TUGAS AKHIR SEMESTER
ARTIKEL
TENTANG
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN PELATIHAN
DENGAN MODEL PEMBELAJARAN TERPADU
PADA SATUAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
Oleh :
Hj. Melly Sri Sulastri Rifai, Mustofa Kamil
OLEH
S H E R L Y
01286/2008
JURUSAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2011
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN PELATIHAN
DENGAN MODEL PEMBELAJARAN TERPADU
PADA SATUAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
Oleh :
Hj. Melly Sri Sulastri Rifai, Mustofa Kamil
ABSTRAK
Kegiatan pembelajaran dalam Pendidikan Luar Sekolah (PLS) tidak sebagaimana umumnya dilakukan dalam pendidikan sekolah, karena PLS berorientasi pada pendidikan sepanjang hayat. Pada Pendidikan Luar Sekolah (PLS), dikenal istilah membelajarkan peserta belajar. Membelajarkan dalam PLS memiliki konteks yang bervariasi, di samping perbedaan dan penerapannya. Istilah-istilah yang dikenal antara lain berupa bantuan dalam arti memberi bantuan untuk memberikan kemudahan (to facilitate), mendorong (to motivate) dan atau bimbingan belajar. Penerapnnya akan tergantung pada situasi kegiatan belajar yang akan atau sedang dilakukan. Pembelajaran pada pendidikan luar sekolah merupakan upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh sumber belajar yang dapat menyebabkan warga belajar melakukan kegiatan belajar. Dari kegiatan pembelajaran pada pendidikan luar sekolah yang telah diilustrasikan tersebut, perlu dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengembangkan model pembelajaran pelatihan yang sesuai dengan konteks dari satuan PLS. Model pembelajaran pelatihan sebagai produk akhir dari penelitian ini, dikembangkan dengan menggunakan pendekakatan Research and Development (R & D). Dari penelitian yang telah dilakukan menghasilkan desain model pembelajaran pelatihan terpadu sebagai hasil uji coba pada dua jenis satuan PLS, yaitu KBU dan Pelatihan Bidang Kesehatan.
Kata Kunci : Model, Pembelajaran, Pelatihan, PLS
A. PENDAHULUAN
Belajar sepanjang hayat telah menjadi suatu kebutuhan bagi setiap individu, karena belajar itu sendiri merupakan proses, pemahaman dan keahlian yang dapat dipelajari dan dapat diajarkan. Apabila proses belajar sepanjang hayat mutlak diperlukan, maka bagaimana cara belajar diduga dapat dilaksanakan dengan mudah, sehingga belajarpun menempati kepentingan yang nyata. Belajar sepanjang hayat merupakan bagian dari kehidupan yang abadi pada setiap orang, sehingga orang itu dapat mengakses pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk meningkatkan kemampuan dan motivasi belajar yang berlangsung baik di sekolah maupun diluar sekolah.
Pendidikan sepanjang hayat dapat dijabarkan ke dalam program-program pendidikan formal, non formal maupun informal. Pendidikan sepanjang hayat merupakan landasan yang kuat dalam menumbuhkan masyarakat gemar belajar, sebagai prasyarat bagi tumbuhnya masyarakat terdidik. Penekanan yang perlu menjadi perhatian sebagaimana dikemukakan Djudju Sudjana (2001 : 224), bahwa : “kegiatan belajar yang dilakukan oleh setiap warga masyarat tidak terbatas hanya untuk mengetahui atau belajar sesuatu (learning how to learn), tidak pula belajar hanya untuk memecahkan masalah yang timbul dalam kehidupan (learning how to be) atau (learning how to live).
Pendidikan sepanjang hayat ini lebih difokuskan pada pendidikan orang dewasa. Istilah pendidikan orang dewasa digunakan setidaknya dengan tiga cara, yaitu : Pertama, digunakan untuk menggambarkan sebuah proses dimana orang melanjutkan untuk belajar setelah pendidikan formalnya berhenti. Kedua, adalah untuk menunjukkan aktivitas organisasi lembaga dan institusi yang disediakan untuk orang dewasa. Ketiga adalah untuk menyampaikan ide dari sebuah bidang sosial atau praktisi atau pergerakan.
Pendidikan orang dewasa yang dimaksud saat ini telah berkembang di masyarakat melalui program-program pelatihan pada Pendidikan Luar Sekolah (PLS). Pelatihan merupakan istilah yang meliputi bermacam-macam kegiatan. Waktu pelaksanaan kegiatan bervariasi mulai dari jangka waktu pendek seperti pelatihan satu hari yang dilangsungkan secara demonstrasi dilapangan, sampai pada jangka waktu panjang seperti pengembangan profesionalisme yangdiselenggarakan dalam jangka waktu beberapa bulan.
Pelatihan merupakan proses untuk memfasilitasi belajar setiap individu atau kelompok orang yang akan diuntungkan dengan memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap baru.Belajar melalui pelatihan pada program Pendidikan Luar Sekolah ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
1) Pembelajar memutuskan apa yang penting untuk dipelajari.
2) Pembelajar perlu untuk memvalidasi informasi berdasarkan kepercayaan dan pengalaman mereka.
3) Pembelajar merupakan orang-orang yang berpengalaman dan mungkin sudah memiliki pandangan yang tetap terhadap suatu permasalahan.
4) Pembelajar mungkin memiliki pengetahuan yang luas dan dapat menyediakan informasi dan bimbingan kepada peserta pelatihan lainnya.
5) Pembelajar mengharapkan apa yang mereka pelajari dapat segera mereka manfaatkan.
Dalam upaya memberikan pengalaman belajar kepada warga belajar yang sesuai dengan karakteristik tersebut di atas, perlu adanya inovasi-inovasi baru khususnya dalam penyelenggaraan pelatihan keterampilan pada program PLS. Inovasi yang dapat dilakukan dalam pelatihan keterampilan diantaranya dengan mengembangkan berbagai model pembelajaran yang disesuaikan dengan durasi pelatihan, peserta pelatihan, biaya pelatihan dan program pelatihan itu sendiri.
Penelitian ini akan mengkaji peran model pembelajaran pelatihan keterampilan pada program Pendidikan Luar Sekolah. Fokus penelitian ini adalah penciptaan model pembelajaran serta pengkajian tentang keefektifannya dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Penelitian ini perlu dilakukan, karena pelatihan keterampilan pada program Pendidikan Luar Sekolah merupakan program belajar yang penting di dalam memberikan bekal kepada para peserta pelatihan untuk hidup mandiri. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi terobosan yangdapat meningkatkan proses pembelajaran pada berbagai jenis pelatihan keterampilan dalamprogram Pendidikan Luar Sekolah, yang pada akhirnya diharapkan memberikan peluang kepada peserta pelatihan untuk mampu membuka lapangan kerja baru baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain.
B. KAJIAN PUSTAKA
1. Satuan Pendidikan Luar Sekolah
Satuan Pendidikan Luar Sekolah yang sudah berkembang dan dikenal oleh masyarakat yang berfungsi sebagai pengganti, penambah dan atau pelengkap pendidikan formal dalam mendukung pendidikan sepanjang hayat sebagai berikut:
a) Kursus
Lembaga kursus adalah lembaga yang menyelenggarakan kegiatan kursus, baik oleh perorangan maupun kelompok/lembaga dan mendapat ijin dari insantansi berwenang. Kursus dapat diselenggarakan pula oleh lembaga internasional atau badan kelembagaan swasta asing di wilayah Republik Indonesia dengan ketentuan harus tunduk pada peraturan perundang-undangan dan hokum yang berlaku di Indonesia.
Satuan kursus diselenggarakan bagi peserta didik yang memerlukan pengembangan diri, bekerja mencari nafkah dan melanjutkan pendidikan. Kursus terdiri dari tiga tingkat kemampuan, yaitu: dasar, menengah dan lanjutan. Kursus umumnya diselenggarakan oleh lembaga kemasyarakatan yang berkembang pesat dalam jumlah lembaga penyelenggara serta jenis-jenis program mampu merespons dan mengorganisir kebutuhan masyarakat.
b) Lembaga Pelatihan
Lembaga pelatihan adalah lembaga atau organisasi yang mengembangkan PLS baik lembaga pemerintahan ataupun swasta yang menyelenggarakan kegiatan pelatihan. Pelatihan sendiri merupakan suatu proses pembelajaran yang memungkinkan pegawai melaksanakan pekerjaan yang sekarang sesuai dengan standar. Pelatihan diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sesuai kebutuhan organisasi atau individu dalam lingkup lembaga tersebut. (Pusdiklat Pegawai Depdiknas, 2003). Lebih lanjut Craig (Hanurani, 2003) menyatakan bahwa pelatihan adalah kegiatan yang disengaja untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh orang-orang atau lembaga dalam upaya membina dan meningkatkan produktivitas.
Pelatihan tidak dapat dilakukan begitu saja, tetapi pada pelaksanaannya pelatihan harus melalui beberapa tahapan. Pada setiap pelaksanaan pelatihan tidak harus sama tahapannya, tetapi tahapan ini disesuaikan dengan jenis pelatihannya, kesiapan panitia, dana dan sarana yang tersedia. Tahapan-tahapan yang harus dilaksanakan dalam suatu pelatihan adalah : 1) mengidentifikasi kebutuhan pelatihan, 2) merumuskan tujuan pelatihan, 3) merancang kurikulumpelatihan, 4) mengembangkan metode pelatihan, 5) menentukan pola evaluasi pelatihan, 6) melaksanakan program pelatihan dan 7) mengukur hasil pelatihan.
c) Kelompok Belajar
Satuan kelompok belajar (Kejar) diselenggarakan bagi sekumpulan peserta didik dengan saling membelajarkan untuk mengembangkan diri dan melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Kelompok belajar meliputi Kejar Paket A setara SD, Kejar Paket B setara SMP, Kejar Paket C setara SMA, Keaksaraan Fungsional (KF), Kelompok Belajar Usaha (KBU). Kejar diselenggarakan oleh instansi pemerintah seperti Muslimat, Nasyatul Aisyiah, Pondok pesantren dan lembaga kemasyarakatan seperti PKK, LKMD.
d) Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
PKBM merupakan suatu tempat kegiatan pembelajaran masyarakat yang diarahkan untuk pemberdayaan potensi desa, menggerakan pembangunan di bidang social, ekonomi, dan budaya. Secara alami, PKBM telah ada sejak manusia mengenal kegiatan belajar bersama, sedangkan secara kelembagaan PKBM baru lahir pada Agustus 1998. PKBM berperan untuk memberikan wahana bagi masyarakat yang memenuhi kebutuhan berupa pengetahuan dan keterampilan yang bermakna bagi kehidupannya. Azas PKBM adalah dari, oleh dan untuk masyarakat.
e) Majelis Taklim
Majelis taklim merupakan salah satu satuan pendidikan nonformal yang bergerak dalam bidang keagamaan Islam. Sebenarnya, menurut Tutty Alawiyah dalam bukunya “Strategi Dakwah di Lingkungan Majelis Taklim”, istilah majelis taklim pada mulanya lahir dari pengajian di Masjid Al-Barkah yang dikelola K.H. Abdullah Syafi’ie. Penamaan majelis taklim akhirnya memunculkan identitas tersendiri yang membedakan dengan pengajian umum biasa, yaitu sifatnya yang tetap dan berkesinambungan. Oleh karena perannya di masyarakat, majelis taklim disebutkan dalam undang-undang sebagai salah satu satuan pendidikan nonformal. (Alawiyah, 2006).
2. Prinsip Belajar dalam Pelatihan
Prinsip-prinsip umum belajar dalam pelatihan yang perlu diperhatikan, yaitu :
a. Peserta pelatihan harus termotivasi untuk belajar, karena motivasi merupakan felemen yang khas bagi setiap orang, maka instruktur secara kreatif harus mengidentifikasi setiap kelompok peserta. Motivasi dapat disajikan sebagai titik tolak dari pelatihan yang diletakkan pada sesi awal yang kemudian dibangun selanjutnya dalam pembelajaran
b. Belajar merupakan proses aktif dan partisipatif. Kondisi ini mengandung arti bahwa pembelajar harus terlibat dalam pembelajaran tidak hanya menjadi pendengar saja.Keterlibatan peserta dapat diciptakan melalui kegiatan diskusi, pengajuan pertanyaan, kegiatan praktek, kerja lapangan, bermain peran, demonstrasi.
c. Peserta harus mendapat pengarahan dan umpan balik. Pelatihan harus meliputi umpan balik terhadap peserta sehingga mereka mengetahui seberapa banyak belajar sehingga mereka mengetahui pula berapa banyak mereka telah menguasai keterampilan yang diberikan melalui pelatihan.
d. Materi pelatihan harus disiapkan dengan tepat. Materi yang mendukung pelatihan harus secara efektif disiapkan dan digunakan. Pembelajaran berbasis masalah, proyek, aktivitas latihan, diskusi dan metode-metode lain harus mengandung materi yang secara diyakini dapat menunjang pembelajaran.
e. Kesempatan untuk melakukan latihan harus disediakan dalam pelatihan. Instruktur harus menyediakan waktu yang cukup bagi peserta untuk berlatih pengetahuan dan keterampilan yang diberikan dalam pelatihan. Latihan dapat membantu membangun rasa percaya diri peserta dan memberi kesempatan bagi mereka untuk saling membantu satu sama lainnya.
f. Metode pelatihan harus bervariasi. Multimetode dalam pelatihan dapat menstimulasi keterkaitan peserta terhadap pelatihan dan menyediakan kesempatan bagi mereka untuk terlibat dalam berbagai cara.
g. Peserta harus mendapat penguatan dari tingkah laku yang diinginkan. Peserta harus mengetahui kapan mereka menunjukkan tugas atau materi pembelajaran secara benar. Mereka harus mendapatkan petunjuk bahwa apa yang mereka tampilkan benar. Penguatan dapat dilakukan dengan memberi komentar oleh instruktur, nilai tes, atau mengerjakan proyek dan hasil yang digunakan dalam pelatihan. Penguatan ini harus direncanakan dan dimasukkan dalam rencana pembelajaran.
h. Standar dari penampilan dan harapan harus dikomunikasikan dengan jelas pada peserta.
i. Pelatihan harus menunjukkan macam dan level yang berbeda dari pembelajaran. Pembelajaran meliputi : 1) pengetahuan dan kemampuan intelektual, 2) keterampilan motorik, 3) perasaan dan sikap yang masing-masing memiliki tingkatannya sendiri. Setiap tingkatan dan tipe belajar ini memerlukan metode dan latihan yang berbeda yang harus direncanakan dalam pelatihan.
3. Model Pembelajaran dalam Pelatihan
Model pembelajaran yang dapat dikembangkan pada pelatihan keterampilan dapat dipilih dari rumpun yang berhubungan dengan perilaku (behavioral), karena program Pendidikan Luar Sekolah pada intinya mendasarkan pada teori pembelajaran behaviorism. Teori ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar, yang menjadi prinsip dalam pelatihan keterampilan. Model mengajar dari rumpun sistem tingkah laku (the behavioral systems family of models, Joyce : 2000) yang dapat diterapkan pada pelatihan keterampilan diantaranya adalah belajar tuntas.
Belajar tuntas merupakan suatu kerangka dalam merencanakan pembelajaran yang berurutan, dirumuskan oleh John B. Carroll (1971) dan Benyamin Bloom (1971). Belajar tuntas disajikan secara ringkas dan menarik untuk meningkatkan pencapaian hasil belajar (kinerja) peserta didik. Secara tradisional, kecerdasan dianggap sebagai karakter yang berhubungan dengan hasil belajar peserta didik. Carroll memandang kecerdasan sebagai sejumlah waktu yang digunakan seseorang untuk belajar dibanding kapasitasnya untuk menguasai bahan ajar. Dalam pandangan Carroll, peserta didik yang mempunyai penguasaan bahan ajar dibanding dengan peserta didik yang mempunyai kecerdasan lebih tinggi.
Bloom mengubah pandangan Carroll ke dalam sebuah sistem dengan mengikuti karakteristik
a) Penguasaan didefinisikan dalam istilah pencapaian tujuan utama dalam pembelajaran
b) Materi ajar dibagi dalam unit terkecil yang akan dipelajari
c) Penentuan materi ajar dan pemilihan startegi pembelajaran
d) Setiap unit disertai dengan tes diagnostik untuk mengukur kemajuan peserta didik (evaluasiformatif) dan menentukan masalah yang dihadapi masing-masing peserta didik
e) Hasil tes digunakan untuk memberikan pengajaran pengayaan dan remedial
Belajar tuntas menurut pembelajaran individual, peserta didik bekerja bebas dengan bahan ajar yang diberikan setiap hari (setiap beberapa hari), tergantung pada kemampuan dan gaya belajarnya. Model belajar tuntas yang dapat diterapkan pada pembelajaran di PLS adalah Individually Prescribed Instructional Program (IPI). Tujuan dari IPI adalah :
1) Memungkinkan setiap peserta didik untuk mempelajari unit bahan ajar yang berurutan
2) Menjadikan setiap peserta didik mencapai derajat penguasaan
3) Mengembangkan inisiatif sendiri dalam belajar
4) Mengembangkan proses problem solving
5) Mendorong evaluasi diri dan motivasi untuk belajar
Belajar tuntas dapat diterapkan pada pembelajaran pelatihan di berbagai satuan PLS, karena merupakan strategi pembelajaran terstruktur yang bertujuan untuk mengadaptasikan pembelajaran kepada peserta diantara peserta didik. Belajar tuntas dirancang mampu mengatasi kelemahan-kelemahan yang sering melekat pada pembelajaran klasikal, antara lain hanya peserta didik yang pandai yang akan mencapai semua tujuan pembelajaran, sedangkan peserta didik yang kurang pandai hanya mencapai sebagian dari tujuan instruksional. Belajar tuntas juga dirancang untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menguasai pelajaran dan kompetensi yang dipelajarinya sesuai dengan standar, melalui langkah-langkah pembelajaran secara bertahap, utuh, dan tuntas; sehingga memberikan pengalaman belajar yang bermakna (meaningful learning).
Organisasi pembelajaran tuntas dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
a) Ditetapkan batas minimal tingkat kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik
b) Menggunakan pendekatan penilaian acuan patokan (PAP) untuk menilai keberhasilan belajar peserta didik mencapai standar minimal
c) Peserta didik tidak diperkenankan pindah topik atau pekerjaan berikutnya, apabila topik atau pekerjaan yang sedang dipelajarinya belum dikuasai sampai standar minimal
d) Memberikan kemampuan yang utuh, mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap
e) Memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk mencapai standar minimal, sesuai dengan irama dan kemampuan belajarnya masing-masing
f) Disediakan program remedial bagi peserta didik yang lambat, dan program pengayaan bagi peserta didik yang lebih cepat menguasai kompetensi Penerapan model belajar tuntas pada pelatihan ini diperlukan kemampuan dan kreativitas instruktur di dalam mengkemas kegiatan pembelajaran pelatihan sebagai satuan Pendidikan Luar Sekolah.
C. METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pengembangan (Research and Development ). Subjek penelitian dipilih dua jenis satuan Pendidikan Luar Sekolah, yaitu Pelatihan Bidang Kesehatan dan KBU sebagai sampel dari kota dan kabupaten di Jawa Barat. Langkah-langkah penelitian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu : (1) Studi Pendahuluan, (2) Pengembangan Model, dan (3) Uji Model.
D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
Penelitian Pengembangan Model Pembelajaran Pelatihan Pada Satuan Pendidikan Luar Sekolah ini telah mencapai hasil sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu mendeskripsikan model pembelajaran pelatihan terpadu pada satuan PLS yang dapat meningkatkan kemandirian peserta didik.
Model pembelajaran pelatihan terpadu pada satuan PLS adalah suatu proses pembelajaran pelatihan yang memadukan berbagai komponen pembelajaran. Komponen tersebuat antara lain sumber teknis, materi pembelajaran, proses penyajian materi pembelajaran, metode dan evaluasi pembelajaran. Narasumber teknis atau instruktur melibatkan para pihak yang memiliki keterkaitan dengan jenis keterampilan dan usaha yang ditekuni peserta didik. Narasumber teknis berasal dari unsur penyelenggara, dunia usaha, industri dan unsur lainnya. Adanya keterpaduan antara materi keterampilan teknis pembuatan produk usaha dan materi pengelolaan usaha. Proses pembelajaran dilakukan melalui proses pelatihan, pemagangan, pemandirian. Metode pembelajaran yang relevan sehingga peserta didik dengan cepat dan tepat menguasai pengetahuan, keterampilan dan mengembangkan sikap dan karakter kewirausahaan. Evaluasi yang bersifat menguji pengetahuan dilakukan oleh penyelenggara sedangkan yang menyangkut penguasaan keterampilan dan keahlian dilakukan oleh dunia usaha dan industri atau pengujian yang dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi. Untuk lebih jelasnya, model pembelajaran pelatihan terpadu pada satuan PLS dapat dijelaskan sebagai berikut.
Hasil ujicoba menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pada aspek pengetahuan dan keterampilan pembuatan produk, pengelolaan usaha, pengembangan karakter kewirausahaan, kemandirian peserta didik dan adanya manfaat dari hasil pembelajaran dan pelatihan bagi para peserta didik. Peningkatan tersebut diketahui dengan membandingkan hasil evaluasi sebelum dan sesudah diterapkan model pembelajaran pelatihan terpadu.
2. Pembahasan
Penerapan model pembelajaran terpadu pada satuan PLS telah menunjukan keberhasilannya dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap kewirausahaan peserta didik. Aspek-aspek kemandirian peserta didik sebagian diantaranya sudah tercapai. Peneliti mencermati setelah penerapan model pembelajaran pelatihan terpadu pada satuan PLS dan dihubungkan dengan desain kurikulum dan pembelajaran terpadu, Fogarti (1991).Penyelenggaraan satuan PLS memiliki karakteristik desain kurikulum dan pembelajaran“gabungan” tidak merujuk pada salah satu desain kurikulum dan pembelajaran.
Ada delapan dari sepuluh desain kurikulum dan pembelajaran yang dikemukakan Fogarti (1991) yang ada pada satuan PLS. Kedelapan desain kurikulum dan pembelajaran tersebut adalah desain connected,nested, sequenced, shared, webbed, integrated dan immersed ,networked . Dua desain kurikulum dan pembelajaran yang tidak termasuk dalam satuan PLS bukan berati diabaikan, karena desain kurikulum dan pembelajaran fragmented dan threaded, telah terliput di dalam connected dan networked.
