
• Luas
• Tata meja belajar : model huruf U
• Alat bantu latihan dalam ruang kelas
1) Papan tulis : 2 buah
2) OHP : 1 buah
3) Flip chart : 2 buah
4) Tape recorder : 1 buah
5) Sound system : 1 buah
6) Wireless : 1 buah

3. Ruang makan
Luas ruang makan : 120 M2
4. Ruang diskusi
Ruang diskusi : ada
Luas ruang diskusi :120 M2
5. Sarana olah raga : ada

11. Pembiayaan dan Penggunaan Dana
a. Sumber Dana
APBD Rp. 2.500.000
Dinas Pendidikan Rp. 5.000.000
SKB SUMBAR Rp. 1.000.000
Diknas Padang Rp. 2.500.000
Total Rp. 11.000.000

b. Kegunaan Dana
Modul 27 Buah @ Rp 30.000 : Rp. 810.000
Gaji Tutor/widyaiswara 8 Orang : Rp. 4.000.000
Peralatan Diklat : Rp. 3.000.000
Akomodasi Diklat : Rp. 2.000.000
Lain-lain : Rp. 1.000.000

Sisa : Rp. 190.000























KURRIKULUM
PENGELOLAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Tentang
Pendidikan dan Pelatihan Pamong Belajar dalam Usaha Mengurangi Anak Putus Sekolah


A. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Menciptakan Pamong Belajar yang berkompetensi dan memiliki kepribadian froffessional terhadap pekerjaannya.
B. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Adapun Tujuan Instruksinal khusus dari pada pelatihan ini adalah:
1. Menciptakan pamong belajar yang memiliki kualitas dan kompetensi sebagai tenaga pendidik secara baik.
2. Menciptakan pamong belajar yang memiliki etos kerja yang tinggi
3. Menciptakan pamong belajar yang mampu memotivasi warga belajar secara baik agar mau terus belajar guna mengurangi masalah putus sekolah
C. MATERI DIKLAT DAN SUB MATERI

No Materi diklat Sinopsisi materi Jamlat Metode Media
1 Mengetahui defenisi Pamong belajar - Mengidentifikasikan defenisi pamong belajar
- Menguraikan tugas dan fungsi pamong belajar
- Menguraikan prinsip-prinsip pamong belajar 3x8 jam= 24 jam ceramah, tugas individu, diskusi. LCD, Spidol, Whiteboard
2 Memahami teori- teori motivasi - Mendeskripsikan teori-teori motivasi para ahli
- Menguraikan teori motivasi pamong belajar
- Menganalisa kebutuhan warga belajar. 3x8 jam= 24 jam ceramah, tugas individu, diskusi. LCD, Spidol, Whiteboard
3 Menganalisa teori warga belajar - Mendeskripsikan teori belajar warga belajar
- Menerapkan teori belajar warga belajar
2x8 jam= 16 jam ceramah, tugas individu, diskusi, praktek lapangan LCD, Spidol, Whiteboard
4 Menerapkan teori motivasi - Mengaplikasikan teori motivasi pamong belajar kepada warga belajar 5x8 jam= 40 jam ceramah, tugas individu, diskusi, praktek lapangan LCD, Spidol, Whiteboard
5 Evaluasi - Mengevaluasi cara pamong belajar memotivasi warga belajar. 1x8 jam = 8 jam
Total jam pel 112 jam











PRE TEST DAN POST TEST
Pendidikan dan Pelatihan
a. Apakah diklat yang di berikan mampu meningkatkan kualitas pamong belajar dalam memotivasi warga belajar?
b. Apakah diklat yang di berikan sesuai dengan tujuan diklat?

Pembelajaran Diklat
a. Apakah pembelajaran yang di sampaikan sesuai dengan kebutuhan sasaran diklat ?
b. Apakah pembelajaran yang disampaikan dapat meningkatkan kualitas metode belajar seorang pamong belajar ?
c. Apakah metode yang di sampaikan dapat meningkatkan cara pamong belajar memotivasi warga belajar?
Evaluasi
a. Apakah diklat yang diberikan mampu mengurangi angka putus sekolah?
b. Apakah diklat yang di berikan mampu membuat warga belajar mau belajar kembali?

PROPOSAL PENGELOLAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN Tentang Pendidikan dan Pelatihan Pembuatan Ikan Sarden Guna Mengatasi Masalah Pengangguran di Pasir Jambak Padang

PROPOSAL
PENGELOLAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Tentang
Pendidikan dan Pelatihan Pembuatan Ikan Sarden
Guna Mengatasi Masalah Pengangguran di Pasir Jambak Padang






Oleh :
SHERLY
01286/2008




PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2010

A. Latar Belakang
Negara Indonesia yang terletak disekeliling laut dan pantai yang mana laut Indonesia memiliki kaya akan hasil ikan yang banyak. Salah satunya di Pasir Jambak Padang yang terletak di tepi pantai dan sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya sebagai nelayan, meskipun sebagian ada juga yang bertani. Hasil tangkapan ikan dari nelayan sangatlah banyak namun para nelayan di sekitar desa ini kurang bisa mengolah ikan hasil tangkapan dan sumber daya alam yang ada di daerah tersebut. Selama ini penduduk Pasir Jambak Padang hanya bisa mengolah ikan sebagai sambal seperti digoreng, digulai, pepes ikan, dan di jual mentah. Namun masyarakat belum bisa mengolah sendiri ikan tersebut menjadi ikan sarden.
Masyarakat tidak bisa mengolah ikan hasil tangkapan menjadi ikan sarden yang memiliki nilai gizi tinggi dan nilai jual yang tinggi pula. Selain itu, masih kurangnya keterampilan yang dimiliki masyarakat setempat untuk mengolah ikan hasil tangkapan para nelayan tersebut.
Sesuai dengan masalah diatas, masyarakat Pasir Jambak Padang khususnya para nelayan perlu mengetahui dan mempelajari cara-cara pembuatan ikan sarden tersebut. Sehingga mereka akhirnya mampu membuat ikan sarden atau mengolah ikan hasil tangkapan menjadi ikan sarden yang mempunyai nilai jual yang tinggi.
Tindakan yang harus dilakukan yaitu memberikan pendidikan dan pelatihan serta keterampilan bagaimana cara-cara mengolah ikan tanggapan nelayan tersebut menjadi ikan sarden. Serta mencari donatur-donatur tetap untuk membiayai atau yang bersedia untuk menanamkan modal untuk pembuatan ikan sarden. Pelatihan ini ditujukan kepada masyarakat setempat yang tidak memiliki pekerjaaan.