Desain terhubung atau connected, dalam satu materi pembelajaran atau pokok bahasan didesain dengan cara menghubungkan satu topik dengan topik lainnya, satu konsep dengan konsep lainnya pada kurun waktu yang sama ataupun berbeda. Topik atau sub pokok bahasan pada setiap materi saling terhubung, baik pada materi keterampilan teknis pembuatan sandal, pengelolaan usaha maupun materi membangun dan mengembangkan karakter kewirausahaan, karena topik atau sub pokok bahasan pada setiap materi pembelajaran pelatihan dirancang dan saling terhubung. Peserta didik diharapkan memiliki keterampilan dan etos kerja dalam pembuatan produk, memiliki sikap kewirausahaan baik berperan sebagai pekerja maupun dalam pengelolaan usaha.
Desain sarang atau nested, dalam satu materi pelajaran atau bidang studi, satu topik bahasan diarahkan untuk menguasai beberapa kemampuan atau keterampilan, seperti keterampilan berpikir (intelektual), keterampilan sosial, keterampilan motorik. Semua materi inti pembelajaran pelatihan dirancang agar peserta didik memiliki kemampuan dalam aspek berpikir, sosial dan keterampilan. Pada materi keterampilan teknis pembuatan produk, kemampuan berpikir dituntut ketika peserta didik belajar bagaimana menganalisis pasar dan kebutuhan konsumen serta strategi pemasaran. Kemampuan sosial, bahwa dalam pembuatan produk usaha merupakan proses melibatkan banyak orang dari hulu sampai hilir, kemampuan sosial sangat diperlukan dan harus dikuasai oleh peserta didik.
Desain paralel atau sequenced, antara dua atau lebih materi pelajaran atau pokok bahasan pada waktu yang bersamaan ada kesamaan atau ada hubungan topik, bahan, konsep ataupun kemampuan yang dikembangkan. Desain paralel ini dapat ditemui bahwa semua materi pembelajaran pelatihan, baik itu materi penunjang terlebih materi inti saling terhubung. Topik tentang karakter pengusaha membahas hidup disiplin, hemat, ulet dan berorientasi pasar, topik tersebut terkait dan dibahas pada materi keterampilan teknis pembuatan sandal, pengelolaan usaha dan pengembangan karakter kewirausahaan.
Desain berbagi atau shared. Pendidik dari dua atau lebih materi pelajaran atau pokok bahasan yang mengajarkan bahan, konsep, kemampuan yang memiliki kesamaan atau terkait,berbagi tugas dan mereka mengajar dalam bentuk tim (team teaching). Proses pembelajaran pelatihan pada satuan PLS ada tema atau topik pembelajaran terpadu seperti pada topik pengembangan karakter kewirausahaan. Nara sumber teknis materi keterampilan teknis pembuatan produk usaha dan nara sumber teknis pengelolaan usaha mengajar secara tim.
Desain jaring atau webbed, pembelajaran difokuskan pada satu atau beberapa tema. Tiap tema mencakup beberapa topik, konsep, atau masalah dalam sejumlah materi pelajaran atau pokok bahasan. Materi dalam pembelajaran pelatihan saling terhubung antara satu dengan lainnya. Topik “pembelajaran etika bisnis” dan “pentingnya memiliki karakter atau sifat ulet, disiplin, kerja keras”. Topik tersebut terhubung tidak saja dalam materi pengelolaan usaha tetapi juga pada materi keterampilan teknis pembuatan sandal dan topik-topik tersebut isinya materinya akan terus berkembang. Bagaimana membuat produk yang berkualitas, mendapatkan keuntungan dan pemberian upah kerja yang layak dan wajar, topik ini merupakan bagian materi keterampilan pembuatan sandal dan pengelolaan usaha.
Desain terpadu atau integrated, pembelajaran didesain secara terpadu, bahan ajaran dipadukan dari berbagai materi pelajaran, atau pokok bahasan, merangkum materi dari berbagai materi pelajaran. Desain ini disebut juga sebagai pembelajaran interdisiplin atau pembelajaran lintas mata pelajaran atau pokok bahasan (cross-disciplinary). Keterpaduan kedua materi tersebut daat dilihat pada program pembelajaran yang telah diuraikan di muka. Topik membangun dan mengembangkan karakter kewirausahaan merupakan topik yang dihasilkan dari keterpaduan materi keketerampilan teknis pembuatan produk usaha dan materi pengelolaan usaha.
Desain menyatu atau immersed, desain dan pelaksanaan pembelajaran bersatu dengan diri peserta didik. Materi pelajaran atau pokok bahasan, tema atau bahan pembelajaran dipilih oleh peserta didik sendiri yang paling mereka senangi dan butuhkan. Desain ini juga desain terpadu, tidak hanya terpadu antar materi pelajaran juga terpadu antara bahan ajaran dengan diri peserta didik.
Desain jaringan atau networked, desain pembelajaran terpadu yang memadukan bahan ajaran atau pengetahuan dari berbagai materi pelajaran atau pokok bahasan dan berbagai jaringan sumber belajar. Peserta didik berperan sebagai ekspert, mencari, menghimpun dan menyeleksi pengetahuan yang di butuhkan. Pada pembelajaran pelatihan pelibatan peserta didik sebagai ekspert belum banyak terjadi, tetapi penyelenggaraan satuan PLS Mandiri dengan penerapan pembelajaran terpadu telah melibatkan sumber-sumber belajar. Sumber belajar yang terlibat pada proses pembelajaran pelatihan terpadu adalah unsur dunia usaha dan industri, dinas perindustrian dan perdagangan, UPTD SKB, SMK Bisnis dll.
E. KESIMPULAN
Dari seluruh kegiatan penelitian pengembangan model pembelajaran pelatihan pada satuan PLS dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hasil studi pendahuluan memperoleh temuan bahwa penyelenggaraan pembelajaran pelatihan pada berbagai jenis satuan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) memiliki karakteristik yang bervariasi sesuai dengan jenis keahlian yang dikembangkan pada masing-masing satuan PLS
2. Kondisi pembelajaran pelatihan pada satuan PLS sebelum implementasi model pembelajaran pelatihan terpadu, belum menunjukkan hasil yang optimal. Ketidakberhasilan ini ditandai dengan kualitas produksi dan harga yang belum dapat bersaing. Data ini mengisyaratkan bahwa pembelajaran pelatihan belum berhasil memajukan sebagian besar anggotanya. Penyebabnya adalah proses pelatihan keterampilan teknis dan pengelolaan usaha, belum memadai untuk memberikan bekal kepada peserta didik sebagai tenaga kerja produktif.
3. Model pembelajaran pelatihan terpadu pada satuan PLS adalah suatu proses pembelajaran pelatihan yang memadukan berbagai komponen pembelajaran. Komponen tersebuat antara lain nara sumber teknis, materi pembelajaran, proses penyajian materi pembelajaran, metodedan evaluasi pembelajaran. Nara sumber teknis atau instruktur melibatkan para pihak yang memiliki keterkaitan dengan jenis keterampilan dan usaha yang ditekuni peserta didik. Narasumber teknis berasal dari unsur penyelenggara, dunia usaha, industri dan unsur lainnya.
4. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pada aspek pengetahuan dan keterampilan pembuatan produk, pengelolaan usaha, pengembangan karakter kewirausahaan, kemandirian peserta didik dan adanya manfaat dari hasil Pelatihan Bidang Kesehatan dan KBU sebagai satuan PLS bagi para peserta didik. Peningkatan tersebut diketahui dengan membandingkan hasil evaluasi sebelum dan sesudah diterapkan model pembelajaran terpadu, pada tahap pelatihan dan pemagangan.
F. TANGGAPAN
Satuan pembelajaran pada Pendidikan Luar Sekolah yang melengkapi kegiatan persekolahan yaitu seperti; kursus, lembaga pelatihan, program paket, majlis ta’lim, PKBM, dan lain sebagainya memberi peluang untuk siapa saja yang tidak terjamah oleh sistem persekolahan yang memiki persyaratan usia, untuk siapa saja yang pernah drop out tanpa mementingkan latar belakang pendidikan dan ekonomi seseorang.
Pembelajaran pada lingkup Pendidikan Luar Sekolah menekankan pada pembelajaran sepanjang hayat, dimana setiap orang dari berbagai kalangan dan usia dapat melakukan pembelajaran sepanjang hayatnya tanpa harus merasa tertekan dan terbebani.
Pembelajaran pada Pendidikan Luar Sekolah salah satunya yaitu pembelajaran orang dewasa pada institusi terkait yang membelajarkan orang-orang dewasa agar menjadi pribadi yang cakap dan mampu berwirausaha bahkan memiliki pegawai sehingga bermanfaat bagi dirinya dan juga bagi orang lain.
Pembelajaran atau disebut juga dengan pelatihan menuntut pendidik dan peserta didik dapat memotivasi dan termotivasi dengan baik agar kualitas output yang dihasilkan pada suatu pelatihan atau pembelajaran akan menjadi baik, sehingga Pendidikan Luar Sekolah tidak lagi dipandang sebelah mata oleh khalayak ramai.
Namun yang terjadi pada dewasa ini adalah hal yang tidak kita inginkan, proses pembelajaran yang tidak memiliki perubahan dari waktu ke waktu membuat luaran dari pembelajaran dan pelatihan pada program PLS menjadi tidak begitu diminati bahkan terkesan ketinggalan.
Selain itu, proses pembelajaran seperti metode dan taktik belajar pun menjadi faktor penentu berkualitas atau tidaknya output pelatihan yang dihasilkan. Pada artikel ini penulis mencoba menerapkan sistem pembelajaran terpadu. Terdapat delapan dari sepuluh desain kurikulum dan pembelajaran yang ada pada satuan PLS. Kedelapan desain kurikulum dan pembelajaran tersebut adalah desain connected,nested, sequenced, shared, webbed, integrated dan immersed , networked. dua desain kurikulum dan pembelajaran yang tidak termasuk dalam satuan pls bukan berati diabaikan, karena desain kurikulum dan pembelajaran fragmented dan threaded, telah terliput di dalam connected dan networked.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, Hasil ujicoba menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pada aspek pengetahuan dan keterampilan pembuatan produk, pengelolaan usaha, pengembangan karakter kewirausahaan, kemandirian peserta didik dan adanya manfaat dari hasil Pelatihan Bidang Kesehatan dan KBU sebagai satuan PLS bagi para peserta didik. Peningkatan tersebut diketahui dengan membandingkan hasil evaluasi sebelum dan sesudah diterapkan model pembelajaran terpadu, pada tahap pelatihan dan pemagangan.
Hasil ini bisa dijadikan referensi bagi para pendidik pada Pendidikan Luar Sekolah yang menjadi pendidik pada tiap-tiap pelatihan untuk dapat menerapkan pembelajaran terpadu agar luaran yang dihasilkan dapat berkulitas dan mampu bersaing dengan yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulhak, I. (1995). Metodologi Pembelajaran Pada Pendidikan Orang Dewasa. Bandung :Cipta Intelektual
Anwar. (2004). Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills Education). Bandung : Alfabeta.
Balitbang, Depdiknas. (2006). Model-model kurikulum integrasi pendidikan kecakapan hidup pendidikan dasar dan menengah. Jakarta: PUSKUR Balitbang Depdiknas.
Bogdan, R.C. dan Biklen, S.K. (1992). Qualitative Research for Education : An Introduction toTheory and Methods. Boston : Allyn and Bacon.
Cropley, A.J. (1978). Lifelong Education : A Psychological Analysis. Oxpord : Pergamon Press.
Depdikbud. (1994). Metode dan Teknik Belajar Orang Dewasa. Jakarta: Direktorat Dikmas.
Dit. Diknas. (1987). Petunjuk Teknis Program Paket A dan program Kejar Usaha. Jakarta :Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen Diklusepora Depdikbud.
Ditjen PLSP. (2004). Pedoman Penyelenggaraan program kecakapan hidup (life skills) pendidikan nonformal. Jakarta: Ditjen PLS.
Fogarty, Robbin. (1991). How to Integrated the Curricula. IRI/Skylight Publishing, Inc,Palatine: Illions.
Gall, M.D., Gall, J.P. dan Borg, W.R. (2003). Educational Research : An Introduction. SanFransisco : Pearson education.
Joyce, B. dan Weil, M. (2000). Models of Teaching. Boston : Allyn and Bacon.
Kindervatter, S. (1979). Non Formal Education : As An Empowering Process. New York :Printers in The United stated of America.Knowles.
M.S. (1977). The Modern Practice of Adults Education : Andragogy Versus Pedagogy. Chicago : Association Press.
Mappiare, Andi. (1983). Psikologi Orang Dewasa. Surabaya : Bumi Aksara.
Mustofa, Kamil. (2002). Model Pembelajaran Magang bagi Peningkatan Kemandirian Warga Belajar. Disertasi. Bandung : PPS UPI.
Sagala, Syaiful. (2003). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
Silverman, d. (1995). Interpreting Qualitative Data. London : SAGE Publications.
Smith, Rober M. (1982). Learning How to Learn : Aplied Theory for Adults. Chicago : Follett Publishing Company.
Soedomo. (1989). Pendidikan Luar Sekolah ke Arah Pembangunan Sistem Belajar Masyarakat .Jakarta : P2LPTK.
Srinivasan, Lyra. (1979). Perspective on Nonformal Adult Learning. Bandung : BPKB Jayagiri.(Terjemahan).
Sudjana, Djudju. (2001). Pendidikan Luar Sekolah, Wawasan, Sejarah Perkembangan Falsafah Teori Pendukung dan Azas. Bandung : Nusantara Press
-------- (2000). Manajemen Program Pendidikan. Bandung : Falah.
Wentling, Tim. (1993). Planning for Effective Training : A guide to Curriculum Development .Roma : Food and Agricultural Organization of The United Nations.
banyak hal yang di dapat dari "berani memulai"... jadi jangan pernah ragu untuk memulai...
Senin, 13 Juni 2011
PENELITIAN SHERLY.....
TUGAS
PENELITIAN PENDIDIKAN II
TENTANG
HUBUNGAN ANTARA KEDISIPLINAN WARGA BELAJAR
DENGAN HASIL BELAJAR PADA PELAJARAN MATEMATIKA
PADA BIMBINGAN BELAJAR MSC KAMPUNG TARANDAM LUBUK ALUNG
OLEH
SHERLY
01286/2008
JURUSAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Negara Indonesia merupakan Negara yang berkembang. Untuk mengejar ketinggalan dari negara maju, diperlukan Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Untuk mendapatkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, diperoleh melalui pendidikan. Pendidikan merupakan investasi dalam pembanguan yang berkelanjutan dalam rangka globalisasi. Penyiapan pendidikan perlu diadakan dengan tuntutan kompetensi sebagai upaya memacu kualitas Sumber Daya Manusia melalui pendidikan yang semakin signifikan.
Pendidikan menduduki peranan yang amat penting dalam upaya meningkatkan Sumber Daya Manusia, karena pendidikan merupakan kekuatan pembangunan nasional, maka dengan demikian mutu pendidikan akan menentukan berhasil atau tidaknya pembangunan. Pendidikan di Indonesia banyak menghadapi tantangan yang semakin lama semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh munculnya berbagai tantangan sebagai dampak perkembangan IPTEK.
Sesuai dengan Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan menyatakan bahwa “pendidikan dapat diperoleh melalui tiga jalur, yaitu pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal yang saling melengkapi dan memperkaya”. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan dasar, menengah dan tinggi sementara pendidikan non formal dan pendidikan informal melalui pendidikan dalam masyarakat dan keluarga. Dewasa ini amat sulit untuk menghadapi tantangan tersebut, karena terbatasnya sistem persekolahan yang menyebabkan tidak mampu memacu cepatnya perubahan dan perkembangan tersebut.
Berbagai kelemahan sistem persekolahan diungkapkan, terutama pada aspek-aspek procedural yang dianggap mengeras, kaku, serba ketat dan formalistis. Pada intinya, walaupun sistem persekolahan masih dianggap penting, namun pijakan pemikiran sudah mulai realistis yaitu tidak semata-mata mengandalkan system persekolahan semata untuk melayani beraneka ragam kebutuhan pendidikan yang kian hari semakin mekar dan beragam.
Lembaga pendidikan sekolah yang jumlahnya makin banyak bersifat formal atau resmi yang dibatasi oleh ruang dan waktu serta kurikulum yang baku dan kaku serta mampu memenuhi segala keterbatasan lainnya. Sehingga tidak semua lembaga sekolah mampu memenuhi semua keinginan masyarakat. Akibat dari kekurangan dan keterbatasan itulah yang memungkinkan suatu kegiatan kependidikan yang bersifat informal atau nonformal diselenggarakan, sehingga melalui kedua belah bentuk pendidikan itu kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik.
Pembinaan dan pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dipandang relevan untuk bias saling isi-mengisi atau topang-menopang dengan system persekolahan, agar setiap insan bisa menyesuaikan hidupnya sesuai perkembangan zaman.
Philips H. Combs, mengungkapkan bahwa Pendidikan Luar Sekolah adalah sistem kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan diluar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar.
Menurut Sudjana (2000:1) “pendidikan luar sekolah adalah setiap usaha yang dilakukan secara sadar, sengaja, teratur dan berencana yang bertujuan untuk membantu warga belajar dalam mengembangkan dirinya sehingga terwujud manusia yang gemar belajar.
Pendidikan non formal atau pendidkan luar sekolah (PLS) merupakan pendidikan yang terorganisir diluar pendidikan formal, diselenggarakan secara tersendiri atau merupakan bagian penting dari satu kegiatan yang lebih luas, yang ditujukan kepada warga belajar di dalam mencapai tujuan belajarnya (WP.Napitulu, 2000).
Pendidikan luar sekolah disebut juga suatu sistem pendidikan yang didalamnya terdapat kumpulan komponen (unsur-unsur) yang saling berhubungan dan diorganisir untuk mencapai tujuan. Jadi didalam pendidikan luar sekolah telah terkandung semua unsur yang disyaratkan oleh suatu sistem seperti anak didik, pendidik, waktu, materi dan tujuan
Salah satu bentuk pogram Pendidikan Luar Sekolah yang turut serta membantu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia yaitu pemberian bimbel. Bimbel merupakan salah satu wadah pendidikan non formal yang bertujuan memberikan pengetahuan kepada masyarakat untuk menyiapkan warga belajar yang berkualitas dan berkuantitas untuk mencapai tujuan nasional pendidikan melalui pemberian pendidikan di luar jam sekolah.
Dalam bimbingan belajar materi yang diajarkan tidak jauh berbeda dengan materi pelajaran di sekolah, tutor yang mengajar pada bimbingan belajar memiliki warga belajar yang biasanya berkisar 15-20 orang dalam satu kelas. Dengan demikian penyampaian bahan ajar dianggap lebih efektif daripada pengajaran dalam kelas. Dengan menggunakan metode yang tidak kaku, serta metode belajar yang mengasyikkan dan tidak membosankan bias membuat warga belajar tidak jenuh untuk belajar.
Salah satu program bimbingan belajar yang diberikan berupa bimbel pelajaran matematika. Pemberian bimbel matematika dianggap mampu mengubah paradigma warga belajar terhadap pelajaran matematika yang selama ini masih menjadi pelajaran yang mengerikan menjadi pelajaran yang disukainya, sehingga berdampak pada hasil belajar warga belajar yang semakin hari semakin meningkat dari biasanya.
Namun kenyataan ini bertolak belakang pada hasil belajar warga belajar di lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung. Walaupun sudah diberikan bimbingan belajar, masih saja ada warga belajar yang tidak mengalami peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran matematika. Sehingga bimbel yang diikuti tidak berpengaruh apa-apa terhadap penguasaan matematika warga belajar. Hal ini terlihat dari hasil belajar warga belajar pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung, 15 dari 20 warga belajar dalam kelas tersebut mendapat nilai di bawah rata-rata.
Keadaan ini tentu akan semakin memperburuk penguasaan warga belajar pada pelajaran matematika yang diberikan oleh tutornya di lembaga bimbel. Berdasarkan fenomena ini, maka penulis tertarik untuk mengkaji faktor-faktor penyebab rendahnya hasil belajar warga belajar pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan di atas, maka identifikasi masalahnya adalah yang berhubungan dengan factor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu factor eksternal dan factor internal.
a. Factor internal
a) Minat
b) Motivasi
c) Kemauan belajar
d) Persepsi
e) Kemampuan dan bakat
f) Kedisiplinan
b. Factor eksternal
a) Metode belajar
b) Lingkungan
1) Lingkungan sekolah
2) Lingkungan keluarga
3) Lingkungan masyarakat
c) Teman sebaya
C. BATASAN MASALAH
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka batasan masalahnya dibatasi pada factor internal, yaitu factor kedisiplinan warga belajar dan dihubungkan dengan hasil belajar warga belajar pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung.
D. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah secara umum dapat dirumuskan apakah terdapat hubungan antara tingakat kedisiplinan warga belajar dengan hasil belajar matematika pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung. Secara khusus rumusan masalahnya meliputi:
1. Bagaimana gambaran rata-rata hasil belajar matematika warga belajar dalam belajar di bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung?
2. Bagaimana gambaran kedisiplinan warga belajar dalam belajar di bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung?
3. Apakah terdapat hubungan antara tingkat kedisiplinan dengan hasil belajar matematika pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung?
E. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari pnelitian ini adalah:
1. Bagaimana gambaran rata-rata hasil belajar matematika warga belajar dalam belajar di bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung
2. Bagaimana gambaran kedisiplinan warga belajar dalam belajar di bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung
3. Apakah terdapat hubungan antara tingkat kedisiplinan dengan hasil belajar matematika pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung
F. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian ini adalah:
1. Manfaat secara teoritis
a. Mengembangkan ilmu pengetahuan
2. Manfaat secara praktis
a. Masukan untuk tutor
G. DEFENISI OPERASIONAL
1. KEDISIPLINAN
Menurut Slameto (1998:2) disiplin merupakan “suatu sikap yang menunjukkan kesediaan untuk mematuhi dan mendukung ketentuan, tata tertib peraturan, nilai serta kaidah-kaidah yang berlaku”.
Disiplin adalah suatu sikap yang mencerminkan ketaatan terhadap suatu aturan tertentu tanpa adanya paksaan dan kepentingan pribadi yang dilandasi dengan kesadaran sendiri dan tanggung jawab untuk tercapainya suatu tujuan yang sesuai dengan peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis.
Yang dimaksud kedisiplinan dalam program bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung adalah kedisiplinan dalam waktu belajar, proses belajar dan mengajar dan kedisiplinan terhadap tata karma warga belajar dalam belajar berdasarkan observasi yang dilakukan.
2. HASIL BELAJAR
Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh warga belajar setelah melakukan proses kegiatan belajar. Hasil belajar dapat diungkapkan dalam bentuk angka atau huruf yang menggambarkan tingkat penguasaan warga belajar terhadap apa yang telah dipelajarinya. Hasil belajar yang diperoleh warga belajar setelah proses belajar mengajar dapat diketahui melalui suatu indikator hasil belajar yaitu tes. Hasil belajar dapat dijadikan guru sebagai acuan penilaian.
3. BIMBINGAN BELAJAR
bimbingan belajar adalah suatu bentuk kegiatan dalam proses belajar yang dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki kemampuan lebih dalam banyak hal untuk diberikan kepada orang lain yang mana bertujuan agar orang lain dapat menemukan pengetahuan baru yang belum dimilikinya serta dapat diterapkan dalam kehidupannya.
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. KAJIAN TEORI
1. Disiplin
Disiplin berasal dari bahasa latin Discere yang berarti belajar. Dari kata ini timbul kata Disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Dan sekarang kata disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peratuaran atau tunduk pada pengawasan, dan pengendalian. Kedua disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib
Sadar akan hakikatnya, setiap manusia Indonesia di muka bumi ini selalu berbuat untuk hal yang lebih baik. Untuk mengubah prilaku menuju ke hal yang lebih baik itu tidaklah mudah yang kita bayangkan. Perubahan itu melalui perjalanan yang panjang, berjenjang, dan berkesinambungan. Satu-satunya jalur yang dapat ditempuh yakni dengan pendidikan.
Dalam pendidikan luar sekolah warga belajar dikenal dengan istilah warga belajar. Warga belajar adalah orang yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan. Dalam perkembangannya harus melalui proses belajar. Termasuk di dalamnya belajar mengenal diri, belajar mengenal orang lain, dan belajar mengenal lingkungan sekitarnya. Ini dilakukan agar warga belajar dapat mengetahui dan menempatkan posisinya di tengah-tengah masyarakat sekaligus mampu mengendalikan diri.
Sifat pengendalian diri harus ditumbuhkembangkan pada diri warga belajar. Pengendalian diri di sini dimaksudkan adalah suatu kondisi di mana seseorang dalam perbuatannya selalu dapat menguasai diri sehingga tetap mengontrol dirinya dari berbagai keinginan yang terlalu meluap-luap dan berlebih-lebihan. Berarti dalam sifat pengendalian diri tersebut terkandung keteraturan hidup dan kepatuhan akan segala peraturan. Dengan kata lain, perbuatan warga belajar selalu berada dalam koridor disiplin dan tata tertib. Bila demikian, akan tumbuh rasa kedisiplinan warga belajar untuk selalu mengikuti tiap-tiap peraturan yang berlaku. Mematuhi semua peraturan yang berlaku merupakan suatu kewajiban bagi setiap warga belajar.
Masalah kedisiplinan warga belajar menjadi sangat berarti bagi kemajuan kepribadiannya (Nursisto, 2002:78). Warga belajar yang disiplin dan tertib akan selalu menciptakan proses pembelajaran yang baik. Sebaliknya, warga belajar yang tidak disiplin dan tidak tertib kondisinya akan jauh berbeda. Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi sudah dianggap barang biasa dan untuk memperbaiki keadaan yang demikian tidaklah mudah. Hal ini diperlukan kerja keras dari berbagai pihak untuk mengubahnya, sehingga berbagai jenis pelanggaran terhadap disiplin dan tata tertib sekolah tersebut perlu dicegah dan ditangkal.
Tingkat kedisiplinan warga belajar umumnya masih tergolong memprihatinkan. Kuantitas pelanggaran yang dilakukan oleh warga belajar semakin bertambah dari waktu ke waktu. Dari berbagai jenis pelanggaran tata tertib sekolah, misalnya banyaknya warga belajar yang bolos atau minggat pada waktu jam belajar, perkelahian, terlambat datang ke lembaga bimbel, malas belajar, sering tidak masuk sekolah, tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru, tidak membuat pekerjaan rumah, merokok, dan lain-lain. Secara garis besar banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh warga belajar akan berpengaruh terhadap kemajuan dan hasil belajar di sekolah.
2. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan prestasi yang dicapai seseorang setelah mengikuti proses belajar mengajar. Seseorang dikatakan telah berhasil dalam belajar apabila telah terjadi perubahan tingkah laku dalam dirinya dan perubahan itu terjadi karena latihan dan pengalaman. Perubahan itu bersifat kontinu, fungsional, positif dan aktif serta terjadi secara disadari oleh orang yang belajar.
Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh warga belajar setelah melakukan proses kegiatan belajar. Hasil belajar dapat diungkapkan dalam bentuk angka atau huruf yang menggambarkan tingkat penguasaan warga belajar terhadap apa yang telah dipelajarinya. Hasil belajar yang diperoleh warga belajar setelah proses belajar mengajar dapat diketahui melalui suatu indikator hasil belajar yaitu tes. Hasil belajar dapat dijadikan guru sebagai acuan penilaian. Tujuan penilaian menurut Slameto (1988:10) adalah “untuk mengetahui penguasaan warga belajar atas berbagai hal yang pernah diajarkan untuk memberikan gambaran tentang pencapaian program-program pendidikan secara menyeluruh”. Dari uraian di atas jelaslah bahwa hasil belajar warga belajar menentukan keberhasilan warga belajar dalam penguasaan konsep yang telah dipelajari.
Dari proses belajar akan diperoleh hasil belajar dalam penilaian suatu perubahan sikap, pengetahuan, nilai dan keterampilan. Menurut Syafruddin (2004: 25) Hasil belajar yang diperoleh oleh warga belajar ialah hasil belajar yang bersifat proses pada saat kegiatan belajar. Hasil belajar yang dihasilkan diperoleh dengan melakukan pengukuran.
Mengukur kegiatan belajar individu berarti membandingkan cara individu berperilaku pada waktu tertentu dengan waktu yang lain dalam suasana yang serupa. Bila perilaku dalam suasana itu berbeda untuk kedua kalinya, maka dapat dikatakan bahwa terjadi belajar. Aspek-aspek individu yang diukur tersebut dinyatakan dalam bentuk angka-angka. Skor berupa angka-angka ini dijadikan indikator dari aspek individu yang diukur.
Untuk mengetahui hasil belajar yang didapatkan setiap individu, maka diperlukan pengukuran. Informasi pengukuran tersebut didapat melalui ujian dan tugas pendalaman materi. Dengan demikian hasil belajar yang didapatkan warga belajar memberikan bayangan tingkat penguasaan warga belajar atas pengetahuan yang diterimanya. Berkaitan dengan hasil belajar yang diperoleh, Bloom dalam Abdurrahman (2003: 38) membagi hasil belajar tersebut kepada tiga ranah yaitu:
1. Ranah kognitif, meliputi pengetahuan, pemahaman, penerapan, sintesis, dan analisis.
2. Ranah afektif, mencakup penerimaan, partisipasi, penilaian, sikap, organisasi dan pembetukan pola hidup.
3. Ranah psikomotor, terdiri dari persepsi, kesiapan gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan komplek, penyesuaian pola dan kreatifitas.
Dari ketiga tingkatan tersebut, biasanya yang dijadikan ukuran keberhasilan adalah segi kognitif. Tingkatan ini menunjukan tingkatan kualitas hasil belajar yang didapatkan individu yang melakukan kegiatan belajar.
3. Hubungan Kedisiplinan Dengan Hasil Belajar
Proses pembelajaran dilaksanakan untuk dapat melakukan perubahan pada warga belajar. Perubahan ini merupakan perubahan mendasar sebab terkait dengan sikap dan kompetensi warga belajar. Dengan berbagai cara guru membimbing warga belajar agar dapat mencapai tingkat kemampuan tertinggi.
Namun, semua itu sangat tergantung pada tingkat kedisiplinan warga belajar dalam belajar. Dan, menurut penelitian memang ada pengaruh disiplin terhadap hasil belajar warga belajar. Anak-anak yang disiplin dalam belajar mempunyai tingkat kompetensi lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang tidak disiplin.
Pengaruh disiplin terhadap hasil belajar warga belajar memang sangat jelas. Sebagaimana kita ketahui bahwa disiplin artinya ketaatan kita terhadap satu kesepakatan yang telah kita buat untuk mencapai tujuan tertentu, dalam hal ini hasil belajar warga belajar. Dalam kehidupan kita berlaku satu konsep dasar bahwa siapa yang lebih patuh terhadap keputusan bersama, maka dia akan mendapatkan yang diinginkan.
Dalam dunia pendidikan, kedisiplinan merupakan harga mati yang harus dibayar oleh warga belajar. Kita tidak dapat menerima penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh warga belajar. Oleh karena itulah, maka di dalam proses pendidikan dan pembelajaran kita mengenal adanya reward dan punishment. Kedua hal tersebut merupakan konsekuensi yang harus diterima oleh warga belajar.
Hal ini harus kita lakukan sebab pengaruh disiplin terhadap hasil belajar warga belajar sangatlah besar. Ini bukanlah ancaman bagi warga belajar tetapi sekedar pengkondisian agar tumbuh dan berkembang sikap disiplin pada pola kehidupan warga belajar
4. Bimbingan Belajar
Menurut A J Jones, bimbingan belajar merupakan suatu proses pemberian bantuan seseorang pada orang lain dalam menentukan pilihan dan pemecahan masalah dalam kehidupannya.
Menurut L D Crow dan A Crow, bimbingan belajar merupakan suatu bantuan yang dapat diberikan oleh seseorang yang telah terdidik pada orang lain yang mana usianya tidak ditentukan untuk dapat menjalani kegiatan dalam hidupnya.
Jadi, bimbingan belajar adalah suatu bentuk kegiatan dalam proses belajar yang dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki kemampuan lebih dalam banyak hal untuk diberikan kepada orang lain yang mana bertujuan agar orang lain dapat menemukan pengetahuan baru yang belum dimilikinya serta dapat diterapkan dalam kehidupannya.
Bimbingan belajar (bimbel) merupakan bagian tidak terpisahkan dalam praktek pendidikan di Indonesia. Jaman dulu, fenomena bimbel lekat dengan les privat dan bimbingan tes menjelang ujian sekolah atau menuju jenjang perguruan tinggi. Pendek kata, bimbel hanyalah sebatas bimbingan ujian untuk menjawab soal dengan cepat dan tepat.
Bimbel telah menjadi suatu kebutuhan sehari-hari sebagai tempat belajar tambahan di luar sekolah. Kebutuhan tersebut terus membesar seiring makin besarnya kesadaran pelajar akan arti pentingnya bimbel untuk mereka. Sebab itu, sekarang ini bimbel-bimbel setiap harinya selalu ramai dan dipenuhi oleh siswa, tidak hanya sebatas ketika musim ujian saja.
Adanya tuntutan dan kegalauan orang tua agar anaknya memperoleh hasil belajar yang optimal menjadi dasar memasukkan anaknya ke lembaga bimbel yang diyakini mampu meningkatkan hasil belajar anaknya, salah satu lembaga bimbel yaitu MSC Kampung Tarandam lubuk Alung.
5. Bimbingan Belajar sebagai Bentuk Program PLS
Menurut Sudjana (2004) bimbel merupakan salah satu bentuk pendidikan luar sekolah, yang kegiatannya terorganisir dan sistematis di luar system persekolahan yang mapan dan dilaksanakan secara mandiri yang sengaja dilakukan untuk melayani warga belajar didalam mencapai tujuan belajar.
a) Fungsi bimbel
1. Memberikan pengetahuan kepada warga belajar agar mempunyai ilmu pengetahuan yang berguna di masyarakat
2. Sebagai penambah dan pelengkap dari mata pelajaran yan ada di sekolah
b) Tujuan bimbel
1. Menambah pengetahuan dan pengalaman warga belajar
2. Memeberikan cara belajar/tak-tik belajar agar belajar lebih menyenangkan
3. Memberikan penyelesaian dan pemecahan soal yang terbaru dan dimengerti warga belajar
c) Program bimbel
1. Program bimbel intensif
Program bimbel yang diikuti warga belajar dalam kurun waktu tertentu
2. Program bimbel super intensif
Program bimbel yang dilaksanakan oleh setiap warga belajar yang ingin menambah pengetahuan pada mata pelajaran dan untuk tujuan tertentu
3. Program bimbel SPMB
Program bimbel yang dilaksanakan oleh warga belajar untuk menambah pengetahuan guna mengikuti SPMB
Pendidikan Luar Sekolah merupakan kegiatan yang dilaksanakan diluar system persekolahan, baik dilembaga ataupun tidak. Bimbel merupakan salah satu bentuk program Pendidikan Luar Sekolah yang bertujuan memberikan pengetahuan kepada sasara didik di luar kegiatan persekolahan.
Sasaran yang ingin dicapai oleh guru di sekolah dalam pembelajaran matematika di kelas cukup luas. Sedangkan waktu yang tersedia amat terbatas. Sehingga pemahaman warga belajar terhadap pembelajaran matematika menjadi kurang baik, dan jika hal ini terjadi, maka akan berpengaruh terhadap hasil belajar warga belajar.
Namun mengikuti program bimbel saja tidaklah cukup tanpa diiringi dengan kedisiplinan masing-masing warga belajar, dengan harapan penguasaan pelajaran matematika yang optimal dan hasil belajar yang baik.
B. KERANGKA BERFIKIR
Berdasarkan kajian teori yang telah dikemukakan sebelumnya maka hal utama dalam penelitian ini adalah mengetahui ada hubungan antara tingkat kedisiplinan dengan hasil belajar matematika pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung. Adapun variabel X (variabel terikat) yaitu tingkat kedisiplinan dan variabel Y (variabel bebas) yaitu hasil belajar.
Variabel X Variabel Y
C. HIPOTESIS MASALAH
Berdasarkan kerangka berfikir yang telah dikemukakan sebelumnya maka hipotesis masalahnya adalah terdapat hubungan yang signifikan dari tingkat kedisiplinan dengan hasil belajar matematika pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung .
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
Sesuai dengan permasalahan yang diteliti, maka jenis penelitian ini termasuk penelitian korelasional karena antara kedisiplinan warga belajar pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung. Seperti yang dikemukakan oleh Usman dalam Muhammad (2002:12) bahwa “penelitian korelasional bertujuan untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada satu faktor berhubungan dengan variasi-variasi/ lebih faktor lain berdasarkan koefesien kolerasi” adapun penelitian ini akan penulis lakukan dengan pendekatan kuantitatif.
B. POPULASI DAN SAMPEL
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari objek penelitian. Maka dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh peseta didik yang terdaftar di lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung.
Cirri-ciri dari populasi pada penelitin ini adalah:
1. Terdaftar sebagai warga belajar bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung.
2. Mengikuti proses pembelajaran sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku
3. Bertempat tinggal disekitar lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung
Maka yang menjadi populasi penelitian ini adalah warga belajar di lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung pada pelajaran matematika berjumlah 46 orang.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang harus representatif, artinya segala karakteristik populasi tercermin pada sampel yang diambil. Karena populasi yang ada <100, maka semua populasi yang berjumlah 46 orang diambil untuk dijadikan sampel.
C. JENIS , VARIABEL DATA DAN SUMBER DATA
1. Jenis data
Berdasarkan jenis data yang digunakan dalam penelitian ini, data dapat dikelompokkan berupa data primer yaitu data tentang kedisiplinan warga belajar dan data sekunder yaitu data tentang hasil belajar metematika warga belajar di lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung
Data berupa kedisiplinana mencakup:
a) Kedisiplinan waktu belajar
b) Kedisiplinan dalam proses belajar mengajar
c) Kedisiplinana dalam tata tertib
d) Data hasil belajar warga belajar
2. Variabel Data
Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel bebas
Variabel bebas yaitu variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel independent atau terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebasnya adalah tingkat kedisiplinan
2. Variabel terikat
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi suatu akibat adanya variabel bebas, yang menjadi variabel terikat adalah hasil belajar warga belajar di lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung
3. Sumber data
Sumber data untuk jenis tingkat kedisiplinan warga belajar diperoleh dari warga belajar dan jenis data untuk hasil belajar warga belajar dalam pelajaran matematika diperoleh melalui dokumen nilai pada tutor mata pelajaran matematika.
D. INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen adalah sarana untuk memperoleh data, maka instrumen yang digunakan untuk penelitian disusun dengan cara menjabarkan variable kepada beberapa sub variable. Setelah sub variable ditetapkan, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan indicator dari sub variable
Indicator ditetapkan berdasarkan kedisiplinan warga belajar dalam belajar, setelah itu barulah dirumuskan butir pertanyaan untuk mengetahui kedisiplinan warga belajar pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur hubungan tingkat kedisiplinan dengan hasil belajar adalah berupa pertanyaan berbentuk skala penilaian dengan alternative jawaban yaitu pola Skala Likert yaitu skala dalam bentuk kuntinum yang terdiri dari 5 kategori dan pernyataan angket yang bersifat positif dan negatif. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel : Daftar Skor Jawaban Setiap Pertanyaan Berdasarkan Sifatnya
Pertanyaan Sifat Pernyataan
Positif Negatif
Selalu (SL) 5 1
Sering (SR) 4 2
Kadang-kadang (KD) 3 3
Jarang (JR) 2 4
Tidak Pernah (TP) 1 5
Butir pertanyaan yang disusun dapat digunakan untuk melihat kedisiplinan warga belajar dalam belajar matematika mencakup dari ketepatan waktu dalam belajar, prosess belajar mengajar dan juga tata tertib dalam belajar.
1. Uji Coba Instrumen
Butir pertanyaan yang dibuat dalam bentuk pedoman observasi, sebelum dilakukan obeservasi yang sesungguhnya, terlebih dahulu dilakukan uji coba untuk mengetahui validitas dan keterandalan instrument. Dalam uji coba instrument di uji cobakan 10 responden yang luar dari sampel.
2. Uji validitas
Menurut Arikunto (2003:329) menjelaskan bahwa yang dimaksud validitas adalah ketepatan mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir pertanyaan tersebut. Untuk mengetahui validitas instrument, di gunakan rumus korelasi tata jenjang dari Sperman sebagai berikut:
Rho = 1 -
Keterangan :
Rho : Koefesien korelasi tata jenjang
B : Beda yaitu selisih antara variabel 1 dan variabel 2
N : Banyaknya subjek pemilik nilai
3. Uji reliabilitas instrument
Uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengukur seberapa besar suatu pengukuran mengukur dengan stabil atau konsisten. Instrumen yang dipercaya untuk digunakan sebagai alat mengumpulkan data karena instrument penelitian yang baik, dan rumus yang digunakan adalah rumus k-R21 yang di kemukakan oleh Arikunto (2005:17) yaitu:
Keterangan:
Rn : Reabilitas Instrument
k : Banyaknya butir (pertanyaan)
M : Rata-rata skorseluruh butir (pertanyaan)
Vt : Validitas total
E. TEKNIK DAN ALAT PENGUMPULAN DATA
Untuk data tentang kedisiplinan warga belajar diperoleh melalui teknik observasi langsungpada warga belajar di lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung dengan menggunakan panduan observasi dalam bentuk daftar cek. Adapun data tentang hasil belajar pada mata pelajaran Matematika diperoleh melalui studi dokumentasi dari tutor mata pelajaran Matematika dengan menggunakan blangko pencatatan.
F. TEKNIK ANALISA DATA
Untuk data tentang gambaran kedisiplinan warga belajar dengan hasil belajar pada mata pelajaran Matematika di lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung diambil dengan mengunakan nilai rata-rata. Hal ini sesuai dengan pendapat Iqbal Hasan (2001:71) yang menyatakan bahwa” nilai rata-rata dapat dihitung berdasartkan keseluruhan nilai yang terdapat dalam data yang bersangkutan”.
Adapun rumus yang digunakan adalah rata-rata hitung (mean) seprti tertera dibawah ini:
Rumus:
Keterangan:
: Mean
Xi : Data Pengamatan ke i
n : Jumlah data sampel
Untuk melihat hubungan antara kedisiplinan dengan hasil belajar digunakan teknik analisis dalam melakukan data tersebut adalah rumus produk moment yang mana teknik ini dipilih untuk melihat hubungan antara satu variable dengan variable lainnya.
Rumus produk moment:
rxy =
Keterangan :
= Koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y
∑xsy= Jumlah perkalian x dan y
X2= Kuadrat dari x
y2 = Kuadrat dari y
n = Banyaknya item
PENELITIAN PENDIDIKAN II
TENTANG
HUBUNGAN ANTARA KEDISIPLINAN WARGA BELAJAR
DENGAN HASIL BELAJAR PADA PELAJARAN MATEMATIKA
PADA BIMBINGAN BELAJAR MSC KAMPUNG TARANDAM LUBUK ALUNG
OLEH
SHERLY
01286/2008
JURUSAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Negara Indonesia merupakan Negara yang berkembang. Untuk mengejar ketinggalan dari negara maju, diperlukan Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Untuk mendapatkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, diperoleh melalui pendidikan. Pendidikan merupakan investasi dalam pembanguan yang berkelanjutan dalam rangka globalisasi. Penyiapan pendidikan perlu diadakan dengan tuntutan kompetensi sebagai upaya memacu kualitas Sumber Daya Manusia melalui pendidikan yang semakin signifikan.
Pendidikan menduduki peranan yang amat penting dalam upaya meningkatkan Sumber Daya Manusia, karena pendidikan merupakan kekuatan pembangunan nasional, maka dengan demikian mutu pendidikan akan menentukan berhasil atau tidaknya pembangunan. Pendidikan di Indonesia banyak menghadapi tantangan yang semakin lama semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh munculnya berbagai tantangan sebagai dampak perkembangan IPTEK.
Sesuai dengan Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan menyatakan bahwa “pendidikan dapat diperoleh melalui tiga jalur, yaitu pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal yang saling melengkapi dan memperkaya”. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan dasar, menengah dan tinggi sementara pendidikan non formal dan pendidikan informal melalui pendidikan dalam masyarakat dan keluarga. Dewasa ini amat sulit untuk menghadapi tantangan tersebut, karena terbatasnya sistem persekolahan yang menyebabkan tidak mampu memacu cepatnya perubahan dan perkembangan tersebut.
Berbagai kelemahan sistem persekolahan diungkapkan, terutama pada aspek-aspek procedural yang dianggap mengeras, kaku, serba ketat dan formalistis. Pada intinya, walaupun sistem persekolahan masih dianggap penting, namun pijakan pemikiran sudah mulai realistis yaitu tidak semata-mata mengandalkan system persekolahan semata untuk melayani beraneka ragam kebutuhan pendidikan yang kian hari semakin mekar dan beragam.