B. Tujuan Kegiatan
Adapun tujuan dari pemberian pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat setempat agar mereka lebih terampil dan cekatan dalam mengolah ikan mentah menjadi ikan sarden yang mempunyai nilai gizi tiggi karena diolah dengan bumbu khas masakan indonesia, dengan cita rasa yang enak, sehat , dan higienish. Serta memiliki nilai komersial yang tinggi pula, yang hasilnya dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

C. Organisasi Penyelenggaraan Diklat
1. Kegiatan Diklat
Nama Diklat :Pendidikan dan Pelatihan Pembuatan Ikan Sarden Guna Mengatasi Masalah Pengangguran di Pasir Jambak Padang
Jenis Diklat : Diklat Administrasi dan Diklat Teknis

2. Kepanitiaan Diklat
Penanggung jawab : Drs. Refaldi, MM
: Drs. Erwin M. M.Ed
Ketua Pelaksana : Dra. Sherly, M.Pd
Sekretaris : Drs. Retno Pratama, M.Pd
Koor Bidang adminidtrasi : Anggiarici Oktaria, S.Pd
Anggota : Kurniawan Prima, S.Ag
: Vera Permana Sari, S.Pd
Koor Bidang Perlengkapan : Fadly Ramadhan, S.E
Anggota : Dinda Salsabila, A.Md
: Vina Meisiana, S.E
3. Alamat pelaksana : Jln. Cendrawasih Gang Tiung No 16 Air Tawar Barat Padang Sumatera barat

4. Sasaran : Masyarakat setempat yang menganggur
5. Pelaksanaan
a. Tanggal : 2 – 16 Agustus 2010
b. Lama : 14 Hari
c. Tempat : Balai Diklat Padang
d. Persiapan/Pengarahan : - Juklis/Pedoman
: - Tata Tertib
: - Perlengkapan Peserta
6. Peserta
a. Jumlah : 25 Orang
b. Jenis Kelamin : Lk : 25 Orang
: Pr : -
c. Usia/Umur : Tertinggi : 45 Thn
: Terendah : 26 Thn
: Rata-rata : 30 Thn
d. Pendidikan : SMU/MA: 24 Orang
: D3 : 1 Orang
: S1 : -
7. Kurikulum
a. Jumlah Jam Pel 1 hari : 8 jampel
b. Jumlah Jam Pel Keseluruhan : 14 x 8 = 112 Jampel
c. Waktu Belajar : Pagi – Sore
d. Metode pembelajaran : Diskusi
: Ceramah
: Observasi Lapangan
: Praktek
8. Tenaga Kependidikan
a. Widyaiswara : 2 Orang
b. Widyaiswara Luar Biasa : -
c. Pengelola Lembaga : 2 Orang
d. Tenaga Professional Diklat : 4 Orang
9. Ujian
a. Frekuensi Ujian : 1 Kali
b. Pre Test : Ada
c. Post Test : Ada
10. Sarana dan prasarana
1. Akomodasi (asrama)
• Peserta : diasramakan
• Kamar tidur : memadai
2. Ruang belajar (kelas)
• Luas
• Tata meja belajar : model huruf U
• Alat bantu latihan dalam ruang kelas
1) Papan tulis : 2 buah
2) OHP : 1 buah
3) Flip chart : 2 buah
4) Tape recorder : 1 buah
5) Sound system : 1 buah
6) Wireless : 1 buah
3. Ruang makan
Luas ruang makan : 120 M2
4. Ruang diskusi
Ruang diskusi : ada
Luas ruang diskusi :120 M2
5. Sarana olah raga : ada

11. Pembiayaan dan Penggunaan Dana
Dana didapatkan dari:
1. Iuran warga belajar
Setiap warga belajar mengeluarkan biaya sebanyak Rp 25.000 /bulan
2. Iuran wajib dari ibu-ibu PKK
Rp 15.000 / bulan
3. Sumbangan dari perangkat masyarakat
Pemda Rp. 2.000.000
Camat Rp .1.750.000
Balai Diklat Kota Padang Rp 2.500.000
Depnaker Rp 2.000.000

Guna : untuk membeli perlengkapan dan bahan yang diperlukan yaitu,
a. Membeli ikan mentah
b. Bumbu-bumbu masak
c. Peralatan memasak
d. Buku-buku panduan memasak
e. Kemasan produk
f. Gaji tutor
Rincian dana
1. Uang masuk selama 3 bulan
a. Iuran WB, 40 orang x 25.000 Rp 3.000.000
b. Sumbangan ibu-ibu PKK, 10 orang x 15.000 Rp 450.000
c. Pemda / Bupati Rp 2.000.000
d. Camat Rp 1.750.000
e. Balai Diklat Kota Padang Rp 2.500.000
f. Depnaker Rp 2.000.000

Total Rp 11.700.000
2. Uang keluar
a. Membeli ikan selama pelatihan Rp 2.500.000
b. Bumbu-bumbu masak Rp 500.000
c. Buku panduan memasak Rp 1.000.000
d. Peralatan memasak Rp 800.000
e. Kemasan produk Rp 1.000.000
f. Gaji tenaga kependidikan Rp 500.000/bulan x 8 Org Rp 4.000.000
g. Biaya Pelatihan Rp 500.000
h. Dana tak terduga Rp. 1.000.000

Total Rp 11.300.000
Uang pemasukan selama pelatihan yaitu selama kegiatan berlangsung berjumlah Rp 11.700.000 dan pengeluaran sebanyak Rp 11.300.000. Jadi, sisa dana sebanyak Rp 400.000 dan dimasukan kedalam kas bulanan.








KURRIKULUM
PENGELOLAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Tentang
Pendidikan dan Pelatihan Pembuatan Ikan Sarden
Guna Mengatasi Masalah Pengangguran di Pasir Jambak Padang

A. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Agar mereka lebih terampil dan cekatan dalam mengolah ikan mentah menjadi ikan sarden yang mempunyai nilai gizi tiggi karena diolah dengan bumbu khas masakan indonesia, dengan cita rasa yang enak, sehat , dan higienish. Serta memiliki nilai komersial yang tinggi pula, yang hasilnya dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

B. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Adapun Tujuan Instruksinal khusus dari pada pelatihan ini adalah:
1. Agar warga belajar terampil dalam mengolah SDA yang ada.
2. Agar warga belajar mempunyai mata pencaharian yang dapat mengatasi masalah pengangguran.

C. MATERI DIKLAT DAN SUB MATERI
No Materi diklat Sinopsisi materi Jamlat Metode Media
1 Memilih ikan - Memilih ikan segar yang baik untuk di jadikan sarden.
- Mengolah ikan mentah menjadi ikan sarden 5x8 jam = 40 jam Ceramah, tugas individu, praktek lapangan. LCD, Spidol, Whiteboard
2 Mengolah bumbu - Mengolah bumbu yang digunakan sebagai bahan tambahan dalam membuat ikan sarden supaya terasa lebih lezat.
5x8 jam = 40 jam Ceramah, tugas individu, praktek lapangan. LCD, Spidol, Whiteboard
3 Memasarkan produk - Mengemas produk se rapi mungkin
- Memasarkan produk yang telah di kemas di pasar terdekat 4x8 jam= 32 jam Ceramah, tugas individu, praktek lapangan. LCD, Spidol, Whiteboard



Total jampel 112 Jam























PRE TEST DAN POST TEST

Pendidikan dan Pelatihan
a. Apakah diklat yang di berikan mampu meningkatkan kualitas kerja masyarakat setempat?
b. Apakah diklat yang di berikan sesuai dengan tujuan diklat?