Lembaga pendidikan sekolah yang jumlahnya makin banyak bersifat formal atau resmi yang dibatasi oleh ruang dan waktu serta kurikulum yang baku dan kaku serta mampu memenuhi segala keterbatasan lainnya. Sehingga tidak semua lembaga sekolah mampu memenuhi semua keinginan masyarakat. Akibat dari kekurangan dan keterbatasan itulah yang memungkinkan suatu kegiatan kependidikan yang bersifat informal atau nonformal diselenggarakan, sehingga melalui kedua belah bentuk pendidikan itu kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik.
Pembinaan dan pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dipandang relevan untuk bias saling isi-mengisi atau topang-menopang dengan system persekolahan, agar setiap insan bisa menyesuaikan hidupnya sesuai perkembangan zaman.
Philips H. Combs, mengungkapkan bahwa Pendidikan Luar Sekolah adalah sistem kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan diluar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar.
Menurut Sudjana (2000:1) “pendidikan luar sekolah adalah setiap usaha yang dilakukan secara sadar, sengaja, teratur dan berencana yang bertujuan untuk membantu warga belajar dalam mengembangkan dirinya sehingga terwujud manusia yang gemar belajar.
Pendidikan non formal atau pendidkan luar sekolah (PLS) merupakan pendidikan yang terorganisir diluar pendidikan formal, diselenggarakan secara tersendiri atau merupakan bagian penting dari satu kegiatan yang lebih luas, yang ditujukan kepada warga belajar di dalam mencapai tujuan belajarnya (WP.Napitulu, 2000).
Pendidikan luar sekolah disebut juga suatu sistem pendidikan yang didalamnya terdapat kumpulan komponen (unsur-unsur) yang saling berhubungan dan diorganisir untuk mencapai tujuan. Jadi didalam pendidikan luar sekolah telah terkandung semua unsur yang disyaratkan oleh suatu sistem seperti anak didik, pendidik, waktu, materi dan tujuan
Salah satu bentuk pogram Pendidikan Luar Sekolah yang turut serta membantu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia yaitu pemberian bimbel. Bimbel merupakan salah satu wadah pendidikan non formal yang bertujuan memberikan pengetahuan kepada masyarakat untuk menyiapkan warga belajar yang berkualitas dan berkuantitas untuk mencapai tujuan nasional pendidikan melalui pemberian pendidikan di luar jam sekolah.
Dalam bimbingan belajar materi yang diajarkan tidak jauh berbeda dengan materi pelajaran di sekolah, tutor yang mengajar pada bimbingan belajar memiliki warga belajar yang biasanya berkisar 15-20 orang dalam satu kelas. Dengan demikian penyampaian bahan ajar dianggap lebih efektif daripada pengajaran dalam kelas. Dengan menggunakan metode yang tidak kaku, serta metode belajar yang mengasyikkan dan tidak membosankan bias membuat warga belajar tidak jenuh untuk belajar.
Salah satu program bimbingan belajar yang diberikan berupa bimbel pelajaran matematika. Pemberian bimbel matematika dianggap mampu mengubah paradigma warga belajar terhadap pelajaran matematika yang selama ini masih menjadi pelajaran yang mengerikan menjadi pelajaran yang disukainya, sehingga berdampak pada hasil belajar warga belajar yang semakin hari semakin meningkat dari biasanya.
Namun kenyataan ini bertolak belakang pada hasil belajar warga belajar di lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung. Walaupun sudah diberikan bimbingan belajar, masih saja ada warga belajar yang tidak mengalami peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran matematika. Sehingga bimbel yang diikuti tidak berpengaruh apa-apa terhadap penguasaan matematika warga belajar. Hal ini terlihat dari hasil belajar warga belajar pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung, 15 dari 20 warga belajar dalam kelas tersebut mendapat nilai di bawah rata-rata.
Keadaan ini tentu akan semakin memperburuk penguasaan warga belajar pada pelajaran matematika yang diberikan oleh tutornya di lembaga bimbel. Berdasarkan fenomena ini, maka penulis tertarik untuk mengkaji faktor-faktor penyebab rendahnya hasil belajar warga belajar pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan di atas, maka identifikasi masalahnya adalah yang berhubungan dengan factor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu factor eksternal dan factor internal.
a. Factor internal
a) Minat
b) Motivasi
c) Kemauan belajar
d) Persepsi
e) Kemampuan dan bakat
f) Kedisiplinan
b. Factor eksternal
a) Metode belajar
b) Lingkungan
1) Lingkungan sekolah
2) Lingkungan keluarga
3) Lingkungan masyarakat
c) Teman sebaya
C. BATASAN MASALAH
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka batasan masalahnya dibatasi pada factor internal, yaitu factor kedisiplinan warga belajar dan dihubungkan dengan hasil belajar warga belajar pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung.
D. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah secara umum dapat dirumuskan apakah terdapat hubungan antara tingakat kedisiplinan warga belajar dengan hasil belajar matematika pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung. Secara khusus rumusan masalahnya meliputi:
1. Bagaimana gambaran rata-rata hasil belajar matematika warga belajar dalam belajar di bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung?
2. Bagaimana gambaran kedisiplinan warga belajar dalam belajar di bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung?
3. Apakah terdapat hubungan antara tingkat kedisiplinan dengan hasil belajar matematika pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung?
E. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari pnelitian ini adalah:
1. Bagaimana gambaran rata-rata hasil belajar matematika warga belajar dalam belajar di bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung
2. Bagaimana gambaran kedisiplinan warga belajar dalam belajar di bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung
3. Apakah terdapat hubungan antara tingkat kedisiplinan dengan hasil belajar matematika pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung
F. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian ini adalah:
1. Manfaat secara teoritis
a. Mengembangkan ilmu pengetahuan
2. Manfaat secara praktis
a. Masukan untuk tutor
G. DEFENISI OPERASIONAL
1. KEDISIPLINAN
Menurut Slameto (1998:2) disiplin merupakan “suatu sikap yang menunjukkan kesediaan untuk mematuhi dan mendukung ketentuan, tata tertib peraturan, nilai serta kaidah-kaidah yang berlaku”.
Disiplin adalah suatu sikap yang mencerminkan ketaatan terhadap suatu aturan tertentu tanpa adanya paksaan dan kepentingan pribadi yang dilandasi dengan kesadaran sendiri dan tanggung jawab untuk tercapainya suatu tujuan yang sesuai dengan peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis.
Yang dimaksud kedisiplinan dalam program bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung adalah kedisiplinan dalam waktu belajar, proses belajar dan mengajar dan kedisiplinan terhadap tata karma warga belajar dalam belajar berdasarkan observasi yang dilakukan.
2. HASIL BELAJAR
Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh warga belajar setelah melakukan proses kegiatan belajar. Hasil belajar dapat diungkapkan dalam bentuk angka atau huruf yang menggambarkan tingkat penguasaan warga belajar terhadap apa yang telah dipelajarinya. Hasil belajar yang diperoleh warga belajar setelah proses belajar mengajar dapat diketahui melalui suatu indikator hasil belajar yaitu tes. Hasil belajar dapat dijadikan guru sebagai acuan penilaian.
3. BIMBINGAN BELAJAR
bimbingan belajar adalah suatu bentuk kegiatan dalam proses belajar yang dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki kemampuan lebih dalam banyak hal untuk diberikan kepada orang lain yang mana bertujuan agar orang lain dapat menemukan pengetahuan baru yang belum dimilikinya serta dapat diterapkan dalam kehidupannya.
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. KAJIAN TEORI
1. Disiplin
Disiplin berasal dari bahasa latin Discere yang berarti belajar. Dari kata ini timbul kata Disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Dan sekarang kata disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peratuaran atau tunduk pada pengawasan, dan pengendalian. Kedua disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib
Sadar akan hakikatnya, setiap manusia Indonesia di muka bumi ini selalu berbuat untuk hal yang lebih baik. Untuk mengubah prilaku menuju ke hal yang lebih baik itu tidaklah mudah yang kita bayangkan. Perubahan itu melalui perjalanan yang panjang, berjenjang, dan berkesinambungan. Satu-satunya jalur yang dapat ditempuh yakni dengan pendidikan.
Dalam pendidikan luar sekolah warga belajar dikenal dengan istilah warga belajar. Warga belajar adalah orang yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan. Dalam perkembangannya harus melalui proses belajar. Termasuk di dalamnya belajar mengenal diri, belajar mengenal orang lain, dan belajar mengenal lingkungan sekitarnya. Ini dilakukan agar warga belajar dapat mengetahui dan menempatkan posisinya di tengah-tengah masyarakat sekaligus mampu mengendalikan diri.
Sifat pengendalian diri harus ditumbuhkembangkan pada diri warga belajar. Pengendalian diri di sini dimaksudkan adalah suatu kondisi di mana seseorang dalam perbuatannya selalu dapat menguasai diri sehingga tetap mengontrol dirinya dari berbagai keinginan yang terlalu meluap-luap dan berlebih-lebihan. Berarti dalam sifat pengendalian diri tersebut terkandung keteraturan hidup dan kepatuhan akan segala peraturan. Dengan kata lain, perbuatan warga belajar selalu berada dalam koridor disiplin dan tata tertib. Bila demikian, akan tumbuh rasa kedisiplinan warga belajar untuk selalu mengikuti tiap-tiap peraturan yang berlaku. Mematuhi semua peraturan yang berlaku merupakan suatu kewajiban bagi setiap warga belajar.
Masalah kedisiplinan warga belajar menjadi sangat berarti bagi kemajuan kepribadiannya (Nursisto, 2002:78). Warga belajar yang disiplin dan tertib akan selalu menciptakan proses pembelajaran yang baik. Sebaliknya, warga belajar yang tidak disiplin dan tidak tertib kondisinya akan jauh berbeda. Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi sudah dianggap barang biasa dan untuk memperbaiki keadaan yang demikian tidaklah mudah. Hal ini diperlukan kerja keras dari berbagai pihak untuk mengubahnya, sehingga berbagai jenis pelanggaran terhadap disiplin dan tata tertib sekolah tersebut perlu dicegah dan ditangkal.
Tingkat kedisiplinan warga belajar umumnya masih tergolong memprihatinkan. Kuantitas pelanggaran yang dilakukan oleh warga belajar semakin bertambah dari waktu ke waktu. Dari berbagai jenis pelanggaran tata tertib sekolah, misalnya banyaknya warga belajar yang bolos atau minggat pada waktu jam belajar, perkelahian, terlambat datang ke lembaga bimbel, malas belajar, sering tidak masuk sekolah, tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru, tidak membuat pekerjaan rumah, merokok, dan lain-lain. Secara garis besar banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh warga belajar akan berpengaruh terhadap kemajuan dan hasil belajar di sekolah.
2. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan prestasi yang dicapai seseorang setelah mengikuti proses belajar mengajar. Seseorang dikatakan telah berhasil dalam belajar apabila telah terjadi perubahan tingkah laku dalam dirinya dan perubahan itu terjadi karena latihan dan pengalaman. Perubahan itu bersifat kontinu, fungsional, positif dan aktif serta terjadi secara disadari oleh orang yang belajar.
Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh warga belajar setelah melakukan proses kegiatan belajar. Hasil belajar dapat diungkapkan dalam bentuk angka atau huruf yang menggambarkan tingkat penguasaan warga belajar terhadap apa yang telah dipelajarinya. Hasil belajar yang diperoleh warga belajar setelah proses belajar mengajar dapat diketahui melalui suatu indikator hasil belajar yaitu tes. Hasil belajar dapat dijadikan guru sebagai acuan penilaian. Tujuan penilaian menurut Slameto (1988:10) adalah “untuk mengetahui penguasaan warga belajar atas berbagai hal yang pernah diajarkan untuk memberikan gambaran tentang pencapaian program-program pendidikan secara menyeluruh”. Dari uraian di atas jelaslah bahwa hasil belajar warga belajar menentukan keberhasilan warga belajar dalam penguasaan konsep yang telah dipelajari.
Dari proses belajar akan diperoleh hasil belajar dalam penilaian suatu perubahan sikap, pengetahuan, nilai dan keterampilan. Menurut Syafruddin (2004: 25) Hasil belajar yang diperoleh oleh warga belajar ialah hasil belajar yang bersifat proses pada saat kegiatan belajar. Hasil belajar yang dihasilkan diperoleh dengan melakukan pengukuran.
Mengukur kegiatan belajar individu berarti membandingkan cara individu berperilaku pada waktu tertentu dengan waktu yang lain dalam suasana yang serupa. Bila perilaku dalam suasana itu berbeda untuk kedua kalinya, maka dapat dikatakan bahwa terjadi belajar. Aspek-aspek individu yang diukur tersebut dinyatakan dalam bentuk angka-angka. Skor berupa angka-angka ini dijadikan indikator dari aspek individu yang diukur.
Untuk mengetahui hasil belajar yang didapatkan setiap individu, maka diperlukan pengukuran. Informasi pengukuran tersebut didapat melalui ujian dan tugas pendalaman materi. Dengan demikian hasil belajar yang didapatkan warga belajar memberikan bayangan tingkat penguasaan warga belajar atas pengetahuan yang diterimanya. Berkaitan dengan hasil belajar yang diperoleh, Bloom dalam Abdurrahman (2003: 38) membagi hasil belajar tersebut kepada tiga ranah yaitu:
1. Ranah kognitif, meliputi pengetahuan, pemahaman, penerapan, sintesis, dan analisis.
2. Ranah afektif, mencakup penerimaan, partisipasi, penilaian, sikap, organisasi dan pembetukan pola hidup.
3. Ranah psikomotor, terdiri dari persepsi, kesiapan gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan komplek, penyesuaian pola dan kreatifitas.
Dari ketiga tingkatan tersebut, biasanya yang dijadikan ukuran keberhasilan adalah segi kognitif. Tingkatan ini menunjukan tingkatan kualitas hasil belajar yang didapatkan individu yang melakukan kegiatan belajar.
3. Hubungan Kedisiplinan Dengan Hasil Belajar
Proses pembelajaran dilaksanakan untuk dapat melakukan perubahan pada warga belajar. Perubahan ini merupakan perubahan mendasar sebab terkait dengan sikap dan kompetensi warga belajar. Dengan berbagai cara guru membimbing warga belajar agar dapat mencapai tingkat kemampuan tertinggi.
Namun, semua itu sangat tergantung pada tingkat kedisiplinan warga belajar dalam belajar. Dan, menurut penelitian memang ada pengaruh disiplin terhadap hasil belajar warga belajar. Anak-anak yang disiplin dalam belajar mempunyai tingkat kompetensi lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang tidak disiplin.
Pengaruh disiplin terhadap hasil belajar warga belajar memang sangat jelas. Sebagaimana kita ketahui bahwa disiplin artinya ketaatan kita terhadap satu kesepakatan yang telah kita buat untuk mencapai tujuan tertentu, dalam hal ini hasil belajar warga belajar. Dalam kehidupan kita berlaku satu konsep dasar bahwa siapa yang lebih patuh terhadap keputusan bersama, maka dia akan mendapatkan yang diinginkan.
Dalam dunia pendidikan, kedisiplinan merupakan harga mati yang harus dibayar oleh warga belajar. Kita tidak dapat menerima penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh warga belajar. Oleh karena itulah, maka di dalam proses pendidikan dan pembelajaran kita mengenal adanya reward dan punishment. Kedua hal tersebut merupakan konsekuensi yang harus diterima oleh warga belajar.
Hal ini harus kita lakukan sebab pengaruh disiplin terhadap hasil belajar warga belajar sangatlah besar. Ini bukanlah ancaman bagi warga belajar tetapi sekedar pengkondisian agar tumbuh dan berkembang sikap disiplin pada pola kehidupan warga belajar
4. Bimbingan Belajar
Menurut A J Jones, bimbingan belajar merupakan suatu proses pemberian bantuan seseorang pada orang lain dalam menentukan pilihan dan pemecahan masalah dalam kehidupannya.
Menurut L D Crow dan A Crow, bimbingan belajar merupakan suatu bantuan yang dapat diberikan oleh seseorang yang telah terdidik pada orang lain yang mana usianya tidak ditentukan untuk dapat menjalani kegiatan dalam hidupnya.
Jadi, bimbingan belajar adalah suatu bentuk kegiatan dalam proses belajar yang dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki kemampuan lebih dalam banyak hal untuk diberikan kepada orang lain yang mana bertujuan agar orang lain dapat menemukan pengetahuan baru yang belum dimilikinya serta dapat diterapkan dalam kehidupannya.
Bimbingan belajar (bimbel) merupakan bagian tidak terpisahkan dalam praktek pendidikan di Indonesia. Jaman dulu, fenomena bimbel lekat dengan les privat dan bimbingan tes menjelang ujian sekolah atau menuju jenjang perguruan tinggi. Pendek kata, bimbel hanyalah sebatas bimbingan ujian untuk menjawab soal dengan cepat dan tepat.
Bimbel telah menjadi suatu kebutuhan sehari-hari sebagai tempat belajar tambahan di luar sekolah. Kebutuhan tersebut terus membesar seiring makin besarnya kesadaran pelajar akan arti pentingnya bimbel untuk mereka. Sebab itu, sekarang ini bimbel-bimbel setiap harinya selalu ramai dan dipenuhi oleh siswa, tidak hanya sebatas ketika musim ujian saja.
Adanya tuntutan dan kegalauan orang tua agar anaknya memperoleh hasil belajar yang optimal menjadi dasar memasukkan anaknya ke lembaga bimbel yang diyakini mampu meningkatkan hasil belajar anaknya, salah satu lembaga bimbel yaitu MSC Kampung Tarandam lubuk Alung.
5. Bimbingan Belajar sebagai Bentuk Program PLS
Menurut Sudjana (2004) bimbel merupakan salah satu bentuk pendidikan luar sekolah, yang kegiatannya terorganisir dan sistematis di luar system persekolahan yang mapan dan dilaksanakan secara mandiri yang sengaja dilakukan untuk melayani warga belajar didalam mencapai tujuan belajar.
a) Fungsi bimbel
1. Memberikan pengetahuan kepada warga belajar agar mempunyai ilmu pengetahuan yang berguna di masyarakat
2. Sebagai penambah dan pelengkap dari mata pelajaran yan ada di sekolah
b) Tujuan bimbel
1. Menambah pengetahuan dan pengalaman warga belajar
2. Memeberikan cara belajar/tak-tik belajar agar belajar lebih menyenangkan
3. Memberikan penyelesaian dan pemecahan soal yang terbaru dan dimengerti warga belajar
c) Program bimbel
1. Program bimbel intensif
Program bimbel yang diikuti warga belajar dalam kurun waktu tertentu
2. Program bimbel super intensif
Program bimbel yang dilaksanakan oleh setiap warga belajar yang ingin menambah pengetahuan pada mata pelajaran dan untuk tujuan tertentu
3. Program bimbel SPMB
Program bimbel yang dilaksanakan oleh warga belajar untuk menambah pengetahuan guna mengikuti SPMB
Pendidikan Luar Sekolah merupakan kegiatan yang dilaksanakan diluar system persekolahan, baik dilembaga ataupun tidak. Bimbel merupakan salah satu bentuk program Pendidikan Luar Sekolah yang bertujuan memberikan pengetahuan kepada sasara didik di luar kegiatan persekolahan.
Sasaran yang ingin dicapai oleh guru di sekolah dalam pembelajaran matematika di kelas cukup luas. Sedangkan waktu yang tersedia amat terbatas. Sehingga pemahaman warga belajar terhadap pembelajaran matematika menjadi kurang baik, dan jika hal ini terjadi, maka akan berpengaruh terhadap hasil belajar warga belajar.
Namun mengikuti program bimbel saja tidaklah cukup tanpa diiringi dengan kedisiplinan masing-masing warga belajar, dengan harapan penguasaan pelajaran matematika yang optimal dan hasil belajar yang baik.
B. KERANGKA BERFIKIR
Berdasarkan kajian teori yang telah dikemukakan sebelumnya maka hal utama dalam penelitian ini adalah mengetahui ada hubungan antara tingkat kedisiplinan dengan hasil belajar matematika pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung. Adapun variabel X (variabel terikat) yaitu tingkat kedisiplinan dan variabel Y (variabel bebas) yaitu hasil belajar.
Variabel X Variabel Y
C. HIPOTESIS MASALAH
Berdasarkan kerangka berfikir yang telah dikemukakan sebelumnya maka hipotesis masalahnya adalah terdapat hubungan yang signifikan dari tingkat kedisiplinan dengan hasil belajar matematika pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung .
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
Sesuai dengan permasalahan yang diteliti, maka jenis penelitian ini termasuk penelitian korelasional karena antara kedisiplinan warga belajar pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung. Seperti yang dikemukakan oleh Usman dalam Muhammad (2002:12) bahwa “penelitian korelasional bertujuan untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada satu faktor berhubungan dengan variasi-variasi/ lebih faktor lain berdasarkan koefesien kolerasi” adapun penelitian ini akan penulis lakukan dengan pendekatan kuantitatif.
B. POPULASI DAN SAMPEL
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari objek penelitian. Maka dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh peseta didik yang terdaftar di lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung.
Cirri-ciri dari populasi pada penelitin ini adalah:
1. Terdaftar sebagai warga belajar bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung.
2. Mengikuti proses pembelajaran sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku
3. Bertempat tinggal disekitar lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung
Maka yang menjadi populasi penelitian ini adalah warga belajar di lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung pada pelajaran matematika berjumlah 46 orang.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang harus representatif, artinya segala karakteristik populasi tercermin pada sampel yang diambil. Karena populasi yang ada <100, maka semua populasi yang berjumlah 46 orang diambil untuk dijadikan sampel.
C. JENIS , VARIABEL DATA DAN SUMBER DATA
1. Jenis data
Berdasarkan jenis data yang digunakan dalam penelitian ini, data dapat dikelompokkan berupa data primer yaitu data tentang kedisiplinan warga belajar dan data sekunder yaitu data tentang hasil belajar metematika warga belajar di lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung
Data berupa kedisiplinana mencakup:
a) Kedisiplinan waktu belajar
b) Kedisiplinan dalam proses belajar mengajar
c) Kedisiplinana dalam tata tertib
d) Data hasil belajar warga belajar
2. Variabel Data
Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel bebas
Variabel bebas yaitu variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel independent atau terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebasnya adalah tingkat kedisiplinan
2. Variabel terikat
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi suatu akibat adanya variabel bebas, yang menjadi variabel terikat adalah hasil belajar warga belajar di lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung
3. Sumber data
Sumber data untuk jenis tingkat kedisiplinan warga belajar diperoleh dari warga belajar dan jenis data untuk hasil belajar warga belajar dalam pelajaran matematika diperoleh melalui dokumen nilai pada tutor mata pelajaran matematika.
D. INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen adalah sarana untuk memperoleh data, maka instrumen yang digunakan untuk penelitian disusun dengan cara menjabarkan variable kepada beberapa sub variable. Setelah sub variable ditetapkan, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan indicator dari sub variable
Indicator ditetapkan berdasarkan kedisiplinan warga belajar dalam belajar, setelah itu barulah dirumuskan butir pertanyaan untuk mengetahui kedisiplinan warga belajar pada lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur hubungan tingkat kedisiplinan dengan hasil belajar adalah berupa pertanyaan berbentuk skala penilaian dengan alternative jawaban yaitu pola Skala Likert yaitu skala dalam bentuk kuntinum yang terdiri dari 5 kategori dan pernyataan angket yang bersifat positif dan negatif. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel : Daftar Skor Jawaban Setiap Pertanyaan Berdasarkan Sifatnya
Pertanyaan Sifat Pernyataan
Positif Negatif
Selalu (SL) 5 1
Sering (SR) 4 2
Kadang-kadang (KD) 3 3
Jarang (JR) 2 4
Tidak Pernah (TP) 1 5
Butir pertanyaan yang disusun dapat digunakan untuk melihat kedisiplinan warga belajar dalam belajar matematika mencakup dari ketepatan waktu dalam belajar, prosess belajar mengajar dan juga tata tertib dalam belajar.
1. Uji Coba Instrumen
Butir pertanyaan yang dibuat dalam bentuk pedoman observasi, sebelum dilakukan obeservasi yang sesungguhnya, terlebih dahulu dilakukan uji coba untuk mengetahui validitas dan keterandalan instrument. Dalam uji coba instrument di uji cobakan 10 responden yang luar dari sampel.
2. Uji validitas
Menurut Arikunto (2003:329) menjelaskan bahwa yang dimaksud validitas adalah ketepatan mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir pertanyaan tersebut. Untuk mengetahui validitas instrument, di gunakan rumus korelasi tata jenjang dari Sperman sebagai berikut:
Rho = 1 -
Keterangan :
Rho : Koefesien korelasi tata jenjang
B : Beda yaitu selisih antara variabel 1 dan variabel 2
N : Banyaknya subjek pemilik nilai
3. Uji reliabilitas instrument
Uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengukur seberapa besar suatu pengukuran mengukur dengan stabil atau konsisten. Instrumen yang dipercaya untuk digunakan sebagai alat mengumpulkan data karena instrument penelitian yang baik, dan rumus yang digunakan adalah rumus k-R21 yang di kemukakan oleh Arikunto (2005:17) yaitu:
Keterangan:
Rn : Reabilitas Instrument
k : Banyaknya butir (pertanyaan)
M : Rata-rata skorseluruh butir (pertanyaan)
Vt : Validitas total
E. TEKNIK DAN ALAT PENGUMPULAN DATA
Untuk data tentang kedisiplinan warga belajar diperoleh melalui teknik observasi langsungpada warga belajar di lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung dengan menggunakan panduan observasi dalam bentuk daftar cek. Adapun data tentang hasil belajar pada mata pelajaran Matematika diperoleh melalui studi dokumentasi dari tutor mata pelajaran Matematika dengan menggunakan blangko pencatatan.
F. TEKNIK ANALISA DATA
Untuk data tentang gambaran kedisiplinan warga belajar dengan hasil belajar pada mata pelajaran Matematika di lembaga bimbel MSC Kampung Tarandam Lubuk Alung diambil dengan mengunakan nilai rata-rata. Hal ini sesuai dengan pendapat Iqbal Hasan (2001:71) yang menyatakan bahwa” nilai rata-rata dapat dihitung berdasartkan keseluruhan nilai yang terdapat dalam data yang bersangkutan”.
Adapun rumus yang digunakan adalah rata-rata hitung (mean) seprti tertera dibawah ini:
Rumus:
Keterangan:
: Mean
Xi : Data Pengamatan ke i
n : Jumlah data sampel
Untuk melihat hubungan antara kedisiplinan dengan hasil belajar digunakan teknik analisis dalam melakukan data tersebut adalah rumus produk moment yang mana teknik ini dipilih untuk melihat hubungan antara satu variable dengan variable lainnya.
Rumus produk moment:
rxy =
Keterangan :
= Koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y
∑xsy= Jumlah perkalian x dan y
X2= Kuadrat dari x
y2 = Kuadrat dari y
n = Banyaknya item
MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Filsafat ialah satu disiplin ilmiah yang mengusahakan kebenaran yang bersifat umum dan mendasar. Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani “philosophia”, yang berarti love of wisdom atau mencintai kebenaran. Empat hal yang melahirkan filsafat yaitu ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya dan keraguan. Ketakjuban terhadap segala sesuatu (terlihat/tidak) dan dapat diamati (dengan mata dan akal budi) serta ketidakpuasan akan penjelasan berdasarkan mitos membuat manusia mencari penjelasan yang lebih meyakinkan dan berpikir rasional. Hasrat bertanya membuat manusia terus mempertanyakan segalanya, tentang wujud sesuatu serta dasar dan hakikatnya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk memperoleh penjelasan yang lebih pasti menunjukkan adanya keraguan (ketidakpastian) dan kebingungan pada manusia yang bertanya.
Ciri berpikir secara filsafati adalah radikal (berpikir tuntas, atau mendalam sampai ke akar masalah); sistematis (berfikir logis dan terarah, setahap demi setahap); dan universal (berpikir umum dan menyeluruh, tidak terbatas pada bagian-bagian tertentu, tetapi melihat masalah secara utuh) dan ranah makna (memikirkan makna terdalam berupa nilai kebenaran, keindahan dan kebaikan). Dalam filsafat, digunakan nalar dan pernyataan-pernyataan untuk menemukan kebenaran dan pengetahuan akan fakta. Ketika menyelesaikan masalah secara falsafah, seseorang tidak harus merujuk pada sumber lain tapi hendaknya bisa menjawab masalah yang dipikirkannya menggunakan akal budinya, dengan pikiran yang bebas. Jika seseorang berfikir sangat dalam ketika menghadapi suatu masalah dalam hubungannya dengan kebenaran, maka orang itu dapat dikatakan telah berpikir secara filsafati dan kajian yang tersusun oleh pemikirannya itu disebut falsafah.
Objek material dari suatu kajian filsafat adalah segala yang ada mencakup apa yang tampak (dunia empiris) dan apa yang tidak tampak (dunia metafisik) sementara objek formalnya adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal dan rasional tentang segala yang ada (objek material). Suatu masalah akan menjadi masalah falsafah jika masalah tersebut tidak bisa diselesaikan dengan kaidah pengamatan atau kaidah sains.
Masalah falsafah biasanya melibatkan masalah tentang konsep, ideologi, dan masalah-masalah lain yang bersifat abstrak, contohnya apakah kebenaran? Apakah ilmu pengetahuan? Berpikir filsafati biasanya bertujuan untuk mencari jawaban atas masalah yang sifatnya baik dan bisa memajukan umat manusia. Sains berarti ilmu, yaitu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu dan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan. Cakupan objek filsafat lebih luas dibandingkan ilmu. Jika ilmu terbatas hanya pada persoalan empiris, maka filsafat mencakup masalah diluar empiris.
Secara historis, ilmu berasal dari kajian filsafat karena pada awalnya filsafatlah yang melakukan pembahasan tentang segala yang ada secara sistematis, rasional dan logis. Filsafat merupakan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Perkembangan kajian terkait dengan masalah empiris menimbulkan spesi-alisasi keilmuan dan menghasilkan kegunaan praktis. Sehingga, filsafat sains me-rupakan disiplin ilmu yang digunakan sebagai kerangka dasar/landasan berpikir bagi proses keilmuan. Seorang ilmuwan yang mampu berfikir filsafati, diharapkan bisa mendalami unsur-unsur pokok dari ilmu yang ditekuninya secara menyeluruh sehingga bisa memahami sumber, hakikat dan tujuan dari ilmu yang dikembang-kannya, termasuk manfaatnya bagi pengembangan masyarakatnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas didapatkan rumusan masalahnya adalah:
1. Apa itu pengertian filsafat pendidikan?
2. Siapa saja subjek/ Obyek Filsafat Pendidikan?
3. Bagaimana ruang Lingkup Filsafat?
4. Bagaimana pentingnya filsafat bagi manusia?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan penulisan dari pada makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian filsafat pendidikan
2. Mengetahui apa saja subjek/ Obyek Filsafat Pendidikan
3. Mengetahui ruang Lingkup Filsafat?
4. Sebagai sumbangan bagi pendidikan, baik untuk pendidik maupun peserta didik
5. Sebagai pelengkap tugas akhir mata kuliah Filsafat Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat Pendidikan
Pandangan filsafat pendidikan sama dengan perananya merupakan landasan filosofis yang menjiwai seluruk kebijaksanaan pelaksanaan pendidikan. Dimana landasan filsofis merupakan landasan yang berdasarkan atas filsafat. Landasan filsafat menalaah sesuatu secara radikal, menyeluruh, dan konseptual tentang religi dan etika yang bertumpu pada penalaran. Oleh karena itu antara filsafat dengan pendidikan sangat erat kaitannya, dimana filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarkaat sedangkan pendidikan berusahan mewujudkan citra tersebut.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
Filsafat mengadakan tinjauan yang luas mengani realita, maka dikupaslan antara lain pandangan dunia dan pandangan hidup. Konsep-konsep mengenai ini dapat menjadi landasan penyusunan konsep tujuan dan metodologi pendidik. Disamping itu, pengalaman pendidik dalam menuntut pertumbuhan danperkembangan anak akan berhubungan dan berkenalan dengan realita. Semuanya itu dapat disampaikan kepada flsafat untuk dijadikan bahan-bahan pertimbangan dan tinjauan untuk memperkembangkan diri. Hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Filsafat mempuyai objek lebih luas, sifatnya universal. Sedangkan filsafat pendidikan objeknya terbatas dalam dunia filsafat pendidikan saja
2. Filsafat hendak memberikan pengetahuan/ pendiidkan atau pemahaman yang lebih mendalam dan menunjukkan sebab-sebab, tetapi yang tak begitu mendalam
3. Filsafat memberikan sintesis kepada filsafat pendidikan yang khusus, mempersatukan dan mengkoordinasikannya
4. Lapangan filsafat mungkin sama dengan lapangan filsafat pendidikan tetapi sudut pandangannya berlainan
Dalam menerapkan filsafat pendidikan, seorang guru sebagai pendidik mengharapkan dan mempunyai hak bahwa ahli-ahli filsafat pendidikan menunjukkan dirinya pada masalah pendidikan pada umumnya serta bagaimana masalah itu mengganggu persekolahan yang menyangkut masalah perumusan tujuan, kurkulum, organisasi sekolah dan sebagainya. Dan para pendidik juga mengaharapkan dari ahli filsafat pendidikan suatu klasifikasi dari uraian lebih lanjut dari konsep, argumen dirinya literatur pendidikan terutama dalam kotraversi pendidikan sistem-sistem, pengjuian kopetensi minimal dan kesamaan kesepakatan pendidikan.
Brubacher (1950) mengemukakan tentang hubungan antara filsafat dengan filsafat pendidikan, dalam hal ini pendidikan : bahwa filsafat tidak hanya melahirkan sains atau pengetahuan baru, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Filsafat merupakan kegiatan berpikir manusia yang berusaha untuk mencapai kebijakan dankearifan. Sedangkan filsafat pendidikan merupakan ilmu ayng pad ahakekantya jawab dari pertanyaa-pertanyaan yagn timbul dalam lapangan pendidkan. Oleh karen aberisfat filosofis, dengan sendirinya filsafat pendidikan ini hakekatnya adalah penerapan dari suatu analisa filosofis terhadap lapangan pendidikan.
B. Subjek/ Obyek Filsafat Pendidikan
Subjek filsfat adalah seseroang yang berfikir/ memikirkan hakekat sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Seperti halnya pengetahuan, Maka filsafatpun (sudut pandangannya) ada beberapa objek yang dikaji oleh filsafat
a). Obyek material yaitu segala sesuatu yang realitas
1. Ada yang harus ada, disebut dengan absoluth/ mutlak yaitu Tuhan Pencipta
2. Ada yang tidak harus ada, disebut dengan yang tidak mutlak, ada yang relatif (nisby), bersifat tidak kekal yaitu ada yang diciptakan oleh ada yang mutlak (Tuhan Pencipta alam semesta)
b). Obyek Formal/ Sudut pandangan
Filsafat itu dapat dikatakan bersifat non-pragmentaris, karena filsafat mencari pengertian realitas secara luas dan mendalam. Sebagai konsekuensi pemikiran ini, maka seluruh pengalaman-pengalaman manusia dalam semua instansi yaitu etika, estetika, teknik, ekonomi, sosial, budaya, religius dan lain-lain haruslah dibawa kepada filsafat dalam pengertian realita.
Menurut Prof Dr. M. J. Langeveld : “……bahwa hakikat filsafat itu berpangkal pada pemikiran keseluruhan sarwa sekalian scara radikan dan menurut sistem”.
1. Maka keseluruhan sarwa sekalian itu ada. Ia adalah pokok dari yang dipikirkan orang dalam filsafat
2. Ada pula pikiran itu sendiri yang terhadap dalam filsafat sebagai alat untuk memikirkan pokoknya
3. Pemikiran itupun adalah bahagian daripada keseluruhan, jadi dua kali ia teradapat dalam filsafat, sebagai alat dan sebagai keseluruhan sarwa sekalian
Menurut Mr. D. C Mulder menulis sebagai berikut :
“Tiap-tiap manusia yang mulai berpikir tentang diri sendiri dan tentang tempatnya dalam dunia, akan mengahdapi beberapa persoalan yang begitu penting sehingga persoalan-persoalan itu boleh diberi nama persoalan-persolan pokok”.
Louis Kattsoff mengatakan lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu apa saja yang ingin diketahui manusia.
Dr. A. C Ewing mengatakan bahwa kebenaran, materi, budi, hubungan materi dan budi, ruang dan waktu, sebab, kemerdekaan, monisme lawan fluarlisme dan tuhan adalah termasuk pertanyaan-pertanyaan pokok filsafat
C. Ruang Lingkup Filsafat
Para ahli mengatakan bahwa ruang lingkup dari ilmu filsafat yaitu :
Tentang hal mengerti, syarat-syaratnya dan metode-metodenya.
Tentang ada dan tidak ada.
Tentang alam, dunia dan seisinya.
Menentukan apa yang baik dan apa yang buruk.
Hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama makhluk lainnya.
Tuhan tidak dikecualikan.
Filsafat itu erat hubungannya dengan pengetahuan biasa, tetapi mengatasinya karena dilakukan dengan cara ilmiah dan mempertanggungjawabkan jawaban-jawaban yang diberikannya.
Filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai sifat-sifat ilmu pengetahuan tapi. Akan tetapi jelaslah bahwa filsafat tidak termasuk ruangan ilmu pengetahuan yang khusus. Filsafat boleh dikatakan suatu ilmu pengetahuan, tetapi obyeknya tidak terbatas, jadi mengatasi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya merupakan bentuk ilmu pengetahuan yang tersendiri, tingkatan pengetahuan tersendiri.
Para ahli mengatakan bahwa ruang lingkup dari ilmu filsafat yaitu :
a. Tentang hal mengerti, syarat-syaratnya dan metode-metodenya.
b. Tentang ada dan tidak ada.
c. Tentang alam, dunia dan seisinya.
d. Menentukan apa yang baik dan apa yang buruk.
e. Hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama makhluk lainnya.
f. Tuhan tidak dikecualikan.
Ruang lingkup dari filsafat yaitu :
1. Tentang pengetahuan : logika yang memuat :
a). Logika formil
Yang mempelajari asas-asas atau hukum-hukun berpikir yang harus ditaati agar kita dapat berpikit dengan benar dan mencapai kebenaran. jadi bagaimana orang harus berpikir dengan baik dan aturan-aturan untuk itu. Hukum-hukum logika berlaku dan penting bagi semua ilmu pengetahuan lainnya pula, bagi filsafat merupakan alat yang harus dikuasai lebih dahulu.
b). Logika materiil kritik (epistimologi)
Yang memandang ilmu pengetahuan (materil) dan bagaimana isi ini dapat dipertanggungjawabkan. Jadi mempelajari perihal :
1. Sumber dan asal pengetahuan
2. Alat-alat pengetahuan
3. Proses terjadinya pengetahuan
4. Kemungkinan dan batas pengetahuan
5. Kebenaran dan kekeliruan
6. Metode ilmu pengetahuan dan lain-lain.
2. Tentang “ada” : metafisika atau ontology
Hal ini mengupas tentang :
1. Apakah arti ada itu?
2. Apakah kesempurnaannya ada itu?
3. Apakah tujuannya ada itu?
4. Apakah sebab dan akibat?
5. Apakah yang merupakan dasar yang terdalam dari setiap barang yang ada itu?
3. Tentang dunia material : kosmologi
Hal ini membicarakan tentang asal mula atau sumber dan susunan atau struktur dari alam semesta.
4. Tentang manusia : filsafat tentang manusia.
Orang mengetahui tentang “ada” itu dari adanya sendiri.
5. Tentang kesusilaan : etika
Manusia itu yakin dan wajib berbuat baik dan menghindarkan yang tidak baik itu menimbulkan berbagai soal, yaitu :
1. Apakah yang disebut baik itu?
2. Apakah yang buruk itu?
3. Apakah ukuran baik atau buruk itu?
4. Apakah suara batin itu?
5. Apakah kehendak bebas?
6. Apakah artinya kepribadian itu?
6. Tentang Tuhan : Theodyca
Hal inilah yang merupakan konsekuensi terakhir dari seluruh pandangan filsafat. Renungan tentang pengetahuan kita itu membuktikan bahwa manusia itu bukan sumber sari segala-segalanya, bukan sumber daripada segala pengetahuan. Singkatnya bahwa ia bukan yang mutlak, sebab itu harus dicari sumber yang terdalam dan sebab yang terakhir, yang mengatasi manusia sendiri dan dunia.
D. Pentingnya Filsafat Bagi Manusia
Filsafat mencoba memadukan hasil-hasil dari berbagai sains yang berbeda ke dalam suatu pandangan dunia yang konsisten. Filosof cenderung untuk tidak menjadi spesialis, seperti ilmuwan. Ia menganalisis benda-benda atau masalah dengan suatu pandangan yang menyeluruh. Filsafat tertarik terahdap aspek-aspek kualitatif segala sesuatu, terutama berkaitan dengan makna dan nilai-nilainya. Filsafat menolak untuk mengabaikan setiap aspek yang otentik dari pengalaman manusia.
Kita sangat memerlukan suatu ilmu yang sifatnya memberikan pengarahan/ ilmu pengarahan. Dengan ilmu tersebut, manusia akan dibekali suatu kebijaksanaan yang di dalamnya memuat nilai-nilai kehidupan yang sangat diperlukan oleh umat manusia. Hanya ilmu filsafatlah yang dapat diharapkan mampu memberi manusia suatu integrasi dalam membantu mendekatkan manusia pada nilai-nilai kehidupan untuk mengenai mana yan gpantas kita tolak, man ayang pantas kita tujui, mana yang pantas kita ambil sehinga dapat memberikan makna kehidupan. Ada beberapa pentingnya filsafat bagi manusia yaitu :
1. Dengan belajar filsafat diharapkan akan dapatmenambah ilmu pengetahuan, karena dengan bertambahnya ilmu akan bertambah pula cakrawala pemikiran dan pangangan yang semakin luas
2. Dasar semua tindakan. Sesungguhnya filsafat di dalamnya memuat ide-ide itulah yang akan membawa mansuia ke arah suatu kemampuan utnuk merentang kesadarannya dalam segala tindakannya sehingga manusia kaan dapat lebih hidup, lebih tanggap terhadap diri dan lingkungan, lebih sadar terhadap diri dan lingkungan
3. Dengan adanya perkembangan ilmu pengethauan dan teknologi kita semakin ditentang dengan kemajuan teknologi beserta dampak negatifnya, perubahan demikian cepatnya, pergeseran tata nilai, dan akhirnya kita akan semakin jauh dari tata nilai dan moral
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Objek filsafat, objek itu dapat berwujud suatu barang atau dapat juga subjek itu sendiri contohnya si aku berfikir tentang diriku sendiri maka objeknya adalah subjek itu sendiri. Objek filsafat dapat dibedakan atas 2 hal :
1. Objek material adalah segala sesuatu atau realita, ada yang harus ada dan ada yang tidak harus ada
2. Objek formal adalah bersifat mengasaskan atau berprinsi dan oleh karena mengasas, maka filsafat itu mengkonstatis prinsip-prinsip kebenaran dan tidak kebenaran
Para ahli mengatakan bahwa ruang lingkup dari ilmu filsafat yaitu :
1. Tentang hal mengerti, syarat-syaratnya dan metode-metodenya.
2. Tentang ada dan tidak ada.
3. Tentang alam, dunia dan seisinya.
4. Menentukan apa yang baik dan apa yang buruk.
5. Hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama makhluk lainnya.
6. Tuhan tidak dikecualikan.
B. Saran
Saran yang bisa penulis berikan pada makalah ini adalah sebaiknya sebelum kita belajar filsafat pendidikan ada baiknya kita mengerti apa itu filsafat pendidikan, subjek filsafat pendidikan serta ruang lingkup filsafat itu sendiri. Agar tidak terjadi kesalahfahaman antara pendidik dan peserta didik di kemudian hari.
DAFTAR BACAAN
Bakry, Hasbullah, Sitematik Filsafat (Widjaya, Yogyakarta, 1970).
Idris, H. Sahara dan Jamal, H Lisman, Pengantar Pendidikan (Grasindo, 1992)
Sumitro, Dkk, Pengantar Ilmu Pendidikan, IKIP Yogyakarta
Murtiningsih, Siti, Pendidikan Alat Perlawanan, Resist Book, 2004
Sadullah, Uyah. Drs, Pengantar Filsafat Pendidikan (Alfabet, Yogyakarta 2004)
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Filsafat ialah satu disiplin ilmiah yang mengusahakan kebenaran yang bersifat umum dan mendasar. Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani “philosophia”, yang berarti love of wisdom atau mencintai kebenaran. Empat hal yang melahirkan filsafat yaitu ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya dan keraguan. Ketakjuban terhadap segala sesuatu (terlihat/tidak) dan dapat diamati (dengan mata dan akal budi) serta ketidakpuasan akan penjelasan berdasarkan mitos membuat manusia mencari penjelasan yang lebih meyakinkan dan berpikir rasional. Hasrat bertanya membuat manusia terus mempertanyakan segalanya, tentang wujud sesuatu serta dasar dan hakikatnya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk memperoleh penjelasan yang lebih pasti menunjukkan adanya keraguan (ketidakpastian) dan kebingungan pada manusia yang bertanya.
Ciri berpikir secara filsafati adalah radikal (berpikir tuntas, atau mendalam sampai ke akar masalah); sistematis (berfikir logis dan terarah, setahap demi setahap); dan universal (berpikir umum dan menyeluruh, tidak terbatas pada bagian-bagian tertentu, tetapi melihat masalah secara utuh) dan ranah makna (memikirkan makna terdalam berupa nilai kebenaran, keindahan dan kebaikan). Dalam filsafat, digunakan nalar dan pernyataan-pernyataan untuk menemukan kebenaran dan pengetahuan akan fakta. Ketika menyelesaikan masalah secara falsafah, seseorang tidak harus merujuk pada sumber lain tapi hendaknya bisa menjawab masalah yang dipikirkannya menggunakan akal budinya, dengan pikiran yang bebas. Jika seseorang berfikir sangat dalam ketika menghadapi suatu masalah dalam hubungannya dengan kebenaran, maka orang itu dapat dikatakan telah berpikir secara filsafati dan kajian yang tersusun oleh pemikirannya itu disebut falsafah.
Objek material dari suatu kajian filsafat adalah segala yang ada mencakup apa yang tampak (dunia empiris) dan apa yang tidak tampak (dunia metafisik) sementara objek formalnya adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal dan rasional tentang segala yang ada (objek material). Suatu masalah akan menjadi masalah falsafah jika masalah tersebut tidak bisa diselesaikan dengan kaidah pengamatan atau kaidah sains.
Masalah falsafah biasanya melibatkan masalah tentang konsep, ideologi, dan masalah-masalah lain yang bersifat abstrak, contohnya apakah kebenaran? Apakah ilmu pengetahuan? Berpikir filsafati biasanya bertujuan untuk mencari jawaban atas masalah yang sifatnya baik dan bisa memajukan umat manusia. Sains berarti ilmu, yaitu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu dan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan. Cakupan objek filsafat lebih luas dibandingkan ilmu. Jika ilmu terbatas hanya pada persoalan empiris, maka filsafat mencakup masalah diluar empiris.
Secara historis, ilmu berasal dari kajian filsafat karena pada awalnya filsafatlah yang melakukan pembahasan tentang segala yang ada secara sistematis, rasional dan logis. Filsafat merupakan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Perkembangan kajian terkait dengan masalah empiris menimbulkan spesi-alisasi keilmuan dan menghasilkan kegunaan praktis. Sehingga, filsafat sains me-rupakan disiplin ilmu yang digunakan sebagai kerangka dasar/landasan berpikir bagi proses keilmuan. Seorang ilmuwan yang mampu berfikir filsafati, diharapkan bisa mendalami unsur-unsur pokok dari ilmu yang ditekuninya secara menyeluruh sehingga bisa memahami sumber, hakikat dan tujuan dari ilmu yang dikembang-kannya, termasuk manfaatnya bagi pengembangan masyarakatnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas didapatkan rumusan masalahnya adalah:
1. Apa itu pengertian filsafat pendidikan?
2. Siapa saja subjek/ Obyek Filsafat Pendidikan?
3. Bagaimana ruang Lingkup Filsafat?
4. Bagaimana pentingnya filsafat bagi manusia?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan penulisan dari pada makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian filsafat pendidikan
2. Mengetahui apa saja subjek/ Obyek Filsafat Pendidikan
3. Mengetahui ruang Lingkup Filsafat?
4. Sebagai sumbangan bagi pendidikan, baik untuk pendidik maupun peserta didik
5. Sebagai pelengkap tugas akhir mata kuliah Filsafat Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat Pendidikan
Pandangan filsafat pendidikan sama dengan perananya merupakan landasan filosofis yang menjiwai seluruk kebijaksanaan pelaksanaan pendidikan. Dimana landasan filsofis merupakan landasan yang berdasarkan atas filsafat. Landasan filsafat menalaah sesuatu secara radikal, menyeluruh, dan konseptual tentang religi dan etika yang bertumpu pada penalaran. Oleh karena itu antara filsafat dengan pendidikan sangat erat kaitannya, dimana filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarkaat sedangkan pendidikan berusahan mewujudkan citra tersebut.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
Filsafat mengadakan tinjauan yang luas mengani realita, maka dikupaslan antara lain pandangan dunia dan pandangan hidup. Konsep-konsep mengenai ini dapat menjadi landasan penyusunan konsep tujuan dan metodologi pendidik. Disamping itu, pengalaman pendidik dalam menuntut pertumbuhan danperkembangan anak akan berhubungan dan berkenalan dengan realita. Semuanya itu dapat disampaikan kepada flsafat untuk dijadikan bahan-bahan pertimbangan dan tinjauan untuk memperkembangkan diri. Hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Filsafat mempuyai objek lebih luas, sifatnya universal. Sedangkan filsafat pendidikan objeknya terbatas dalam dunia filsafat pendidikan saja
2. Filsafat hendak memberikan pengetahuan/ pendiidkan atau pemahaman yang lebih mendalam dan menunjukkan sebab-sebab, tetapi yang tak begitu mendalam
3. Filsafat memberikan sintesis kepada filsafat pendidikan yang khusus, mempersatukan dan mengkoordinasikannya
4. Lapangan filsafat mungkin sama dengan lapangan filsafat pendidikan tetapi sudut pandangannya berlainan
Dalam menerapkan filsafat pendidikan, seorang guru sebagai pendidik mengharapkan dan mempunyai hak bahwa ahli-ahli filsafat pendidikan menunjukkan dirinya pada masalah pendidikan pada umumnya serta bagaimana masalah itu mengganggu persekolahan yang menyangkut masalah perumusan tujuan, kurkulum, organisasi sekolah dan sebagainya. Dan para pendidik juga mengaharapkan dari ahli filsafat pendidikan suatu klasifikasi dari uraian lebih lanjut dari konsep, argumen dirinya literatur pendidikan terutama dalam kotraversi pendidikan sistem-sistem, pengjuian kopetensi minimal dan kesamaan kesepakatan pendidikan.
Brubacher (1950) mengemukakan tentang hubungan antara filsafat dengan filsafat pendidikan, dalam hal ini pendidikan : bahwa filsafat tidak hanya melahirkan sains atau pengetahuan baru, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Filsafat merupakan kegiatan berpikir manusia yang berusaha untuk mencapai kebijakan dankearifan. Sedangkan filsafat pendidikan merupakan ilmu ayng pad ahakekantya jawab dari pertanyaa-pertanyaan yagn timbul dalam lapangan pendidkan. Oleh karen aberisfat filosofis, dengan sendirinya filsafat pendidikan ini hakekatnya adalah penerapan dari suatu analisa filosofis terhadap lapangan pendidikan.
B. Subjek/ Obyek Filsafat Pendidikan
Subjek filsfat adalah seseroang yang berfikir/ memikirkan hakekat sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Seperti halnya pengetahuan, Maka filsafatpun (sudut pandangannya) ada beberapa objek yang dikaji oleh filsafat
a). Obyek material yaitu segala sesuatu yang realitas
1. Ada yang harus ada, disebut dengan absoluth/ mutlak yaitu Tuhan Pencipta
2. Ada yang tidak harus ada, disebut dengan yang tidak mutlak, ada yang relatif (nisby), bersifat tidak kekal yaitu ada yang diciptakan oleh ada yang mutlak (Tuhan Pencipta alam semesta)
b). Obyek Formal/ Sudut pandangan
Filsafat itu dapat dikatakan bersifat non-pragmentaris, karena filsafat mencari pengertian realitas secara luas dan mendalam. Sebagai konsekuensi pemikiran ini, maka seluruh pengalaman-pengalaman manusia dalam semua instansi yaitu etika, estetika, teknik, ekonomi, sosial, budaya, religius dan lain-lain haruslah dibawa kepada filsafat dalam pengertian realita.
Menurut Prof Dr. M. J. Langeveld : “……bahwa hakikat filsafat itu berpangkal pada pemikiran keseluruhan sarwa sekalian scara radikan dan menurut sistem”.
1. Maka keseluruhan sarwa sekalian itu ada. Ia adalah pokok dari yang dipikirkan orang dalam filsafat
2. Ada pula pikiran itu sendiri yang terhadap dalam filsafat sebagai alat untuk memikirkan pokoknya
3. Pemikiran itupun adalah bahagian daripada keseluruhan, jadi dua kali ia teradapat dalam filsafat, sebagai alat dan sebagai keseluruhan sarwa sekalian
Menurut Mr. D. C Mulder menulis sebagai berikut :
“Tiap-tiap manusia yang mulai berpikir tentang diri sendiri dan tentang tempatnya dalam dunia, akan mengahdapi beberapa persoalan yang begitu penting sehingga persoalan-persoalan itu boleh diberi nama persoalan-persolan pokok”.
Louis Kattsoff mengatakan lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu apa saja yang ingin diketahui manusia.
Dr. A. C Ewing mengatakan bahwa kebenaran, materi, budi, hubungan materi dan budi, ruang dan waktu, sebab, kemerdekaan, monisme lawan fluarlisme dan tuhan adalah termasuk pertanyaan-pertanyaan pokok filsafat
C. Ruang Lingkup Filsafat
Para ahli mengatakan bahwa ruang lingkup dari ilmu filsafat yaitu :
Tentang hal mengerti, syarat-syaratnya dan metode-metodenya.
Tentang ada dan tidak ada.
Tentang alam, dunia dan seisinya.
Menentukan apa yang baik dan apa yang buruk.
Hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama makhluk lainnya.
Tuhan tidak dikecualikan.
Filsafat itu erat hubungannya dengan pengetahuan biasa, tetapi mengatasinya karena dilakukan dengan cara ilmiah dan mempertanggungjawabkan jawaban-jawaban yang diberikannya.
Filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai sifat-sifat ilmu pengetahuan tapi. Akan tetapi jelaslah bahwa filsafat tidak termasuk ruangan ilmu pengetahuan yang khusus. Filsafat boleh dikatakan suatu ilmu pengetahuan, tetapi obyeknya tidak terbatas, jadi mengatasi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya merupakan bentuk ilmu pengetahuan yang tersendiri, tingkatan pengetahuan tersendiri.
Para ahli mengatakan bahwa ruang lingkup dari ilmu filsafat yaitu :
a. Tentang hal mengerti, syarat-syaratnya dan metode-metodenya.
b. Tentang ada dan tidak ada.
c. Tentang alam, dunia dan seisinya.
d. Menentukan apa yang baik dan apa yang buruk.
e. Hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama makhluk lainnya.
f. Tuhan tidak dikecualikan.
Ruang lingkup dari filsafat yaitu :
1. Tentang pengetahuan : logika yang memuat :
a). Logika formil
Yang mempelajari asas-asas atau hukum-hukun berpikir yang harus ditaati agar kita dapat berpikit dengan benar dan mencapai kebenaran. jadi bagaimana orang harus berpikir dengan baik dan aturan-aturan untuk itu. Hukum-hukum logika berlaku dan penting bagi semua ilmu pengetahuan lainnya pula, bagi filsafat merupakan alat yang harus dikuasai lebih dahulu.
b). Logika materiil kritik (epistimologi)
Yang memandang ilmu pengetahuan (materil) dan bagaimana isi ini dapat dipertanggungjawabkan. Jadi mempelajari perihal :
1. Sumber dan asal pengetahuan
2. Alat-alat pengetahuan
3. Proses terjadinya pengetahuan
4. Kemungkinan dan batas pengetahuan
5. Kebenaran dan kekeliruan
6. Metode ilmu pengetahuan dan lain-lain.
2. Tentang “ada” : metafisika atau ontology
Hal ini mengupas tentang :
1. Apakah arti ada itu?
2. Apakah kesempurnaannya ada itu?
3. Apakah tujuannya ada itu?
4. Apakah sebab dan akibat?
5. Apakah yang merupakan dasar yang terdalam dari setiap barang yang ada itu?
3. Tentang dunia material : kosmologi
Hal ini membicarakan tentang asal mula atau sumber dan susunan atau struktur dari alam semesta.
4. Tentang manusia : filsafat tentang manusia.
Orang mengetahui tentang “ada” itu dari adanya sendiri.
5. Tentang kesusilaan : etika
Manusia itu yakin dan wajib berbuat baik dan menghindarkan yang tidak baik itu menimbulkan berbagai soal, yaitu :
1. Apakah yang disebut baik itu?
2. Apakah yang buruk itu?
3. Apakah ukuran baik atau buruk itu?
4. Apakah suara batin itu?
5. Apakah kehendak bebas?
6. Apakah artinya kepribadian itu?
6. Tentang Tuhan : Theodyca
Hal inilah yang merupakan konsekuensi terakhir dari seluruh pandangan filsafat. Renungan tentang pengetahuan kita itu membuktikan bahwa manusia itu bukan sumber sari segala-segalanya, bukan sumber daripada segala pengetahuan. Singkatnya bahwa ia bukan yang mutlak, sebab itu harus dicari sumber yang terdalam dan sebab yang terakhir, yang mengatasi manusia sendiri dan dunia.
D. Pentingnya Filsafat Bagi Manusia
Filsafat mencoba memadukan hasil-hasil dari berbagai sains yang berbeda ke dalam suatu pandangan dunia yang konsisten. Filosof cenderung untuk tidak menjadi spesialis, seperti ilmuwan. Ia menganalisis benda-benda atau masalah dengan suatu pandangan yang menyeluruh. Filsafat tertarik terahdap aspek-aspek kualitatif segala sesuatu, terutama berkaitan dengan makna dan nilai-nilainya. Filsafat menolak untuk mengabaikan setiap aspek yang otentik dari pengalaman manusia.
Kita sangat memerlukan suatu ilmu yang sifatnya memberikan pengarahan/ ilmu pengarahan. Dengan ilmu tersebut, manusia akan dibekali suatu kebijaksanaan yang di dalamnya memuat nilai-nilai kehidupan yang sangat diperlukan oleh umat manusia. Hanya ilmu filsafatlah yang dapat diharapkan mampu memberi manusia suatu integrasi dalam membantu mendekatkan manusia pada nilai-nilai kehidupan untuk mengenai mana yan gpantas kita tolak, man ayang pantas kita tujui, mana yang pantas kita ambil sehinga dapat memberikan makna kehidupan. Ada beberapa pentingnya filsafat bagi manusia yaitu :
1. Dengan belajar filsafat diharapkan akan dapatmenambah ilmu pengetahuan, karena dengan bertambahnya ilmu akan bertambah pula cakrawala pemikiran dan pangangan yang semakin luas
2. Dasar semua tindakan. Sesungguhnya filsafat di dalamnya memuat ide-ide itulah yang akan membawa mansuia ke arah suatu kemampuan utnuk merentang kesadarannya dalam segala tindakannya sehingga manusia kaan dapat lebih hidup, lebih tanggap terhadap diri dan lingkungan, lebih sadar terhadap diri dan lingkungan
3. Dengan adanya perkembangan ilmu pengethauan dan teknologi kita semakin ditentang dengan kemajuan teknologi beserta dampak negatifnya, perubahan demikian cepatnya, pergeseran tata nilai, dan akhirnya kita akan semakin jauh dari tata nilai dan moral
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Objek filsafat, objek itu dapat berwujud suatu barang atau dapat juga subjek itu sendiri contohnya si aku berfikir tentang diriku sendiri maka objeknya adalah subjek itu sendiri. Objek filsafat dapat dibedakan atas 2 hal :
1. Objek material adalah segala sesuatu atau realita, ada yang harus ada dan ada yang tidak harus ada
2. Objek formal adalah bersifat mengasaskan atau berprinsi dan oleh karena mengasas, maka filsafat itu mengkonstatis prinsip-prinsip kebenaran dan tidak kebenaran
Para ahli mengatakan bahwa ruang lingkup dari ilmu filsafat yaitu :
1. Tentang hal mengerti, syarat-syaratnya dan metode-metodenya.
2. Tentang ada dan tidak ada.
3. Tentang alam, dunia dan seisinya.
4. Menentukan apa yang baik dan apa yang buruk.
5. Hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama makhluk lainnya.
6. Tuhan tidak dikecualikan.
B. Saran
Saran yang bisa penulis berikan pada makalah ini adalah sebaiknya sebelum kita belajar filsafat pendidikan ada baiknya kita mengerti apa itu filsafat pendidikan, subjek filsafat pendidikan serta ruang lingkup filsafat itu sendiri. Agar tidak terjadi kesalahfahaman antara pendidik dan peserta didik di kemudian hari.
DAFTAR BACAAN
Bakry, Hasbullah, Sitematik Filsafat (Widjaya, Yogyakarta, 1970).
Idris, H. Sahara dan Jamal, H Lisman, Pengantar Pendidikan (Grasindo, 1992)
Sumitro, Dkk, Pengantar Ilmu Pendidikan, IKIP Yogyakarta
Murtiningsih, Siti, Pendidikan Alat Perlawanan, Resist Book, 2004
Sadullah, Uyah. Drs, Pengantar Filsafat Pendidikan (Alfabet, Yogyakarta 2004)
LAPORAN OBSEVASI DIKLAT
LAPORAN OBSERVASI
PENGELOLAAN PENDIDIKAN DAN LATIHAN
OLEH
SHERLY 01286/2008
NOVA ERNI 01297/2008
MELKI HARKONI 90877/2007
SUPARTO 90864/2007
PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmatnya kepada kita semua, sehingga penulisan Laporan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Laporan ini dibuat untuk memenuhi salah satu persyaratan dari mata kuliah Pengelolaan Pendidikan Dan Latihan
Materi dalam laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis berharap kepada pembaca agar dapat dapat memberi masukan yang berupa saran dan kritikan yang membangun demi kesempurnaan penulisan makalah berikutnya di masa yang akan datang.
Akhir kata penulis berharap, melalui naskah ini pembaca dapat mengambil manfaat dan menerapkannya dalam dunia pendidikan khususnya Pengelolaan Pendidikan Dan Latihan. Hingga pada akhirnya tujuan pendidikan dapat terwujud demi terciptanya masyarakat adil dan makmur
Padang, Juni 2010
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan dibutuhkan pendidik yang berkualitas. Pada kenyataanya saat ini, masih banyak pendidik yang tidak memberikan pembelajaran sehingga tujuan pendidikan tidak tercapai dengan maksimal. Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidik, maka pendidik diberikan pendidikan dan pelatihan (diklat).
Pendidikan dan pelatihan (diklat), yang diberikan kepada pendidik, pendidikan dan pelatihan terbagi atas dua yaitu, pendidikan dan pelatihan pra jabatan dan pendidikan dan pelatihan dalam jabatan. Maksudnya adalah diklat ini diberikan kepada pendidik yang belum menjadi PNS (honorer) dan pendidikan yang diberikan kepada pendidik yang sudah PNS.
Tujuan pendidikan dan pelatihan merupakan pedoman untuk mencapai apa yang diharapkan, perubahan yang akan terjadi dari peserta diklat seperti yang dikehendaki organisasi atau oaring tersebut.sepertinya halnya diklat keagamaan di Jl. Batang kapur Padang, lembaga ini mengadakan diklat pra jabatan dan diklat dalam jabatan. Tjuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas secara professional dengan dilandasi kepribadian dan etika Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan kebutuhan instansinya/
B. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan dari pada laporan observasi ini adalah
1. Untuk mengetahui perencanaan pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan di lembaga diklat keagamaan di jalan Jl. Batang kapur, Padang.
2. Untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan di lembaga diklat keagamaan di jalan Jl. Batang kapur, Padang
BAB II
ORIENTASI LEMBAGA
A. NAMA LEMBAGA
Nama lembaga yang kami observasi adalah Balai Diklat Keagamaan Padang Sumatera Barat.
B. LANDASAN HUKUM
Landasan hukum daripada diklat keagamaan ini adalah
1) Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan Dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri.
2) Keputusan Menteri Agama No. 1 Tahun 2003 tentang Pedoman Pendidikan dan Pelatihan Pegawai di Lingkungan Dep. Agama.
3) Peraturan Menteri Agama No. 3 Tahun 2006 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dep. Agama.
C. LOKASI
Lokasi Balai Diklat Keagamaan Padang Sumatera Barat adalah di Jalan Batang Kapur No 7 Padang Baru Utara Padang Sumatera Barat.