Pembelajaran Diklat
a. Apakah pembelajaran yang di sampaikan sesuai dengan kebutuhan sasaran diklat ?
b. Apakah pembelajaran yang disampaikan dapat meningkatkan kualitas kerja masyarakat setempat?
c. Apakah metode yang di sampaikan dapat meningkatkan cara masyarakat setempat memanfaatkan SDA yang melimpah?
Evaluasi
a. Apakah diklat yang diberikan mampu mengurangi angka pengangguran?
b. Apakah diklat yang di berikan mampu membuat masyarakat mempunyai pekerjaan sehingga tidak lagi menganggur?

PROPOSAL PENGELOLAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN Tentang Pendidikan dan Pelatihan Modifikasi Kreasi Motif Peci Kontemporer Guna Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Keluruhan Beringin Kecamatan Lubuak Kilangan Padang

PROPOSAL
PENGELOLAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Tentang
Pendidikan dan Pelatihan Modifikasi Kreasi Motif Peci Kontemporer Guna Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Keluruhan Beringin Kecamatan Lubuak Kilangan Padang






Oleh :
SHERLY
01286/2008




PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2010
1. Latar Belakang
Dikelurahan beringin, kecamatan lubuak kilangan terdapat lebih kurang 15 kepala keluarga. Di kelurahan beringin ini, banyak sekali sumber daya alam yang mampu diolah dengan baik, asal kan masyarakatnya mau mengoptimalkan sumber daya alam yang ada lebih baik lagi. Dilihat dari segi transportasi atau lalu lintas kendaraan yang melintasi kelurahan beringin, hanya beberapa alat transportasi saja yang bisa melintasi kelurahan beringin ini karena untuk memasuki daerah tersebut menggunakan jembatan gantung untuk menyeberang ke kelurahan beringin itu. Sehingga kendaraan yang dapat masuk kesana hanya sepeda motor saja. Kalaupun mobil atau sejenisnya ingin masuk ke kelurahan beringin ini perlu banyak waktu untuk menempuh kelurahan ini. Untuk itu perlu jalan yang berliku-liku atau berkelok-kelok untuk masuk ke dalam daerah tersebut. Hal inilah juga menjadi faktor penghambat dari pengembangan dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat kelurahan beringin kecamatan lubuak kilangan.
Dilihat dari segi mata pencaharian di kelurahan beringin kecamatan lubuak kilangan, mereka masing-masing bermata pencaharian bertani, berternak keramba,serta membuat kerajinan peci dan lain sebagainya. Diantara mata pencaharian itu, kerajinan turun-temurun yang dilakukan masyarakat kelurahan beringin yaitu merintis usaha peci. Bagi masyarakat kelurahan beringin usaha kerajinan ini sudah dirintis puluhan tahun yang lalu. Kerajinan ini biasanya dikerjakan oleh para ibu-ibu dari masing-masing kepala keluarga yang pekerjaannya dibantu oleh putra-putrinya yang dari kecil telah belajar membuat kerajinan peci ini. Masyarakat di daerah Kelurahan Beringin, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang yang keseharian masyarakatnya bermata pencaharian sebagai pengrajin peci.
Bagi para pengrajin peci tidak sedikit bahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah peci yang sempurna. Mesin jahit dan kualitas bahan dasar menjadi faktor utama dalam menentukan bagus atau tidaknya peci yang dihasilkan. Dalam pembuatan peci tentunya sejalan antara bagian luar dan bagian dalamnya, karena kualitas hasil produksi tidak hanya dilihat dari indah bentuk bagian luar saja, tetapi kerapian dan keindahan bentuk dari dalam sampai bagian luar adalah salah satu penentu banyaknya konsumen yang beminat dengan peci yang di produksi. Tentunya untuk hasil yang lebih sempurna juga harus didukung dengan modal yang serba mencukupi.
Pengrajin peci dari Kelurahan Beringin, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang telah merintis usaha peci sejak tahun 1970-an. Bagi masyarakat ini usaha peci adalah usaha satu keluarga yang telah berkembang seiring dengan berkembangnya keturunan keluarga tersebut. Karena keterbatasan alat yang dimiliki, para pengrajin peci ini melakukan pembuatan peci dengan menggunakan cara manual. Yaitu menjahit motif peci pada satu-persatu kain yang akan dijadikan sebagai lapisan peci. Tidak bisa membuat motif peci yang bernilai jual tinggi
a. Masalah
Ibu-ibu kelurahan beringin yang mengalami kesulitan membuat kreasi motif peci kontemporer yang bernilai seni dan bernilai jual tinggi.
b. Kebutuhan
Ibu-ibu kelurahan beringin kecamatan lubuak kilangan padang ingin mendapatkan keterampilan atau pengetahuan tentang cara membuat kreasi motif peci kontemporer. Agar ibu-ibu kelurahan beringin kecamatan lubuak kilangan dapat membuat kreasi Motif peci kontempor yang bernilai seni dan bernilai jual tinggi. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan. Ibu-ibu kelurahan beringin kecamatn lubuak kilangan. Dengan demikian kebutuhan sandang dan padang bagi keluarga terpenuhi dengan baik.
c. Tindakan
Memberikan keterampilan cara membuat kreasi motif peci kontemporer kepada ibu-ibu kelurahan beringin kecamatan lubuak kilangan
2. Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan ini antara lain:
Agar ibu-ibu kelurahan beringin kecamatan lubuak kilangan mampu membuat kreasi motif peci yang memiliki harga jual yang tinggi dipasaran. Sehingga pendapatan ibu-ibu tersebut menjadi meningkat.





3. Organisasi Penyelenggaraan Diklat
1. Kegiatan Diklat
Nama Diklat : Pendidikan dan Pelatihan Modifikasi Kreasi Motif Peci Kontemporer Guna Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Keluruhan Beringin Kecamatan Lubuak Kilangan Padang
Jenis Diklat : Diklat Administrasi dan Diklat Teknis

2. Kepanitiaan Diklat
Penanggung jawab : Drs. Refaldi, MM
: Drs. Erwin M. M.Ed
Ketua Pelaksana : Dra. Sherly, M.Pd
Sekretaris : Drs. Retno Pratama, M.Pd
Koor Bidang adminidtrasi : Anggiarici Oktaria, S.Pd
Anggota : Kurniawan Prima, S.Ag
: Vera Permana Sari, S.Pd
Koor Bidang Perlengkapan : Fadly Ramadhan, S.E
Anggota : Dinda Salsabila, A.Md
: Vina Meisiana, S.E
3. Alamat pelaksana : Jln. Pasar Mudik No 3 Padang Sumatera barat
4. Sasaran : Ibu-Ibu Kelurahan Beringin
5. Pelaksanaan
a. Tanggal : 19 Juli – 01 Agustus 2010
b. Lama : 13 Hari
c. Tempat : Ruang PKK Kelurahan Beringin
d. Persiapan/Pengarahan : - Juklis/Pedoman
: - Tata Tertib
: - Perlengkapan Peserta