D. SASARAN
Sasaran Diklat Keagamaan Padang ini adalah:
1. Pegawai Negeri Sipil
2. Calon pegawai negeri sipil.
E. SARANA DAN PRASARANA
1. Akomodasi (asrama)
• Peserta : diasramakan
• Kamar tidur : memadai
2. Ruang belajar (kelas)
• Luas
• Tata meja belajar : model huruf U
• Alat bantu latihan dalam ruang kelas
1) Papan tulis : 2 buah
2) OHP : 1 buah
3) Flip chart : 2 buah
4) Tape recorder : 1 buah
5) Sound system : 1 buah
6) Wireless : 1 buah
3. Ruang makan
Luas ruang makan : 120 M2
4. Ruang diskusi
Ruang diskusi : ada
Luas ruang diskusi :120 M2
5. Sarana olah raga : ada
F. KEGIATAN ATAU PROGRAM
Kegiatan atau Program Diklat Tenaga Administrasi di Balai Diklat Keagamaan Padang tahun 2010adalah sebagai berikut:
No Jenis Diklat Akt Jumlah Tanggal Pelaksanaan
Pst Hari Jam
1 Diklat Administrasi keuangan Tk MA 30 10 90 10 s.d 19 Jan 2010
2 Diklat Administrasi keuangan Tk MTs 30 10 90 sda
3 Diklat Tata Usaha Tk. MA 30 10 90 sda
4 Diklat Tata Persuratan bagi Staf KUA I 30 10 90 sda
5 Diklat Administrasi keuangan Tk MA 30 10 90 20 s.d 29 Jan 2010
6 Diklat Administrasi keuangan Tk MTs 30 10 90 sda
7 Diklat Tata Usaha Tk. MA 30 10 90 sda
8 Diklat Tata Persuratan bagi Staf KUA II 30 10 90 sda
9 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 1 40 24 216 23 Feb s.d 18 Mar 2010
10 sda 2 40 24 216 sda
11 sda 3 40 24 216 sda
12 sda 4 40 24 216 24 Feb s.d 19 Mar 2010
13 sda 5 40 24 216 sda
14 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 6 40 24 216 19 Mar s.d 11 April 2010
15 sda 7 40 24 216 sda
16 sda 8 40 24 216 sda
17 sda 9 40 24 216 20 Mar s.d 12 April 2010
18 sda 10 40 24 216 sda
19 Diklat Prajabatan Gol II Tenaga Honorer 1 40 19 174 12 April s.d 30 April 2010
20 sda 2 40 19 174 sda
21 sda 3 40 19 174 sda
22 sda 4 40 19 174 13 April s.d 01 Mei 2010
23 sda 5 40 19 174 sda
24 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 11 40 24 216 01 Mei s.d 24 Mei 2010
25 sda 12 40 24 216 sda
26 sda 13 40 24 216 sda
27 sda 14 40 24 216 02 Mei s.d 25 Mei 2010
28 sda 15 40 24 216 sda
29 Diklat Prajabatan Gol II Tenaga Honorer 6 40 19 174 25 Mei s.d 12 Juni 2010
30 sda 7 40 19 174 sda
31 sda 8 40 19 174 sda
32 sda 9 40 19 174 26 Mei s.d 13 Juni 2010
33 sda 10 40 19 174 sda
34 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 16 40 24 216 13 Juni s.d 06 Juli 2010
35 sda 17 40 24 216 sda
36 sda 18 40 24 216 sda
37 Diklat Prajabatan Gol II Tenaga Honorer 19 40 19 174 14 Juni s.d 02 Juli 2010
38 sda 20 40 19 174 sda
39 Diklat PIM XIII 30 37 285 03 Juli s.d 08 Agust 2010
40 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 19 40 24 216 07 Juli s.d 04 Agust 2010
41 Diklat Teknis 30 10 90 07 Juli s.d 16 Juli 2010
42 Diklat Teknis 30 10 90 18 Juli s.d 27 Juli 2010
43 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 20 40 24 216 12 Agust s.d 04 Sept 2010
44 sda 21 40 24 216 Sda
45 sda 22 40 24 216 Sda
46 sda 23 40 24 216 13 Agust s.d 05 Sept 2010
47 sda 24 40 24 216 sda
48 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 25 40 24 216 17 Sept s.d 10 Okt 2010
49 sda 26 40 24 216 sda
50 sda 27 40 24 216 sda
51 Diklat PIM IV XIV 30 37 285 03 Okt s.d 07 Nov 2010
52 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 28 40 24 216 11 Okt s.d 03 Nov 2010
53 sda 29 40 24 216 sda
54 sda 30 40 24 216 sda
55 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 31 40 24 216 04 Nov s.d 27 Nov 2010
56 sda 32 40 24 216 sda
57 sda 33 40 24 216 sda
58 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 34 40 24 216 08 Nov s.d 01 Des 2010
59 sda 35 40 24 216 sda
60 Diklat Prajabatan Gol II Reguler 1 40 10 90 03 Des s.d 12 Des 2010
61 sda 2 40 10 90 sda
G. PERMASALAHAN DAN PENANGGULANGANNYA
• Masalah yang dihadapi adalah ada sebagian dari sarana yang kurang memadai seperti, ruangan belajar yang sempit.
• Penanggulangannya dapat di atasi dengan cara merenofasi kembali( memperbaiki) ruangan yang kurang luas tersebut.
H. ANALISIS
Dari berbagai pelatihan yang dijalankan oleh lembaga keagamaan ini maka mulai dari awal perencanaan, pelaksanaan, sampai pada tahap akhir berjalan dengan baik dan sehingga mencetak peserta diklat yang berkualitas.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pendidikan dan pelatihan (diklat), yang diberikan kepada pendidik, pendidikan dan pelatihan terbagi atas dua yaitu, pendidikan dan pelatihan pra jabatan dan pendidikan dan pelatihan dalam jabatan. Maksudnya adalah diklat ini diberikan kepada pendidik yang belum menjadi PNS (honorer) dan pendidikan yang diberikan kepada pendidik yang sudah PNS.
Tujuan pendidikan dan pelatihan merupakan pedoman untuk mencapai apa yang diharapkan, perubahan yang akan terjadi dari peserta diklat seperti yang dikehendaki organisasi .
B. SARAN
Dari kegiatan diklat yang di lakukan oleh lembaga Diklat Keagamaan dapat di simpulkan bahwa kegiatan diklat harus di lakukan secara terstruktur dan sistematis agar tercapai tujuan yang di maksudkan pada awal pelaksanaan diklat.
PENGELOLAAN PENDIDIKAN DAN LATIHAN
OLEH
SHERLY 01286/2008
NOVA ERNI 01297/2008
MELKI HARKONI 90877/2007
SUPARTO 90864/2007
PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmatnya kepada kita semua, sehingga penulisan Laporan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Laporan ini dibuat untuk memenuhi salah satu persyaratan dari mata kuliah Pengelolaan Pendidikan Dan Latihan
Materi dalam laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis berharap kepada pembaca agar dapat dapat memberi masukan yang berupa saran dan kritikan yang membangun demi kesempurnaan penulisan makalah berikutnya di masa yang akan datang.
Akhir kata penulis berharap, melalui naskah ini pembaca dapat mengambil manfaat dan menerapkannya dalam dunia pendidikan khususnya Pengelolaan Pendidikan Dan Latihan. Hingga pada akhirnya tujuan pendidikan dapat terwujud demi terciptanya masyarakat adil dan makmur
Padang, Juni 2010
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan dibutuhkan pendidik yang berkualitas. Pada kenyataanya saat ini, masih banyak pendidik yang tidak memberikan pembelajaran sehingga tujuan pendidikan tidak tercapai dengan maksimal. Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidik, maka pendidik diberikan pendidikan dan pelatihan (diklat).
Pendidikan dan pelatihan (diklat), yang diberikan kepada pendidik, pendidikan dan pelatihan terbagi atas dua yaitu, pendidikan dan pelatihan pra jabatan dan pendidikan dan pelatihan dalam jabatan. Maksudnya adalah diklat ini diberikan kepada pendidik yang belum menjadi PNS (honorer) dan pendidikan yang diberikan kepada pendidik yang sudah PNS.
Tujuan pendidikan dan pelatihan merupakan pedoman untuk mencapai apa yang diharapkan, perubahan yang akan terjadi dari peserta diklat seperti yang dikehendaki organisasi atau oaring tersebut.sepertinya halnya diklat keagamaan di Jl. Batang kapur Padang, lembaga ini mengadakan diklat pra jabatan dan diklat dalam jabatan. Tjuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas secara professional dengan dilandasi kepribadian dan etika Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan kebutuhan instansinya/
B. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan dari pada laporan observasi ini adalah
1. Untuk mengetahui perencanaan pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan di lembaga diklat keagamaan di jalan Jl. Batang kapur, Padang.
2. Untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan di lembaga diklat keagamaan di jalan Jl. Batang kapur, Padang
BAB II
ORIENTASI LEMBAGA
A. NAMA LEMBAGA
Nama lembaga yang kami observasi adalah Balai Diklat Keagamaan Padang Sumatera Barat.
B. LANDASAN HUKUM
Landasan hukum daripada diklat keagamaan ini adalah
1) Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan Dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri.
2) Keputusan Menteri Agama No. 1 Tahun 2003 tentang Pedoman Pendidikan dan Pelatihan Pegawai di Lingkungan Dep. Agama.
3) Peraturan Menteri Agama No. 3 Tahun 2006 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dep. Agama.
C. LOKASI
Lokasi Balai Diklat Keagamaan Padang Sumatera Barat adalah di Jalan Batang Kapur No 7 Padang Baru Utara Padang Sumatera Barat.
D. SASARAN
Sasaran Diklat Keagamaan Padang ini adalah:
1. Pegawai Negeri Sipil
2. Calon pegawai negeri sipil.
E. SARANA DAN PRASARANA
1. Akomodasi (asrama)
• Peserta : diasramakan
• Kamar tidur : memadai
2. Ruang belajar (kelas)
• Luas
• Tata meja belajar : model huruf U
• Alat bantu latihan dalam ruang kelas
1) Papan tulis : 2 buah
2) OHP : 1 buah
3) Flip chart : 2 buah
4) Tape recorder : 1 buah
5) Sound system : 1 buah
6) Wireless : 1 buah
3. Ruang makan
Luas ruang makan : 120 M2
4. Ruang diskusi
Ruang diskusi : ada
Luas ruang diskusi :120 M2
5. Sarana olah raga : ada
F. KEGIATAN ATAU PROGRAM
Kegiatan atau Program Diklat Tenaga Administrasi di Balai Diklat Keagamaan Padang tahun 2010adalah sebagai berikut:
No Jenis Diklat Akt Jumlah Tanggal Pelaksanaan
Pst Hari Jam
1 Diklat Administrasi keuangan Tk MA 30 10 90 10 s.d 19 Jan 2010
2 Diklat Administrasi keuangan Tk MTs 30 10 90 sda
3 Diklat Tata Usaha Tk. MA 30 10 90 sda
4 Diklat Tata Persuratan bagi Staf KUA I 30 10 90 sda
5 Diklat Administrasi keuangan Tk MA 30 10 90 20 s.d 29 Jan 2010
6 Diklat Administrasi keuangan Tk MTs 30 10 90 sda
7 Diklat Tata Usaha Tk. MA 30 10 90 sda
8 Diklat Tata Persuratan bagi Staf KUA II 30 10 90 sda
9 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 1 40 24 216 23 Feb s.d 18 Mar 2010
10 sda 2 40 24 216 sda
11 sda 3 40 24 216 sda
12 sda 4 40 24 216 24 Feb s.d 19 Mar 2010
13 sda 5 40 24 216 sda
14 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 6 40 24 216 19 Mar s.d 11 April 2010
15 sda 7 40 24 216 sda
16 sda 8 40 24 216 sda
17 sda 9 40 24 216 20 Mar s.d 12 April 2010
18 sda 10 40 24 216 sda
19 Diklat Prajabatan Gol II Tenaga Honorer 1 40 19 174 12 April s.d 30 April 2010
20 sda 2 40 19 174 sda
21 sda 3 40 19 174 sda
22 sda 4 40 19 174 13 April s.d 01 Mei 2010
23 sda 5 40 19 174 sda
24 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 11 40 24 216 01 Mei s.d 24 Mei 2010
25 sda 12 40 24 216 sda
26 sda 13 40 24 216 sda
27 sda 14 40 24 216 02 Mei s.d 25 Mei 2010
28 sda 15 40 24 216 sda
29 Diklat Prajabatan Gol II Tenaga Honorer 6 40 19 174 25 Mei s.d 12 Juni 2010
30 sda 7 40 19 174 sda
31 sda 8 40 19 174 sda
32 sda 9 40 19 174 26 Mei s.d 13 Juni 2010
33 sda 10 40 19 174 sda
34 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 16 40 24 216 13 Juni s.d 06 Juli 2010
35 sda 17 40 24 216 sda
36 sda 18 40 24 216 sda
37 Diklat Prajabatan Gol II Tenaga Honorer 19 40 19 174 14 Juni s.d 02 Juli 2010
38 sda 20 40 19 174 sda
39 Diklat PIM XIII 30 37 285 03 Juli s.d 08 Agust 2010
40 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 19 40 24 216 07 Juli s.d 04 Agust 2010
41 Diklat Teknis 30 10 90 07 Juli s.d 16 Juli 2010
42 Diklat Teknis 30 10 90 18 Juli s.d 27 Juli 2010
43 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 20 40 24 216 12 Agust s.d 04 Sept 2010
44 sda 21 40 24 216 Sda
45 sda 22 40 24 216 Sda
46 sda 23 40 24 216 13 Agust s.d 05 Sept 2010
47 sda 24 40 24 216 sda
48 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 25 40 24 216 17 Sept s.d 10 Okt 2010
49 sda 26 40 24 216 sda
50 sda 27 40 24 216 sda
51 Diklat PIM IV XIV 30 37 285 03 Okt s.d 07 Nov 2010
52 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 28 40 24 216 11 Okt s.d 03 Nov 2010
53 sda 29 40 24 216 sda
54 sda 30 40 24 216 sda
55 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 31 40 24 216 04 Nov s.d 27 Nov 2010
56 sda 32 40 24 216 sda
57 sda 33 40 24 216 sda
58 Diklat Prajabatan Gol III Tenaga Honorer 34 40 24 216 08 Nov s.d 01 Des 2010
59 sda 35 40 24 216 sda
60 Diklat Prajabatan Gol II Reguler 1 40 10 90 03 Des s.d 12 Des 2010
61 sda 2 40 10 90 sda
G. PERMASALAHAN DAN PENANGGULANGANNYA
• Masalah yang dihadapi adalah ada sebagian dari sarana yang kurang memadai seperti, ruangan belajar yang sempit.
• Penanggulangannya dapat di atasi dengan cara merenofasi kembali( memperbaiki) ruangan yang kurang luas tersebut.
H. ANALISIS
Dari berbagai pelatihan yang dijalankan oleh lembaga keagamaan ini maka mulai dari awal perencanaan, pelaksanaan, sampai pada tahap akhir berjalan dengan baik dan sehingga mencetak peserta diklat yang berkualitas.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pendidikan dan pelatihan (diklat), yang diberikan kepada pendidik, pendidikan dan pelatihan terbagi atas dua yaitu, pendidikan dan pelatihan pra jabatan dan pendidikan dan pelatihan dalam jabatan. Maksudnya adalah diklat ini diberikan kepada pendidik yang belum menjadi PNS (honorer) dan pendidikan yang diberikan kepada pendidik yang sudah PNS.
Tujuan pendidikan dan pelatihan merupakan pedoman untuk mencapai apa yang diharapkan, perubahan yang akan terjadi dari peserta diklat seperti yang dikehendaki organisasi .
B. SARAN
Dari kegiatan diklat yang di lakukan oleh lembaga Diklat Keagamaan dapat di simpulkan bahwa kegiatan diklat harus di lakukan secara terstruktur dan sistematis agar tercapai tujuan yang di maksudkan pada awal pelaksanaan diklat.
MAKALAH DIKLAT
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG MASALAH
Era Globalisasi, yang ditandai antara lain dengan adanya percepatan arus informasi menuntut adanya sumber daya manusia yang mampu menganalisa informasi dan mengambil keputusan dengan cepat dan akurat. Kemampuan tersebut dapat diperoleh dari sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, serta sikap yang sesuai dengan tuntutan tugasnya. Sumber daya manusia dengan karakteristik tersebut akan memberi dukungan yang optimal terhadap keberhasilan sebuah organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Tuntutan masyarakat terhadap penyelenggara kepemerintahan yang baik (good governance), telah menjadi fenomena tersendiri yang harus dipenuhi oleh organisasi pemerintah. UNDP menentukan bahwa karakteristik atau prinsip-prinsip yang harus dianut dan dikembangkan dalam praktik penyelenggara kepemerintahan yang baik meliputi partisipasi (participation), aturan hukum (rule of law), transparansi (transparency), daya tanggap (responsiveness), memiliki orientasi pada concensus (concensus orientation), berkeadilan (equity), efektifitas dan efisiensi (effectiveness and efficiency), akuntabilitas (accountability), bervisi strategi (stategy vision), serta adanya saling keterkaitan (interrelated). Tuntutan masyarakat tersebut hanya dapat diwujudkan dangan adanya dukungan dari sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi.
Sejalan dengan pernyataan di atas, Dinas Pendidikan mempunyai tugas dan fungsi dalam melaksanakan sebagian tugas pokok pemerintahan dan pembangunan dalam bidang pendidikan. Untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsi tersebut, maka Dinas Pendidikan harus memiliki tenaga ahli di bidang administrasi, keuangan, perencanaan program, tata kearsipan dan lain-lain. Fungsi penyuluhan pendidikan, pelayanan pendidikan dan bantuan pendidikan menuntut tersedianya tenaga-tenaga penyuluh pendidikan yang handal, pegawai yang mengerti tentang pembangunan pendidikan serta pegawai yang memiliki keahlian penyusunan program-program pembangunan pendidikan, hak kekayaan intelektual dan lain-lain. Fungsi pelayanan kemasyarakatan hanya dapat dilaksanakan dengan optimal apabila pada Dinas Pendidikan tersedia pegawai yang ahli dalam perawatan, pembinaan dan pembimbingan tenaga pendidikan dan ahli dalam mengelola program-program pendidikan.
Sebagai sebuah organisasi yang mempunyai tugas memberikan pelayanan terhadap masyarakat, dinas pendidikan haruslah mampu mengelola sumber daya manusia agar dapat memberikan hasil terbaik dalam hal memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat. Akan tetapi kondisi Pegawai Dinas Pendidikan pada saat ini ternyata masih memiliki kekurangan dan kelemahan, antara lain:
1. Kuantitas dan kualitas pegawai belum memadai apabila dilihat dari tugas pokok dan fungsi yang menjadi tanggung jawab pegawai;
2. Masih belum meratanya tingkat kualitas pegawai;
3. Masih minimnya tenaga ahli, seperti, penyuluh pendidikan, pemahaman tentang Hak Kekayaan Intelektual dan lain-lain.
Dengan kondisi sumber daya manusia seperti disebutkan di atas, secara tidak langsung akan dapat berpengaruh terhadap kinerja dinas pendidikan. Oleh karenanya perlu ada upaya agar Pegawai Dinas Pendidikan Kota Padang dapat dan mampu berfikir kreatif dengan keterbatasan yang ada, menemukan hal-hal yang baru (inovatif), tidak hanya menunggu pekerjaan (proaktif), bekerja sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang ditetapkan (sistematik), berdaya guna dan berhasil guna (efektif dan efisien) serta dapat bekerja dengan cepat, tepat, ekonomis dan hasil yang maksimal sepeti dikemukakan oleh Kasim (1998:54): “harus senantiasa melakukan penyeusaian dan harus ada inovasi sesuai kecenderungan perubahan sifat dan hakekat pekerjaan”.
Para pakar pengembang sumber daya manusia dapat berpendapat bahwa manusia dalam organisasi merupakan harta (asset) yang utama sehingga diperlukan pembinaan dan pengembangan untuk menggali potensi yang dimilikinya. Kemampuan organisasi dalam mendayagunakan kompetensi sumber daya manusia yang dimilikinya akan sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan organisasi. Soeling (2003:19) mengutip pendapat Chummings dan Schwab yang menyatakan kompetensi merupakan isu sentral berkenaan dengan aptitudes dan abilities orang dalam pekerjaan. Aptitude adalah kapabilitas seseorang untuk belajar sesuatu, sedangkan abilities mencerminkan kapasitas yang sudah dimiliki seseorang untuk melakukan berbagai tugas yang dibutuhkan pekerjaan tertentu serta mencakup keahlian dan pengetahuan yang relevan.
Peningkatan kompetensi pegawai pada sebuah organisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu diantaranya adalah melalui partisipasi dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan. Pendidikan pegawai adalah sebuah proses pengembangan sumber daya manusia yang bertujuan untuk memperbaiki kinerja. Dalam pendidikan diberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap, sedangkan dalam kegiatan pelatihan bertujuan untuk memperoleh keterampilan agar seorangpegawai mampu meningkatkan kinerjanya dalam organisasi.
2. RUMUSAN MASALAH
Dengan melihat kondisi sumber daya manusia yang telah dipaparkan di atas dan sejalan dengan tuntutan untuk mengadakan perbaikan serta perubahan yang berlangsung cepat, dibutuhkan pegawai yang berpengetahuan, berpendidikan tinggi, mampu menyesuaikan diri (adaptasi) dengan perubahan dan bidang pekerjaan yang makin kompleks dan berkembang seiring dinamika yang ada, untuk itu penulis mengemukakan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Apakah ada hubungan antara pendidikan terhadap kompetensi Pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat?
2. Apakah ada hubungan antara pelatihan terhadap kompetensi Pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat?
3. Apakah ada hubungan antara pendidikan dan pelatihan terhadap kompetensi Pegawai pada Dinas Pendidikan Barat dalam pelaksanaan terhadap masyarakat?
3. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dilakukannya penulisan ini adalah:
1. Mengetahui apakah ada hubungan antara pendidikan dengan kompetensi pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat.
2. Mengetahui apakah ada hubungan antara pelatihan dengan kompetensi pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat.
3. Mengetahui apakah ada hubungan antara pendidikan dan pelatihan dengan kompetensi pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat.
4. MANFAAT PENULISAN
Manfaat dilakukannya penulisan ini adalah:
1. Secara akademis sebagai bahan masukan yang didapat dari kajian literatur ilmiah bagi instansi terkait tentang pentingnya peningkatan kompetensi Pegawai Dinas Pendidikan melalui pendidikan dan pelatihan.
2. Sebagai bahan masukan yang dapat dimanfaatkan oleh penulis selanjutnya untuk dikembangkan dalam penulisan makalah.
3. Menambah wawasan penulis dalam mengembangkan sumber daya manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
1. TEORI-TEORI YANG DIGUNAKAN
Dalam mengembangkan kemampuan, kecekatan dan keahlian para pegawai dinas, diperlukan pemberian pendidikan dan pelatihan / diklat yang disuaikan dengan bidang kerjanya. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa cara atau metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan pegawai dinas :
1. Magang / Apprenticeship Training
Magang adalah suatu pembekalan pegawai baru dengan cara belajar langsung dengan senior dan diawasi oleh para pakar atau ahlinya. Untuk mendapatkan skill yang sama dengan masternya dibutuhkan waktu yang relatif cukup lama.
2. Learning By Doing / On The Job Training / Bekerja Sambil Belajar
On the job training adalah suatu bentuk pembekalan yang dapat mempercepat proses pemindahan pengetahuan dan pengalaman kerja / transfer knowledge dan para karyawan senior ke junior. Pelatihan ini langsung menerjunkan pegawai dinas bekerja sesuai dengan job description / jobdesc masing-masing di bawah supervisi / pengawasan penyelia atau pegawai senior.
3. Vestibule Training
Vestibule training adalah memberikan pelatihan semacam kursus yang dijalankan di luar lingkungan kerja. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan pada kursus tersebut tidak jauh berbeda dengan pekerjaan yang nantinya akan digeluti oleh para peserta.
2. PRINSIP-PRINSIP
Dalam arah reformasi birokrasi PNS dalam mewujudkan Good Governance perlu dimulai dari CPNS sebelum menjadi pegawai negeri penuh 100 %. Negara memang mengharapkan potensi PNS yang diinginkan dalam Good Governance dalam prinsip dan karakteristiknya. Posisi Diklat disini sangat strategis untuk menciptakan PNS yang diharapkan oleh negara sedangkan saat ini banyak rintangan menjadikan PNS tersebut sebagai seorang yang profesional seperti masalah budaya lama birokrasi yang merupakan peninggalan masa lalu.