6. Peserta
a. Jumlah : 20 Orang
b. Jenis Kelamin : Pr : 20 Orang
: Lk : - Usia/Umur
: Tertinggi : 45 Thn
: Terendah : 23 Thn
: Rata-rata : 30 Thn
c. Pendidikan : SMU/MA: 18 Orang
: D3 : 2 Orang
: S1 : -
7. Kurikulum
a. Jumlah Jam Pel 1 hari : 8 jampel
b. Jumlah Jam Pel Keseluruhan : 13 x 8 = 104 Jampel
c. Waktu Belajar : Pagi – Sore
d. Metode pembelajaran : Diskusi
: Ceramah
: Observasi Lapangan
: Praktek
8. Tenaga Kependidikan
a. Widyaiswara : 1 Orang
b. Widyaiswara Luar Biasa : -
c. Pengelola Lembaga : 3 Orang
d. Tenaga Professional Diklat : 5 Orang
9. Ujian
a. Frekuensi Ujian : 1 Kali
b. Pre Test : Ada
c. Post Test : Ada
10. Sarana dan prasarana
1. Akomodasi (asrama)
• Peserta : Tidak diasramakan
2. Ruang belajar (kelas)
• Luas
• Tata meja belajar : model huruf U
• Alat bantu latihan dalam ruang kelas
1) Papan tulis : 2 buah
2) OHP : 1 buah
3) Flip chart : 2 buah
4) Tape recorder : 1 buah
5) Sound system : 1 buah
6) Wireless : 1 buah
7) Mesin jahit : 20 buah
3. Ruang Praktek
Ruang Parktek : ada
Luas ruang Praktek :120 M2

11. Pembiayaan dan Penggunaan Dana
Adapun dana yang didapat dari kegiatan keterampilan menjahit kreasi peci engan motif kontenporer antara lain:
 Dana Masuk
 Kepala dinas kesejahteraan sosial Rp. 10.000.000
 Kepala departement pemerdaya masyarakat kecil dan menengah Rp. 15.000.000
 Dari warga belajar Rp. 2.000.000
TOTAL Rp. 27.000.000

 Dana Keluar
Keterangan Kredit Debet
Saldo

1. Kursi 40 bh x 20.000
2. Mesin Jahit 31 bh x 500.000
3. Kain bludru 31 m
4. Benang 12 pasang
5. Jarum 12 macam
6. Kain Puring 31 m
7. Lain-lain
8. Gaji Tenaga Kependidikan 9xRp 500.000
Total Pengeluaran
Sisa Saldo

Rp. 800.000
Rp. 15.500.000
Rp. 3.000.000
Rp. 100.000
Rp. 300.000
Rp. 500.000
Rp. 1.000.000
Rp. 4.500.000

Rp. 25.700.000
Rp. 27.000.000











Rp. 1.300.000























KURRIKULUM
PENGELOLAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Tentang
Pendidikan dan Pelatihan Modifikasi Kreasi Motif Peci Kontemporer Guna Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Keluruhan Beringin Kecamatan Lubuak Kilangan Padang

A. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Agar ibu-ibu kelurahan beringin kecamatan lubuak kilangan mampu membuat kreasi motif peci yang memiliki harga jual yang tinggi dipasaran. Sehingga pendapatan ibu-ibu tersebut menjadi meningkat dengan demikian angka kemiskinan pun dapat di kurangi.

B. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Adapun Tujuan Instruksinal khusus dari pada pelatihan ini adalah:
1. Menjadikan ibu-ibu kelurahan beringin kecamatan lubuak kilangan mampu memiliki keterampilan yang berdaya guna
2. Menjadikan ibu-ibu kelurahan beringin kecamatan lubuak kilangan memiliki penghasilan sendiri dari keterampilan yang di milikinya.
3. Mampu mengatasi masalah kemiskinan karena ibu-ibu kelurahan beringin kecamatan lubuak kilangan mempunyai penghasilan.
C. MATERI DIKLAT DAN SUB MATERI

No Materi diklat Sinopsisi materi Jamlat Metode Media
1 Tahap Pertama
Pengenalan kreasi motif kontenporer yang akan dibuat di peci tersebut, tentunya mempunyai nilai seni yang disesuaikan dengan selera pasar. 1x8 jam= 8 jam ceramah, tugas individu, diskusi. LCD, Spidol, Whiteboard
2 Tahap Kedua
Pengenalan bahan-bahan seperti benang, yang berkualitas baik dan bahan-bahan yang lainnya yang di butuhkan untuk membuat motif peci tersebut. 2x8 jam= 16 jam ceramah, tugas individu, diskusi. LCD, Spidol, Whiteboard
3 Tahap Ketiga Pengenalan metode atau cara menjahit kreasi motif peci yang bernilai seni dan bernilai jual yang tinggi. 5x8 jam= 40 jam ceramah, tugas individu, praktek lapangan LCD, Spidol, Whiteboard
4 Tahap Keempat
Menetapkan metode menjahit kreasi motif peci trsebut dengan menggunakan mesin jahit

5x8 jam= 40 jam ceramah, tugas individu, diskusi, praktek lapangan LCD, Spidol, Whiteboard
Total jam pel 104 jam













PRE TEST DAN POST TEST

Pendidikan dan Pelatihan
a. Apakah diklat yang di berikan mampu membuat peserta memiliki keterampilan baru?
b. Apakah diklat yang di berikan sesuai dengan tujuan diklat?
Pembelajaran Diklat
a. Apakah pembelajaran yang di sampaikan sesuai dengan kebutuhan sasaran diklat ?
b. Apakah pembelajaran yang disampaikan dapat meningkatkan pendapatan mereka sehari-hari?
Evaluasi
a. Apakah diklat yang diberikan mampu mengurangi angka kemiskinan?
b. Apakah diklat yang di berikan mampu memberikan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat?

pelatihan keterampilan memanfaatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih.

BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Sumber daya alam adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih sejahtera. Sumber daya alam bisa terdapat di mana saja seperti di dalam tanah, air, permukaan tanah, udara, dan lain sebagainya. Contoh dasar sumber daya alam seperti barang tambang, sinar matahari, tumbuhan, hewan dan banyak lagi lainnya.
Sumber daya alam yang ada harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar peranan dan fungsinya sebagai sumber yang dapat membantu proses kehidupan manusia dapat berjalan dengan baik. Dalam pemanfaatan sumber daya alam, diperlukan sumber daya manusia yang unggul supaya pemanfaatan sumber daya alam tidak menyimpang dari yang seharusnya.
Dalam hal ini, pendidikan mempunyai peranan penting untuk mengelola dan meningkatkan sumber daya manusia. Jalur pendidikan nasional terbagi menjadi tiga yaitu, pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal, ketiganya ini merupakan tri pusat pendidikan yang saling bahu-membahu, bantu-membantu meningkatkan kualitas manusia itu sendiri.
Pendidikan non formal sebagai salah satu jalur pendidikan nasional yang memiliki ruang lingkup yang sangat luas mencoba mewujudkan hal tersebut. Fungsi dari pendidikan non formal adalah setiap usaha yang dilakukan dengan sadar, sengaja, teratur, dan terencana untuk tujuan membantu warga dalam mengembangkan dirinya sehingga terwujudnya manusia yang gemar belajar, dalam upaya membantu pelayanan pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusia
Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 26 ayat 4 menyatakan bahwa yang termasuk dalam satuan pendidikan luar sekolah yaitu, lembaga kursus, lembaga pelatihan (life skill), pusat kegiatan masyarakat, majlis taklim, taman bacaan masyarakat, pendidikan anak usia dini, dan satuan pendidikan sejenis yang kesemuanya itu berfungsi meningkatkan sumber daya manusia Indonesia.

Berdasarkan observasi yang penulis lakukan, bisa dilihat perusahaan mebel/furniture di Kabupaten Agam saat ini jumlahnya sudah membanjir. Produksinya seperti tempat tidur, lemari, sofa, meja dan lain-lain berbahan dasar kayu. Dalam pengolahannya menyisakan limbah serbuk gergaji. Limbah serbuk gergaji ini dibiarkan menumpuk dalam jumah ribuan kubik. Selama ini limbah serbuk kayu banyak menimbulkan masalah, dengan dibiarkan membusuk, ditumpuk dan dibakar yang kesemuanya berdampak negatif terhadap lingkungan sehingga penanggulangannya perlu dipikirkan. Salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah memanfaatkannya menjadi produk yang bernilai tambah dengan teknologi aplikatif dan kerakyatan sehingga hasilnya mudah disosialisasikan kepada masyarakat seperti memanfaatkan limbah serbuk gergaji tersebut sebagai media tanam jamur tiram putih.
Dewasa ini budidaya jamur (Mushrooming the mushroom) yang dapat dimakan telah banyak dilakukan orang yaitu dengan menggunakan limbah pertanian sebagai media tumbuhnya. Budidaya jamur yang dapat dimakan (edible mushroom) merupakan salah satu cara mengatasi kekurangan pangan dan gizi serta menganekaragamkan pola komsumsi pangan rakyat. Dari analisa menunjukkan bahwa kandungan mineral jamur lebih tinggi daripada gading sapi dan domba, bahkan hampir dua kali lipat jumlah garam mineral dalam sayuran. Jumlah proteinnya dua kali lipat protein asparagus, kol, kentang dan empat kali lipat daripada tomat dan wortel serta enam kali lipat dari jeruk. Selain itu jamur juga mengandung zat besi, tembaga, kalium dan kapur, kaya vitamin B dan D, sejumlah enzim tripsin yang berperan sangat penting pada proses pencernaan, kalor dan kolesterolnya rendah. Beberapa keuntungan budidaya jamur yaitu :
1. Melalui pemanfaatan bahan-bahan limbah di sekitar kita akan menjadikan lingkungan kita bersih, indah dan sehat.
2. Budidaya jamur dapat diusahakan tanpa menggunakan lahan yang luas
3. Produk Jamur dapat dimanfaatkan untuk menambah gizi atau menu serta dapat menambah pendapatan keluarga.
4. Kompos bekas media tanam dapat langsung digunakan untuk pupuk kolam ikan, makanan ikan dan untuk memelihara cacing.
Namun dalam memanfaatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih, masyarakat Dusun Lima Suku mempunyai kesulitan, karena masyarakat dusun ini tidak memiliki pengetahuan, keahlian dan keterampilan dibidang ini. Melihat fenomena tersebut, maka penulis sebagai agent of change tergerak untuk mengadakan pelatihan keterampilan memanfaatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih.

B. RUMUSAN MASALAH
Masyarakat Dusun Lima Suku Nagari Sungai puar memiliki 3 masalah yang patut diselesaikan. Diantaranya sebagai berikut:
A. Adanya limbah gergaji yang tidak dimanfaatkan sebaik mungkin
Limbah gergaji yang selama ini dianggap sebagai sampah yang tidak bisa dipakai lagi, dibiarkan menumpuk dan membusuk. Sehingga berdampak negative terhadap lingkungan sekitar. Sebab terjadinya paradigma ini adalah karena:
1. Masyarakat setempat tidak memiliki keterampilan dan keahlian yang cukup untuk mengolah limbah serbuk gergaji tersebut menjadi media tanam jamur tiram putih.
2. Masyarakat setempat tidak memiliki pengetahuan yang luas tentang usaha budidaya jamur tiram yang menguntungkan.
3. Masyarakat setempat tidak memiliki contoh figure pengusaha jamur tiram putih yang telah sukses.
Jika hal ini dibiarkan akan mendatangkan masalah baru seperti:
1. Limbah serbuk gergaji yang dibiarkan menumpuk akan membusuk dan mengundang mikroba atau bakteri berbahaya berkembang biak disana, sehingga secara tidak langsung mikroba atau bakteri tersebut akan menyebarkan penyakit menular kepada masyarakat setempat.
2. Limbah serbuk gergaji yang dibiarkan menumpuk akan membusuk akan menganggu keindahan pemandangan Dusun Lima Suku
Solusi untuk masalah ini adalah dengan memberikan Keterampilan ini tentu akan menambah pendapatan masyarakat setempat, karena hasil olahan dari serbuk gergaji tersebut bisa dijual dengan harga yang relative mahal. Sehingga dapat membuka peluang bisnis yang baru dan tentunya lebih menggiurkan.
B. Adanya perilaku menyimpang siswa SMA kepada siswa SMP dan SD Banu Hampu Sungai Puar.
Lokasi sekolah SMA, SMP dan SD Banu Hampu Sungai Puar bersebelahan dan hanya dipisahkan oleh tembok kecik setinggi lutut orang dewasa. Jika saat jam istirahat pelajaran berlangsung siswa-siswa SMA banyak yang berkeliaran di lingkungan sekolah SD dan SMP. Siswa SMA yang berkeliaran itu, tidak segan-segan meminta uang dan makanan kepada siswa SD dan SMP secara paksa, bahkan tak jarang siswa SD dan SMP yang menangis dibuatnya.
Jika hal ini dibiarkan, tentu akan membuat kondisi perkembangan psikologis siswa SMP dan SD menjadi terganggu, bahkan tak jarang siswa SD dan SMP yang lebih memilih kabur pulang jika sedang diganggu oleh siswa SMA. Solusi untuk masalah ini adalah pemberian pembinaan emosional siswa SMA agar tidak lagi bertindak semena-mena terhadap yang lebih kecil darinya.
C. Adanya kalangan masyarakat yang tidak melek huruf, terutama kalangan lansia.
Mayoritas lansia didusun ini, tidak melek huruf atau tidak bisa baca tulis jug abaca al-qur’an. Kalangan lansia yang tidak pandai baca-tulis membuat masyarakat dusun ini semakin ketinggalan dari masyarakat dusun lainnya. Lansia yang tidak pandai baca tulis dikarenakan pada masa mudanya belum pernah mengenyam bangku pendidikan.
Jika hal ini dibiarkan tentu akan berdampak pada lansia itu sendiri, misalnya lansia akan mengalami kesulitan membaca surat dari cucu dan sanak saudaranya yang jauh diperantauan, mudah ditipu orang, tidak bisa baca al-qur’an tiap harinya dan masih banyak kerugian lain yang dirasakan. Solusi untuk masalah ini adalah pemberian keterampilan keaksaraan fungsional pada kaum lansia secara berkesinambungan.