Proses untuk membangun PNS yang berprofesional memang sedang berlangsung saat ini, terutama pada lembaga-lembaga seperti Badan Diklat selalu menyusun program pembelajaran dengan materi-materi baru yang merupakan pengetahuan dan wawasan
Selain dilembaga diklat, maka dilembaga struktural seperti Dinas/instansi juga harus menyikapi hal yang sama dalam pembinaan kepegawaian dalam kedinasan dilapangan. Masalahnya bila terjadi dilingkungan kerja, kegiatan PNS yang tidak menjurus kepada hal-hal yang bertentangan dengan upaya mewujudkan Good Governance yang merupakan budaya kerja lama yang harus dirobah/direformasi, terutama oleh CPNS yang akan menjadi PNS melalui pendidikan dan pelatihan prajabatan seperti sekarang ini.
Prinsip-prinsip Good Governance yang perlu diikuti oleh setiap PNS adalah antara lain; partisipasi, supremasi hukum, transparansi, tepat tanggap (responsible), konsensus, kesederajatan (equity), efektif dan efisien, akuntabiliti dan visi kedepan.
Kompetensi diklat secara umum mencakup 3 (tiga) ranah dasar, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap dan prilaku) dan Psikomotorik (keterampilan). Salah satu kompetensi diklat terletak pada kata kunci menerapkan, atau aplikasi yang mengindikasikan tingkat pengetahuan, alternatif strategi ke dalam tugas dan pekerjaan. Oleh karena itu proses belajar dalam agenda kegiatan diklat tidak hanya berupa penyajian informasi tetapi selalu dipadukan dengan kegiatan diskusi, penulisan kertas kerja, studi kasus dan pengenalan kondisi internal maupun eksternal lingkungan kerja serta kesadaran untuk melakukan perubahan sikap. Khusus mengenai strategi pembelajaran, tetap menganut prinsip-prinsip bahwa Diklat dirancang untuk tujuan tertentu, dapat diukur, dapat dicapai, sesuai kebutuhan dan sesuai dengan alokasi waktu dan dana yang tersedia.
3. LANGKAH LANGKAH PEMECAHAN MASALAH
Dalam mewujudkan pegawai yang profesional dibutuhkan banyak unsur yang memungkinkan seperti; lingkungan kerja, organisasi kerja (team work), lembaga diklat dengan perencanaan dan kurikulum suatu kompetensi widyaiswara. Keberadaan widyaiswara memang diperlukan pembentukan aparatur PNS yang profesional sesuai dengan tuntutan negara. Kepada widyisawara memang dituntut kualitas penyelenggaraan dikat sesuai dengan kompetensi Widyaiswara karena sekarang jabatan fungsional widyaiswara sudah semakin baik dalam jabatan fungsional lainnya. Widyaiswara sebagai unsur pendidik, pelatih dan pengajar aparatur juga dituntut sebagai fasilitator, imanisator, motivator, peneliti, konsultan, manager kelas yang profesional.
Untuk memperoleh profesional tersebut widyaiswara juga harus mampu belajar dan bekerja keras dalam berbidang-bidang keilmuan dan pengetahuan serta mengikuti pendidikan dan pelatihan secara khusus (TOT/Training of Trainer) sesuai dengan pembentukan pola teknis PNS yang diharapkan oleh negara.
Adapun langkah-langkah yang di ambil untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan pelatihan seperti berikut:
A. Bidang Diklat Struktural
1) Diklat Kepemimpinan
Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan para pejabat struktural, target group yaitu pejabat atau calon pejabat struktural berdasarkan strata manajemen yang dipangkunya.
Diklat kepemimpinan meliputi :
• Diklat Kepemimpinan Tingkat IV;
• Diklat Kepemimpinan Tingkat III;
• Diklat Kepemimpinan Tingkat II;
• Diklat Kepemimpinan Tingkat I.
2) Diklat Prajabatan :
Bertujuan untuk mengisi kompetensi dasar dalam rangka pembentukan wawasan, sikap dan kepribadian CPNS, serta merupakan salah satu syarat bagi CPNS untuk diangkat menjadi PNS.
Grade untuk diklat Prajabatan ini adalah :
• Diklat Prajabatan Golongan I;
• Diklat Prajabatan Golongan II;
• Diklat Prajabatan Golongan III.
B. Bidang Diklat Fungsional
Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan para pejabat fungsional dalam melaksanakan tugasnya secara professional dan dapat menjadi persyaratan bagi Pegawai Negeri Sipil yang akan dan telah menduduki Jabatan fungsional.
C. Bidang Diklat Teknis
Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan teknis penyelenggaraan kegiatan dalam mengelola urusan-urusan pemerintahan yang bersifat teknis, baik teknis administratif maupun teknis substantif. Diklat Teknis dikembangkan berdasarkan kebutuhan masing-masing Daerah Otonom.
D. Bidang Diklat Manajemen Pemerintahan
Kegiatan Diklat Manajemen Pemerintahan dimaksudkan untuk pembentukan kemampuan mengelola kegiatan dan urusan pemeritahan bagi para Pejabat Eksekutif, Pejabat Negara dan Unsur Legislatif. Termasuk dalam rumpun ini adalah pembentukan kader pemerintahan melalui IPDN/IIP serta kerjasama dengan Perguruan Tinggi Negeri dalam hal tugas belajar dan ijin belajar.
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Dengan kondisi sumber daya manusia seperti saat ini, secara tidak langsung akan dapat berpengaruh terhadap kinerja dinas pendidikan. Oleh karenanya perlu ada upaya agar Pegawai Dinas Pendidikan Kota Padang dapat dan mampu berfikir kreatif dengan keterbatasan yang ada, menemukan hal-hal yang baru (inovatif), tidak hanya menunggu pekerjaan (proaktif), bekerja sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang ditetapkan (sistematik), berdaya guna dan berhasil guna (efektif dan efisien) serta dapat bekerja dengan cepat, tepat, ekonomis dan hasil yang maksimal sepeti dikemukakan oleh Kasim (1998:54): “harus senantiasa melakukan penyeusaian dan harus ada inovasi sesuai kecenderungan perubahan sifat dan hakekat pekerjaan”.
2. SARAN
Dengan di adakan pendidikan dan latihan pada pegawai dinas yang baru di harapkan dapat meningkatkan kompetensi kerja para pegawai sehingga pegawai dapat berkerja sebagaimana mestinya dan dapat embawa perubahan yang baik bagi segenap masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Atmodiwiro. Soebagio. 2002. Manajemen Pelatihan. Ardadizya jaya. Jakarta.
Notoatmodjo. Soekidjo. 2003. Pengembangan Sumber Daya Manusia. PT. Rineka Cipta .Jakarta.
http://docstoc.asterpix.com/cy/2422251/?q=Prinsip-Prinsip+Diklat (diakses tanggal 11 juni 2010)
http://www.google.com.pendidikan dan pelatihan pegawai dinas.html.org ( diakses tanggal 15 juni 2010)
http://www.google.com.Strategi_Pendidikan_dan_pelatihan_Nasional_berorientasi_Masa_Depan.wiki.org. ( diakses tanggal 15 juni 2010)
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG MASALAH
Era Globalisasi, yang ditandai antara lain dengan adanya percepatan arus informasi menuntut adanya sumber daya manusia yang mampu menganalisa informasi dan mengambil keputusan dengan cepat dan akurat. Kemampuan tersebut dapat diperoleh dari sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, serta sikap yang sesuai dengan tuntutan tugasnya. Sumber daya manusia dengan karakteristik tersebut akan memberi dukungan yang optimal terhadap keberhasilan sebuah organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Tuntutan masyarakat terhadap penyelenggara kepemerintahan yang baik (good governance), telah menjadi fenomena tersendiri yang harus dipenuhi oleh organisasi pemerintah. UNDP menentukan bahwa karakteristik atau prinsip-prinsip yang harus dianut dan dikembangkan dalam praktik penyelenggara kepemerintahan yang baik meliputi partisipasi (participation), aturan hukum (rule of law), transparansi (transparency), daya tanggap (responsiveness), memiliki orientasi pada concensus (concensus orientation), berkeadilan (equity), efektifitas dan efisiensi (effectiveness and efficiency), akuntabilitas (accountability), bervisi strategi (stategy vision), serta adanya saling keterkaitan (interrelated). Tuntutan masyarakat tersebut hanya dapat diwujudkan dangan adanya dukungan dari sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi.
Sejalan dengan pernyataan di atas, Dinas Pendidikan mempunyai tugas dan fungsi dalam melaksanakan sebagian tugas pokok pemerintahan dan pembangunan dalam bidang pendidikan. Untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsi tersebut, maka Dinas Pendidikan harus memiliki tenaga ahli di bidang administrasi, keuangan, perencanaan program, tata kearsipan dan lain-lain. Fungsi penyuluhan pendidikan, pelayanan pendidikan dan bantuan pendidikan menuntut tersedianya tenaga-tenaga penyuluh pendidikan yang handal, pegawai yang mengerti tentang pembangunan pendidikan serta pegawai yang memiliki keahlian penyusunan program-program pembangunan pendidikan, hak kekayaan intelektual dan lain-lain. Fungsi pelayanan kemasyarakatan hanya dapat dilaksanakan dengan optimal apabila pada Dinas Pendidikan tersedia pegawai yang ahli dalam perawatan, pembinaan dan pembimbingan tenaga pendidikan dan ahli dalam mengelola program-program pendidikan.
Sebagai sebuah organisasi yang mempunyai tugas memberikan pelayanan terhadap masyarakat, dinas pendidikan haruslah mampu mengelola sumber daya manusia agar dapat memberikan hasil terbaik dalam hal memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat. Akan tetapi kondisi Pegawai Dinas Pendidikan pada saat ini ternyata masih memiliki kekurangan dan kelemahan, antara lain:
1. Kuantitas dan kualitas pegawai belum memadai apabila dilihat dari tugas pokok dan fungsi yang menjadi tanggung jawab pegawai;
2. Masih belum meratanya tingkat kualitas pegawai;
3. Masih minimnya tenaga ahli, seperti, penyuluh pendidikan, pemahaman tentang Hak Kekayaan Intelektual dan lain-lain.
Dengan kondisi sumber daya manusia seperti disebutkan di atas, secara tidak langsung akan dapat berpengaruh terhadap kinerja dinas pendidikan. Oleh karenanya perlu ada upaya agar Pegawai Dinas Pendidikan Kota Padang dapat dan mampu berfikir kreatif dengan keterbatasan yang ada, menemukan hal-hal yang baru (inovatif), tidak hanya menunggu pekerjaan (proaktif), bekerja sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang ditetapkan (sistematik), berdaya guna dan berhasil guna (efektif dan efisien) serta dapat bekerja dengan cepat, tepat, ekonomis dan hasil yang maksimal sepeti dikemukakan oleh Kasim (1998:54): “harus senantiasa melakukan penyeusaian dan harus ada inovasi sesuai kecenderungan perubahan sifat dan hakekat pekerjaan”.
Para pakar pengembang sumber daya manusia dapat berpendapat bahwa manusia dalam organisasi merupakan harta (asset) yang utama sehingga diperlukan pembinaan dan pengembangan untuk menggali potensi yang dimilikinya. Kemampuan organisasi dalam mendayagunakan kompetensi sumber daya manusia yang dimilikinya akan sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan organisasi. Soeling (2003:19) mengutip pendapat Chummings dan Schwab yang menyatakan kompetensi merupakan isu sentral berkenaan dengan aptitudes dan abilities orang dalam pekerjaan. Aptitude adalah kapabilitas seseorang untuk belajar sesuatu, sedangkan abilities mencerminkan kapasitas yang sudah dimiliki seseorang untuk melakukan berbagai tugas yang dibutuhkan pekerjaan tertentu serta mencakup keahlian dan pengetahuan yang relevan.
Peningkatan kompetensi pegawai pada sebuah organisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu diantaranya adalah melalui partisipasi dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan. Pendidikan pegawai adalah sebuah proses pengembangan sumber daya manusia yang bertujuan untuk memperbaiki kinerja. Dalam pendidikan diberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap, sedangkan dalam kegiatan pelatihan bertujuan untuk memperoleh keterampilan agar seorangpegawai mampu meningkatkan kinerjanya dalam organisasi.
2. RUMUSAN MASALAH
Dengan melihat kondisi sumber daya manusia yang telah dipaparkan di atas dan sejalan dengan tuntutan untuk mengadakan perbaikan serta perubahan yang berlangsung cepat, dibutuhkan pegawai yang berpengetahuan, berpendidikan tinggi, mampu menyesuaikan diri (adaptasi) dengan perubahan dan bidang pekerjaan yang makin kompleks dan berkembang seiring dinamika yang ada, untuk itu penulis mengemukakan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Apakah ada hubungan antara pendidikan terhadap kompetensi Pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat?
2. Apakah ada hubungan antara pelatihan terhadap kompetensi Pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat?
3. Apakah ada hubungan antara pendidikan dan pelatihan terhadap kompetensi Pegawai pada Dinas Pendidikan Barat dalam pelaksanaan terhadap masyarakat?
3. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dilakukannya penulisan ini adalah:
1. Mengetahui apakah ada hubungan antara pendidikan dengan kompetensi pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat.
2. Mengetahui apakah ada hubungan antara pelatihan dengan kompetensi pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat.
3. Mengetahui apakah ada hubungan antara pendidikan dan pelatihan dengan kompetensi pegawai pada Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan pelayanan terhadap masyarakat.
4. MANFAAT PENULISAN
Manfaat dilakukannya penulisan ini adalah:
1. Secara akademis sebagai bahan masukan yang didapat dari kajian literatur ilmiah bagi instansi terkait tentang pentingnya peningkatan kompetensi Pegawai Dinas Pendidikan melalui pendidikan dan pelatihan.
2. Sebagai bahan masukan yang dapat dimanfaatkan oleh penulis selanjutnya untuk dikembangkan dalam penulisan makalah.
3. Menambah wawasan penulis dalam mengembangkan sumber daya manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
1. TEORI-TEORI YANG DIGUNAKAN
Dalam mengembangkan kemampuan, kecekatan dan keahlian para pegawai dinas, diperlukan pemberian pendidikan dan pelatihan / diklat yang disuaikan dengan bidang kerjanya. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa cara atau metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan pegawai dinas :
1. Magang / Apprenticeship Training
Magang adalah suatu pembekalan pegawai baru dengan cara belajar langsung dengan senior dan diawasi oleh para pakar atau ahlinya. Untuk mendapatkan skill yang sama dengan masternya dibutuhkan waktu yang relatif cukup lama.
2. Learning By Doing / On The Job Training / Bekerja Sambil Belajar
On the job training adalah suatu bentuk pembekalan yang dapat mempercepat proses pemindahan pengetahuan dan pengalaman kerja / transfer knowledge dan para karyawan senior ke junior. Pelatihan ini langsung menerjunkan pegawai dinas bekerja sesuai dengan job description / jobdesc masing-masing di bawah supervisi / pengawasan penyelia atau pegawai senior.
3. Vestibule Training
Vestibule training adalah memberikan pelatihan semacam kursus yang dijalankan di luar lingkungan kerja. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan pada kursus tersebut tidak jauh berbeda dengan pekerjaan yang nantinya akan digeluti oleh para peserta.
2. PRINSIP-PRINSIP
Dalam arah reformasi birokrasi PNS dalam mewujudkan Good Governance perlu dimulai dari CPNS sebelum menjadi pegawai negeri penuh 100 %. Negara memang mengharapkan potensi PNS yang diinginkan dalam Good Governance dalam prinsip dan karakteristiknya. Posisi Diklat disini sangat strategis untuk menciptakan PNS yang diharapkan oleh negara sedangkan saat ini banyak rintangan menjadikan PNS tersebut sebagai seorang yang profesional seperti masalah budaya lama birokrasi yang merupakan peninggalan masa lalu.
Proses untuk membangun PNS yang berprofesional memang sedang berlangsung saat ini, terutama pada lembaga-lembaga seperti Badan Diklat selalu menyusun program pembelajaran dengan materi-materi baru yang merupakan pengetahuan dan wawasan
Selain dilembaga diklat, maka dilembaga struktural seperti Dinas/instansi juga harus menyikapi hal yang sama dalam pembinaan kepegawaian dalam kedinasan dilapangan. Masalahnya bila terjadi dilingkungan kerja, kegiatan PNS yang tidak menjurus kepada hal-hal yang bertentangan dengan upaya mewujudkan Good Governance yang merupakan budaya kerja lama yang harus dirobah/direformasi, terutama oleh CPNS yang akan menjadi PNS melalui pendidikan dan pelatihan prajabatan seperti sekarang ini.
Prinsip-prinsip Good Governance yang perlu diikuti oleh setiap PNS adalah antara lain; partisipasi, supremasi hukum, transparansi, tepat tanggap (responsible), konsensus, kesederajatan (equity), efektif dan efisien, akuntabiliti dan visi kedepan.
Kompetensi diklat secara umum mencakup 3 (tiga) ranah dasar, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap dan prilaku) dan Psikomotorik (keterampilan). Salah satu kompetensi diklat terletak pada kata kunci menerapkan, atau aplikasi yang mengindikasikan tingkat pengetahuan, alternatif strategi ke dalam tugas dan pekerjaan. Oleh karena itu proses belajar dalam agenda kegiatan diklat tidak hanya berupa penyajian informasi tetapi selalu dipadukan dengan kegiatan diskusi, penulisan kertas kerja, studi kasus dan pengenalan kondisi internal maupun eksternal lingkungan kerja serta kesadaran untuk melakukan perubahan sikap. Khusus mengenai strategi pembelajaran, tetap menganut prinsip-prinsip bahwa Diklat dirancang untuk tujuan tertentu, dapat diukur, dapat dicapai, sesuai kebutuhan dan sesuai dengan alokasi waktu dan dana yang tersedia.
3. LANGKAH LANGKAH PEMECAHAN MASALAH
Dalam mewujudkan pegawai yang profesional dibutuhkan banyak unsur yang memungkinkan seperti; lingkungan kerja, organisasi kerja (team work), lembaga diklat dengan perencanaan dan kurikulum suatu kompetensi widyaiswara. Keberadaan widyaiswara memang diperlukan pembentukan aparatur PNS yang profesional sesuai dengan tuntutan negara. Kepada widyisawara memang dituntut kualitas penyelenggaraan dikat sesuai dengan kompetensi Widyaiswara karena sekarang jabatan fungsional widyaiswara sudah semakin baik dalam jabatan fungsional lainnya. Widyaiswara sebagai unsur pendidik, pelatih dan pengajar aparatur juga dituntut sebagai fasilitator, imanisator, motivator, peneliti, konsultan, manager kelas yang profesional.
Untuk memperoleh profesional tersebut widyaiswara juga harus mampu belajar dan bekerja keras dalam berbidang-bidang keilmuan dan pengetahuan serta mengikuti pendidikan dan pelatihan secara khusus (TOT/Training of Trainer) sesuai dengan pembentukan pola teknis PNS yang diharapkan oleh negara.
Adapun langkah-langkah yang di ambil untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan pelatihan seperti berikut:
A. Bidang Diklat Struktural
1) Diklat Kepemimpinan
Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan para pejabat struktural, target group yaitu pejabat atau calon pejabat struktural berdasarkan strata manajemen yang dipangkunya.
Diklat kepemimpinan meliputi :
• Diklat Kepemimpinan Tingkat IV;
• Diklat Kepemimpinan Tingkat III;
• Diklat Kepemimpinan Tingkat II;
• Diklat Kepemimpinan Tingkat I.
2) Diklat Prajabatan :
Bertujuan untuk mengisi kompetensi dasar dalam rangka pembentukan wawasan, sikap dan kepribadian CPNS, serta merupakan salah satu syarat bagi CPNS untuk diangkat menjadi PNS.
Grade untuk diklat Prajabatan ini adalah :
• Diklat Prajabatan Golongan I;
• Diklat Prajabatan Golongan II;
• Diklat Prajabatan Golongan III.
B. Bidang Diklat Fungsional
Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan para pejabat fungsional dalam melaksanakan tugasnya secara professional dan dapat menjadi persyaratan bagi Pegawai Negeri Sipil yang akan dan telah menduduki Jabatan fungsional.
C. Bidang Diklat Teknis
Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan teknis penyelenggaraan kegiatan dalam mengelola urusan-urusan pemerintahan yang bersifat teknis, baik teknis administratif maupun teknis substantif. Diklat Teknis dikembangkan berdasarkan kebutuhan masing-masing Daerah Otonom.
D. Bidang Diklat Manajemen Pemerintahan
Kegiatan Diklat Manajemen Pemerintahan dimaksudkan untuk pembentukan kemampuan mengelola kegiatan dan urusan pemeritahan bagi para Pejabat Eksekutif, Pejabat Negara dan Unsur Legislatif. Termasuk dalam rumpun ini adalah pembentukan kader pemerintahan melalui IPDN/IIP serta kerjasama dengan Perguruan Tinggi Negeri dalam hal tugas belajar dan ijin belajar.
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Dengan kondisi sumber daya manusia seperti saat ini, secara tidak langsung akan dapat berpengaruh terhadap kinerja dinas pendidikan. Oleh karenanya perlu ada upaya agar Pegawai Dinas Pendidikan Kota Padang dapat dan mampu berfikir kreatif dengan keterbatasan yang ada, menemukan hal-hal yang baru (inovatif), tidak hanya menunggu pekerjaan (proaktif), bekerja sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang ditetapkan (sistematik), berdaya guna dan berhasil guna (efektif dan efisien) serta dapat bekerja dengan cepat, tepat, ekonomis dan hasil yang maksimal sepeti dikemukakan oleh Kasim (1998:54): “harus senantiasa melakukan penyeusaian dan harus ada inovasi sesuai kecenderungan perubahan sifat dan hakekat pekerjaan”.
2. SARAN
Dengan di adakan pendidikan dan latihan pada pegawai dinas yang baru di harapkan dapat meningkatkan kompetensi kerja para pegawai sehingga pegawai dapat berkerja sebagaimana mestinya dan dapat embawa perubahan yang baik bagi segenap masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Atmodiwiro. Soebagio. 2002. Manajemen Pelatihan. Ardadizya jaya. Jakarta.
Notoatmodjo. Soekidjo. 2003. Pengembangan Sumber Daya Manusia. PT. Rineka Cipta .Jakarta.
http://docstoc.asterpix.com/cy/2422251/?q=Prinsip-Prinsip+Diklat (diakses tanggal 11 juni 2010)
http://www.google.com.pendidikan dan pelatihan pegawai dinas.html.org ( diakses tanggal 15 juni 2010)
http://www.google.com.Strategi_Pendidikan_dan_pelatihan_Nasional_berorientasi_Masa_Depan.wiki.org. ( diakses tanggal 15 juni 2010)
Langganan:
Postingan (Atom)