C. BATASAN MASALAH
Berdasarkan permasalahan yang di analisa diatas, maka penulis memilih masalah pada point pertama yaitu adanya limbah serbuk gergaji yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat sebaik mungkin. Sehingga perlu diberikan keterampilan pengolahan serbuk limbah gergaji menjadi media tanam jamur tiram putih yang memiliki banyak manfaat dan kandungan gizi.
.
D. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
Berdasarkan analisa permasalahan diatas, maka penulis memberikan alternatif pemecahan permasalahan, sebagai berikut:
1. Pemberian penyuluhan tentang manfaat pandai mengolah limbah serbuk gergaji
2. Pemberian pelatihan keterampilan memanfaatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih.
3. Pemberian gambaran prospek usaha budidaya jamur tiram putih.
Banyak alasan mengapa budidaya jamur tiram yang menjadi pilihan dalam program pelatihan keterampilan ini yaitu:
1. Bahan baku jamur mudah didapatkan dan harganya sangat murah, bahkan bisa mengambil serbuk gergaji yang terbuang tanpa harus membeli.
2. Biaya pembuatannya murah
3. Proses pembuatan dan perawatannya sangat mudah
4. Kebutuhan pasar local akan kebutuhan jamur tiram ini masih sangat tinggi dengan harga jual yang tinggi
5. Produk ini memiliki kandungan gizi yang tinggi dan variasi olahan yang banyak.
Dalam penelitian oleh Yayasan AGBI Sukabumi dan Dinas Pertanian (1995) ditemukan bahwa kadar protein jamur tiram putih mencapai 27%, karbohidrat 58%, serat 11,5%, lemak 1,6% dan kalori sebesar 265 kkal. Kandungan gizi tersebut sebenarnya cukup untuk menggambarkan betapa baiknya komposisi jamur tiram sebagai satu jenis makanan organic. Sehingga pakar kesehatan banyak yang menganjurkan masyarakat agar terbiasa mengkonsumsi jamur tiram ini. Selain alasan teknis tersebut, alasan social yang mendasari program ini adalah sebagai sarana pengentasan kemiskinan dan mengurangi pengangguran.

E. FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT
A. Faktor Pendukung
Factor pendukung program pelatihan keterampilan memanfaatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih adalah sebagai berikut:
1. Tersedianya bahan baku limbah serbuk gergaji yang berlimpah dan mudah didapatkan.
2. Lokasi Dusun Lima Suku yang berada di kaki gunung merapi mempunyai suhu sekitar 24-28oC, kondisi ini dapat membantu tumbuhnya jamur dengan subur dan baik.
3. Adanya antusiasme yang tinggi dari warga belajar dan masyarakat setempat
4. Adanya dukungan dari wali nagari sungai puar berserta jajarannya
5. Tersedianya tempat belajar yang layak digunakan sebagai tempat penyimpanan baglog (media tanam jamur tiram putih)
6. Adanya sarana dan prasana yang menunjang
7. Tersedianya sumber belajar
8. Tersedianya dana belajar
B. Factor penghambat
1. Membutuhkan ketelitian, keuletan dan kesabaran sumber belajar serta warga belajar
2. Membutuhkan waktu pelatihan yang lama
3. Membutuhkan biaya yang tidak sedikit

F. TUJUAN PROGRAM
a. Tujuan umum
Tujuan umum dari program ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan tentang cara memanfaatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih, sehingga keterampilan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan pendapatan keluarga.
b. Tujuan khusus
1. Warga belajar dapat mengetahui cara memanfaatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih
2. Warga belajar dapat mengenal jenis dan alat yang dipergunakan dalam pelatihan ini
3. Warga belajar dapat mengetahui setiap langkah cara mengolah serbuk gergaji menjadi media tanam jamur tiram putih secara mendetail
4. Warga belajar dapat memanen jamur tiram putih yang baik dan bergizi
5. Warga belajar dapat mengetahui cara pemberantasan hama penyakit pada baglog (media tanam jamur tiram putih)
6. Warga belajar dapat mengetahui manfaat dan kandungan gizi dari jamur tiram putih tersebut
7. Warga belajar mempunyai keterampilan yang berdaya guna dan dapat dimanfaatkan sebagai mata pencaharian yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan hidup.

BAB II
AKTIFITAS PENGEMBANGAN PROGRAM
A. PENGERTIAN KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL)
Kecakapan hidup (Life Skill) yaitu kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan, kemudian secara proaktif dan kreatif, mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya.
Dengan bekal kecakapan hidup yang baik, diharapkan masyarakat akan mampu memecahkan problema kehidupan yang dihadapi, termasuk mencari atau menciptakan pekerjaan bagi mereka yang tidak melanjutkan pendidikannya. Sehingga dapat membantu problema pemerintah dalam upaya mengeyaskan kemiskinan dan pengangguran.
Untuk mewujudkan hal ini, perlu diterapkan prinsip pendidikan berbasis luas yang tidak hanya berorientasi pada bidang akademik atau vokasional semata, tetapi juga memberikan bekal learning how to learn sekaligus learning how to unlearn, tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktekkannya untuk memecahkan problema kehidupan sehari-hari (Bently, 2000).
Permasalahan yang terjadi pada masyarakat Dusun Lima Suku Nagari Sungai Puar adalah ketidakmampuan mengolah limbah serbuk gergaji yang berserakan dan di buang begitu saja. Padahal serbuk limbah gergaji yang dibuang percuma tersebut, dapat dimanfatkan sebagai media tanam jamur tiram putih. Untuk itu, perlu diadakan pelatihan keterampilan memanfatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih dengan media tanam serbuk gergaji.

B. PERENCANAAN PROGRAM
A. Nama Program
Nama program ini adalah pelatihan keterampilan memanfaatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih di Dusun Lima Suku Nagari Sungai Puar Kecamatan Banu Hampu Kabupaten Agam
B. Sasaran Program
Adapun yang menjadi sasaran program pelatihan keterampilan memanfatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih ini berjumlah 12 orang berasal masyarakat Sungai Puar dan masyarakat Dusun Lima Suku. Dengan latar belakang yang berbeda-beda dan lebih ditekankan pada pemuda setempat yang belum memiliki lapangan pekerjaan tetap, seperti terlampir pada tabel berikut ini.
No Nama Latar belakang Keterangan
1 Ahmad Lulusan SMP Tukang ojek
2 Eko Lulusan SMA Tukang ojek
3 Syafril Lulusan SD Supir angkot
4 Anto Lulusan SD pengangguran
5 Ilham Lulusan SMP pengangguran
6 Fadli Lulusan SMP pengangguran
7 Veri DO pengangguran
8 Upik Ibu Rumah Tangga pengangguran
9 Nurlaela Lulusan MTS pengangguran
10 Fitri Lulusan SMP pengangguran
11 Sari Lulusan SMA pengangguran
12 Ros Ibu Rumah Tangga pengangguran

C. Sumber Belajar
Adapun sumber belajar program pelatihan keterampilan memanfatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih ini ada 2 orang yang berkompoten dibidangnya masing-masing, yaitu:
1. Drs. Refaldi Rustam, S.P
Ahli di bidang pertanian
2. Retno Pratama, S.E
Wiraswastawan jamur tiram putih yang telah sukses
D. Materi Pelatihan
Materi yang akan diberikan pada program pelatihan keterampilan memanfatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih ini adalah:
A. Proses awal
1. Penyiapan sarana
- Menyiapkan ruang penyimpanan serbuk gergaji
Ruangan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan serbuk gergaji yang baru diambil dari pabrik pengolahan kayu, bangunannya bisa terbuat dari tiang bambu yang beratapkan rumbiadan beralaskan tanah dengan luas sesuai kebutuhan.
- Menyiapkan ruang pengayakan, pengadukan, fermentasi dan pengisian baglog
Ruangan terbuat dari rangka bambu dan atap rumbia dan berfungsi mengolah serbuk gergaji dari mulai pengayakan atau pemisahan serbuk yang kasar dengan yang halus yang digunakan untuk media tanam, juga digunakan untuk mengaduk berbagai macam bahan yang digunakan sebagai media jamur, sekaligus berfungsi sebagai ruang fermentasi sebelum masuk kedalam baglog (media tanam jamur yang terbuat dari serbuk gergaji yang dipadatkan dan telah diberi nutrisi)
- Menyiapkan ruang penanaman
Ruangan yang juga terbuat dari rangka bambu dan atap rumbia berfungsi sebagai tempat penanaman. Ruangan ini harus tertutup agar menghindari kemungkinan jamur terkontaminasi dengan mikroba lain
- Menyiapkan ruang pembesaran
Ruangan terbuat dari rangka bambu dan atap rumbia, didalamnya hanya ada rak-rak yang terbuat dari reng bambu, ruangan ini berfungsi sebagai tempat untuk menumbuhkan dan membesarkan jamur sampai siap panen.
2. Penyiapan Alat dan Bahan
Alat-alat yang diperlukan dalam program pelatihan keterampilan memanfatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih ini adalah:
- Tungku rebus
- Drum untuk merebus
- Smawar lengkap dengan selangnya
- Jerigen
- Lampu spiritus
- Pinset
- Plastic untuk log ukuran 18x30 cm tebal 0,4 mm
- Cincin ¾ inci dari bahan paralon
- Korek api
- Kertas Koran
- Karet gelang
- Plastic terpal
Adapun bahan yang diperlukan dalam program pelatihan keterampilan memanfatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih ini adalah:
- Bibit jamur
- Alcohol
- Spirtus
- Air untuk merebus
- Serbuk gergaji
- Dedak
- Kapur
- Gypsum
B. Proses pembuatan
Sebelum ditanam bibit, bahan-bahan media tanam tersebut di komposkan terlebih dahulu selama 15 hari dengan tahapan sebagai berikut :
1. Serbuk gergaji yang telah benar-benar kering direndam dengan air bersih didalam suatu wadah selama 1 malam.
2. Tiriskan (sampai dikepal tidak pecah), selanjutnya tambahkan tambahkan kapur beserta bekaltul dan diaduk sampai rata. Biarkan dalam tumpukan selama 5 hari.
3. Tumpukan diaduk kembali dengan ditambahkan pupuk TSP dan biarkan
selama 5 hari.
4. Bahan diaduk kembali dan tambahkan gips. Biarkan lagi tumpukan itu
sampai 5 hari, maka proses pengomposan telah selesai.
C. Proses Pembungkusan
Bahan-bahan media tanam yang telah dikomposkan dimasukkan ke dalam kantong plastik. Kantong plastik pada kedua ujung pangkalnya ditekuk kedalam, sehingga setelah diisi dan dipadatkan kantong plastik dapat berdiri seperti botol.
Kantong plastik diisi kurang lebih ¾ bagian, kemudian yang ¼ bagiannya ditekuk ke dalam.Untuk meletakkan kantong plastik yang telah diisi (polibek) pada posisi terbalik yaitu bagian yang ditekuk/ dilipat kedalam ditempatkan dibawah.
D. Proses Sterilisari
Siapkan alat drum perebus beserta perlengkapannya. Sarangan diletakkan kira-kiran 1/3 bagian drum dari bawah. Isilah drum dengan air bersih kira-kira ¼ bagian drum. Sumber panas dinyalakan, sambil media tanam dimasukkan ke dalam platik besar tahan panas yang menjulur ke atas drum. Proses sterilisasi dengan uap ini dilakukan selama 6 – 8 jam pada suhu 90 – 95 C.
E. Teknik Penanaman Bibit ( Inokulasi )
Setelah proses sterilisasi selesai, polibek dari drum diambil keluar dan dibiarkan dingin. Bila telah dingin, proses inokulasi dapat dilakukan yaitu dengan cara memasukkan bibit dibagian atas, usahakan merata dibagian atas permukaan media dalam polibek. Untuk mengikatkan plastik agar kuat, ujung polibek dimasukan potongan pralon (cincin), kemudian ditutup dengan potongan kertas koran dan diikat dengan karet gelang. Saat inokulasi sebaiknya jangan sampai melebihi dari 24 jam setelah proses sterlisasi.
F. Pemeliharaan dan Inkubasi
Polibek yang telah di inokulasi ditempatkan pada rak-rak yang telah disediakan. Rak-rak ini sebaiknya ditempatkan dalam suatu ruangan agar suhu dan kelembabannya tidak terpengaruh oleh udara luar. Suhu dan kelembabannya diusahakan stabil sesuai dengan kondisi yang diinginkan bagi pertumbuhan jamur yaitu 24 – 28 C dan kelembaban udara 80 – 90 %. Polibek tersebut dibiarkan selama 6 – 8 minggu sampai miselium tumbuh memenuhi kantong palstik sehingga warnanya putih padat.
G. Pembukaan Polibek
Setelah polibek berwarna putik kompak (umur 6 – 8 minggu), maka polibek dapat dibuka dengan melepas karet dan cincin pralon. Kemudian plastik yang terbuka disibakkan keluar agar permukaan media tumbuh jamur mendapatkan udara sebanyak-banyaknya.
H. Pemanenan Jamur
Setelah 1 minggu dari pembukaan, jamur biasanya akan terbentuk tubuh / rumpun jamur dan sudah ada yang siap dipanen. Umur jamur dari ”singit”/ bakal jamur sampai panen sekitar 3 hari.
I. Perawatan Media Polibek
Setiap polibek yang telah ditumbuhi miselium dapat tumbuh jamur berkali- kali, sampai 4 – 6 kali panen. Pemanenan ini dapat berlangsung selama 2 – 3 bulan dengan hasil total 75% dari berat serbuk gergaji kering untuk substratnya. Agar media tumbuh jamur berkali-kali maka perlu pemeliharaan. Adapun pemeliharaannya adalah sebagai berikut :
1. Media polibek yang telah tumbuh jamur sekali, permukaan bekas tumbuh jamur dikeruk atau dipotong 0,5 – 1 cm. Kemudian disuntikkan kedalamnya larutan vitamin B kompleks sekitar 30 cc (2 butir Vit. B komplek dilarutkan dalam 1,5 liter air bersih).
2. Setiap pagi dan sore permukaan media polibek disemprot dengan air bersih, jangan sampai terlihat kering permukaannya.
3. Untuk media polibek yang telah tumbuh jamur kedua, ketiga dan seterusnya diperlakukan sama dengan point 1 dan 2, hanya saja jumlah vitamin B kompleks yang disuntikkan semakin berkurang sebanding dengan berkurangnya media yang dipotong/dibuang.
J. Pemberatantasan Penyakit
Apabila proses sterilisasi berjalan dengan sempurna dan peralatan yang dipakai bersih dan steril, maka tidak ada kontaminasipada subsratnya. Apabila ada polibek terkontaminasi/ terkena penyakit, sebaiknya polibek tersebut dibuang saja agar tidak menular dan menyebabkan turunnya produksi.
E. Waktu Pelatihan
Adapun waktu pelatihan yang diperlukan dalam program pelatihan keterampilan memanfatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih ini adalah tiap 2 hari dalam seminggu, di lakukan dalam 4 bulan pelatihan yang berkelanjutan, dimulai dari tanggal 3 Februari 2011 - 27 Mei 2011 rinciannya adalah sebagai berikut:
Hari : Kamis, Jum’at
Jam : 14.00 – 18.00
F. Tempat
Adapun tempat latihan dalam program pelatihan keterampilan memanfatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih ini adalah di Gedung TPA/TPSA lama yang sudah tidak terpakai tetapi masih layak dipakai terletak tepat di sebelah mesjid raya lima suku sungai puar.


G. Dana
A. Dana Masuk
Dana masuk yang diperlukan dalam program pelatihan keterampilan memanfatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih ini berasal dari:
1. APBD : Rp. 3.000.000,-
2. Sponsor : Rp. 1.500.000,-
3. Sumbangan warga : Rp. 1.000.000,-
4. Sumbangan per orang Rp 50.000 : Rp. 600.000,-
Grand total : Rp. 6.100.000,-
B. Dana Keluar
No Keterangan Volume @ Jumlah
1 Rak ukuran 1x 0,5 m2 3 buah 150.000 450.000,-
2 Perlatan sprayer 1 paket 50.000 50.000,-
3 Baglog 100 bh 3000 300.000,-
4 Plastik bungkus ukuran 25 x 40 1 kg 50.000 50.000,-
5 Drum untuk merebus 1 bh 75.000 75.000,-
6 Smawar lengkap dengan selangnya 1 paket 150.000 150.000,-
7 Jerigen 5 buah 15.000 75.000,-
8 Cincin ¾ inci dari bahan paralon 100 buah 2.000 200.000,-
9 Bibit jamur 5 kg 80.000 400.000,-
10 Alcohol 4 liter 100.000 400.000,-
11 Spirtus 5 liter 100.000 500.000,-
12 Serbuk gergaji 50 karung 5.000 250.000,-
13 Dedak 3 karung 30.000 90.000,-
14 Kapur 3 karung 50.000 150.000,-
15 Gypsum 2 karung 30.000 60.000,-
16 Intensif instructor 2 orang 1.000.000 2.000.000,-
TOTAL 5.200.000,-
SISA DANA 900.000,-
H. Metode
Dalam program ini digunakan metode ceramah, yanya jawab. demonstrasi, dan praktek langsung
I. Sarana dan prasarana
Dalam program ini sarana dan prasarana yang digunakan adalah tempat belajar, rak-rak penyimpanan baglog, spidol, whiteboard, buku panduan, buku tulis, dan pena.
J. Evaluasi
Evaluasi dilakukan selama proses pelaksanaan sampai akhir hasil pelatihan oleh instruktur dan pengelola program adalah sebagai berikut:
1. Jumlah proporsi pupuk TSP, kapur, gips dan bibit harus sesuai dengan takaran yang telah ditentukan
2. Cara membungkus baglog harus seperti yang telah dicontohkan
3. Suhu dan temperature harus stabil pada saat proses sterilisasi berlangsung
4. Teknik penanaman bibit pada baglog yang telah diberi pupuk harus secara merata agar pertumbuhan jamur pun bisa baik dan merata
5. Perawatan dan pemeliharaan baglog setelah dipanen, agar bisa digunakan untuk 2-3 kali panen berikutnya
6. Proses pemberantasan hama penyakit agar pada baglog tidak tumbuh mikroba dan bakteri lain yang tidak diperlukan.
7. Setelah dilakukan pelatihan ini, diharapkan warga belajar mampu mendirikan usaha budidaya jamur tiram putih secara mandiri
K. Ragi
Pemberian ragi belajar kepada warga belajar pelatihan keterampilan jamur tiram puith ini berupa sertifikat penghargaan yang dapat digunakan sebagai bukti telah melaksanakan pelatihan keterampilan memanfatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih.
L. Sturuktur Kepanitian
Adapun sturuktur kepanitian dalam program pelatihan keterampilan memanfatkan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih ini adalah:
Ketua Pelaksana : Sherly
Sekretaris : Vina Meisiana
Bendahara : Shofa Anzalnia
Sie Kestari : Lia Subarina
: Muhammad Yogie Sutrisno
Sie Perlengkapan : Rian Indra Gunawan
: Arief Gunawan
Sie Dokumentasi : Dedi Iskandar
: Dedeh Kusmiati
















BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Program pelatihan budidaya jamur tiram putih adalah salah satu program yang bertujuan untuk memberikan keterampilan memanfaatkan limbah serbuk gergaji menjadi media tanam jamur tiram putih, yang kemudian bisa dijadikan mata pencaharian guna peningkatan taraf perekonomian masyarakat Dusun Lima Suku Nagari Sungai Puar dan secara tidak langsung dapat membantu pemerintah mengurangi angka pengagguran dan kemiskinan.

B. SARAN
Saran yang dapat diberikan pada program pelatihan budidaya jamur tiram putih ini adalah sebagai berikut:
1. Agar hasil yang diharapkan bisa maksimal, maka pada saat pelatihan diperlukan ketelitian dan keseriusan warga belajar agar jamur yang dipanen adalah jamur yang terbaik dan bergizi, karena jika salah sedikit saja makan akan berpengaruh pada jamur yang dihasilkan
2. Agar media tanam bisa dimanfaatkan dengan baik, maka pemeliharaan baglog dari mikroba dan bakteri yang merugikan perlu dilakukan dengan cara menyempt\rotkan vitamin B kompleks pada baglog tersebut










DAFTAR PUSTAKA

Pradnyamitha. 2008. Jamur tiram makanan para dewa. [terhubung berkala]. http://bayivegetarian.com/?tag=jamur-tiram [diakses tanggal 6 januari 2011].
Sudjana,D(2004). Pendidikan non formal. Bandung.Falah production.
Winarni R, Rahayu U. 2002. Pengaruh formulasi media tanam dengan bahan dasar sebuk gergaji terhadap produksi jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus). [terhubung berkala]. http://pustaka.ut.ac.id/puslata/pdf/70032.pdf [diakses tanggal 13 januari 2011].